logo SUARA MERDEKA
Line
Kamis, 31 Maret 2005 WACANA
Line

tajuk rencana

Tarekat Memperpendek Jarak Agama - Umat

- Seberapa besar sebenarnya sumbangan tarekat dalam konteks kehidupan berbangsa dan bernegara? Pendapat Prof Dr Amin Syukur, dosen Pascasarjana IAIN Walisongo dapat menjadi rujukan untuk melihat posisi penting tarekat. Inilah jalan pembimbing seseorang agar menjadi apa saja yang berguna dalam masyarakat: pemimpin, pedagang, tukang, petani, pegawai, atau pendidik. Tasawuf berperilaku mencerminkan akhlak Islam, menjunjung tinggi kemuliaan dan keluhuran budi pekerti dalam pekerjaan, sehingga pengikut tarekat harus ikut aktif membangun masyarakat, bangsa dan negara. Dalam model tampilan sekarang, bertarekatlah dengan masuk di tengah percaturan politik dan kekuasaan, sebab menjauhinya justru bisa menunjukkan ketidakberdayaan dan kelemahan.

- Harapan arif disampaikan oleh Uskup MGR Yulianus Sunarka dari Keuskupan Purwokerto terhadap Muktamar X Jamiyyah Ahlith Thariqah Almu'tabarah An Nahdliyyah yang baru saja berlangsung di Kajen, Kabupaten Pekalongan. Sebagai umat nonmuslim, dia merasa terkesan sebab kegiatan tarekat bisa memperkuat iman yang sangat bermanfaat bagi pembangunan di Indonesia. Juga membangun semangat umat untuk hidup dalam kedamaian dan keadilan. Sunarka lebih jauh mengharapkan kegiatan itu dapat meningkatkan kesadaran bertoleransi menghadapi pluralitas kebudayaan, sehingga terwujud kehidupan yang adil dan sejahtera. Kita menyambut harapan besar itu dengan menempatkan tarekat sebagai bagian dari upaya manusia untuk menuju keluhuran budi pekerti.

- Tersiratlah "pertemuan" antara semangat spiritualitas dengan aktualisasi keluhuran budi pekerti dalam hiruk-pikuk kehidupan manusia. Pertemuan itu bermakna pertautan antara nilai-nilai agama dengan konteks keumatan. Yakni bagaimana kesalehan pribadi yang dibentuk berdasarkan spirit spiritualitas, mampu memberi kontribusi bagi kemanusiaan, kemaslahatan, dan kemasyarakatan. Bagaimana kesalehan pribadi disumbangkan menjadi kesalehan sosial. Dalam istilah Ketua PBNU Hasyim Muzadi, makin beratnya beban hidup sekarang, membutuhkan bukan hanya orang baik, tetapi juga orang yang bisa memperbaiki lingkungannya. Konteksnya, para ahli tarekat dipercaya memperpendek jarak antara ajaran Islam dengan perilaku umat yang kebanyakan masih jauh dari ajaran agama.

- Lalu bagaimana semangat kedamaian diaktualisasikan? Barang tentu dengan mempertinggi kualitas kesalehan individual yang mampu memberi pencerahan ke dalam spektrum kesalehan sosial. Dengan kehidupan yang menuntut kemampuan berinteraksi dalam ruang hidup plural, spirit bertoleransi jelas tidak mungkin ditawar-tawar. Antara lain dengan mempertinggi mutu silaturahmi. Tetapi itu pun tidak cukup karena interaksi dalam kehidupan yang plural juga menyangkut pranata sosial dalam berbagai bidang. Jadi persoalannya adalah bagaimana memperpendek jarak antara yang ideal dengan yang aktual menjadi fakta-fakta perilaku sosial. Benang merahnya dapat dilihat dari harapan besar kepada tarekat, dengan upaya-upaya untuk mengurai beban hidup masyarakat sekarang.

- Membangun bangsa jelas memerlukan keterpaduan pandangan, sikap, dan langkah. Kita dituntut bahu membahu menghela masyarakat dari kubangan krisis. Maka dibutuhkan kolektivitas dalam menyikapi masalah, dengan tidak mematikan api pluralitas pandangan. Komitmenlah yang kita butuhkan. Mengapa Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mempertegas kembali perang melawan korupsi di hadapan muktamirin tarekat, karena dia membutuhkan dukungan kesamaan visi dari kalangan yang berbeda-beda. Mengapa Jaksa Agung Abdul Rahman Saleh juga melakukannya, karena jelas dia membutuhkan kerangka pikir yang sama. Kita memberi dukungan kepada kekuasaan untuk ikut menjaga agar kekuasaan itu dimaksimalisasi bagi sebesar-besar kemaslahatan rakyat.

- Akhirnya kita berharap serapan nilai-nilai ketarekatan mampu menjadi penyumbang penting untuk mendekatkan spirit keagamaan dengan spirit kemasyarakatan yang berlandaskan budi pekerti dan semangat kedamaian. Melalui contoh kiprah Nabi Muhammad, dari muktamar di Pekalongan digambarkan kerangka tasawuf yang sekiranya cocok dikembangkan di Indonesia. Dalam istilah Tasawuf Muhammadi, konsepnya adalah Muhammad tidak hanya membangun spiritualitas umatnya, tetapi juga membangun bangsa dan negara. Nabi menunjukkan, mendekati Allah juga harus dengan berkarya dalam masyarakat, peduli terhadap kaum du'afa dan mustad'afin, serta melakukan amar ma'ruf nahi munkar. Dalam konteks inilah kita bicara keadilan dan kesejahteraan.


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA