logo SUARA MERDEKA
Line
Kamis, 31 Maret 2005 NASIONAL
Line

Guruh Tak Setuju Pembentukan PDI-P Tandingan

DENPASAR - Guruh Soekarnoputro menyatakan tidak setuju atas wacana yang berkembang mengenai kongres PDI-P tandingan atau pembentukan PDI-P Pembaruan. ''Saya pribadi tidak setuju wacana tersebut, sejak awal saya hindari perpecahan di tubuh PDI-P. Sebab PDI-P itu sudah besar. Jangan karena kongres, kemudian PDI-P menjadi pecah,'' katanya dalam jumpa pers di Denpasar, Rabu kemarin.

Dia menjelaskan, soal yang terjadi di kongres apakah itu sah, demokratis, atau tidak, sebaiknya diserahkan kepada jalur-jalur yang benar sebagai negara hukum, misalnya melalui pengadilan. ''Saya inginkan PDI-P tetap utuh, walaupun saya belum berhasil apakah saya berada di dalam atau di luar tidak apa-apa. Saya akan tetap berjuang demi tegaknya demokrasi,'' tambahnya.

Adik kandung Megawati itu mengatakan, para utusan yang datang ke kongres juga tidak ada maksud untuk membuat PDI-P tandingan. ''Kita tidak perlu membakar lumbung karena ada seekor tikus,'' ujarnya.

Guruh menyatakan turut merasakan apa yang dirasakan oleh teman-temannya bahwa ada beberapa hal dalam kongres yang salah, seperti soal one man one vote yang melanggar AD/ART Pasal 21. Dalam pasal itu disebutkan bahwa setiap utusan mempunyai hak suara, tetapi ternyata keputusan dilakukan dalam voting block.

''Tentu saja konstelasi yang mendukung saya menjadi ketua umum berubah. Dukungan yang tadi penuh ke saya, yang seperti saya pernah katakan sebelumnya yakni dari 1.800 utusan, maka sekitar 1.000 utusan di antaranya mendukung saya, tapi dengan sistem voting block ini semuanya menjadi berubah. Karena sekarang dari 1.800 utusan hanya boleh 413 suara, saya tidak tahu tinggal berapa pendukung saya,'' tambahnya.

Tidak Akan Mundur

Kendati demikian, Guruh menyatakan tidak akan mundur, dan apa pun hasilnya, pemilihan ketua umum harus tetap dilakukan secara demokratis. Sebab, katanya, kalau pemilihan dilakukan secara aklamasi berarti 100 persen harus mendukung. Kalau dari 413 itu ada satu yang tidak mendukung, harus tetap dilakukan voting dalam rangka tegaknya demokrasi. ''Saya prihatin, saya menilai kongres ini kurang mencerminkan demokrasi yang justru disandang oleh PDI-P.''

Guruh juga menyatakan telah bertemu dengan Megawati Seokarnoputri bebarapa saat setelah pembukaan kongres dan telah menjelaskan kepada Mega bahwa posisinya dalam maju sebagai kandidat ketua umum jangan disalahpersepsikan. ''Saya tidak ditunggangi ataupun menjadi antek siapa-siapa. Saya berjuang murni, karena saya melihat ada yang tidak beres dalam PDI-P,'' ujarnya.

Saat menjawab pertanyaan bagaimana kalau dia ditawari masuk dalam kepengurusan, Guruh mengatakan, akan berpikir. ''Bisa tidak, bisa juga tidak apa-apa.'' Namun dia menegaskan, kalaupun nanti dipakai dalam struktur DPP, dirinya akan tetap memperjuangkan perubahan dan pembaruan.

Sementara itu, ketika jumpa pers hampir usai, tampak hadir kakak kandung Guruh Soekarnoputro yang lain, yakni Sukmawati. Keduanya sempat berangkulan dan Guruh menilai kedatangan Sukmawati sangat surprise.

Sukma mengatakan, telah mengikuti perkembangan kongres. ''Tapi sebelum kongres, kami sudah mengajak Mas Guruh untuk bersedia menjadi ketua umum PNI Marhaenis, karena saya yakin peluangnya sebagai ketua umum PDI-P sulit, mengingat Mega masih diperlukan di sana,'' katanya.

Saat menanggapi permintaan itu, Guruh hanya menjawab singkat, "Saya pertimbangkan.''

Di tempat terpisah, Ketua Fraksi PDI-P DPR Tjahyo Kumolo mengatakan, sikap Ketua Umum PDI-P Megawati Soekarnoputri yang mempersilakan kader atau simpatisan yang menentang kongres untuk membuat partai baru adalah sesuatu yang harus dipandang sebagai sikap tegas untuk membangun disiplin partai. ''Daripada membuat suasana lain pada proses kongres partai, lebih baik mengekspresikan saja sebagai pemimpin baru, dengan membuat partai baru,'' katanya.

Dikatakannya, kalau dukungan resmi dalam kongres PDI-P tidak ada, seharusnya dihadapi dengan fair. ''Disayangkan figur Laksamana Sukardi yang mengkhianati dan menusuk Ibu Megawati, padahal selama ini Ibu Mega memberikan posisi terhormat kepada Laksamana,'' tambahnya.

Sementara itu, setelah hampir dapat dipastikan Megawati bakal terpilih ketua umum PDI-P periode lima tahun ke depan, isu yang berkembang di arena kongres kini bergeser pada siapa yang bakal menjadi sekjen. Sesuai dengan yang muncul pandangan umum, DPC-DPC dan DPD dari wilayah Indonesia timur mengusulkan dua nama, yakni Jacob Nuwa Wea dan Jacob Mayong Padang.(nas,D10,G7-78t)

Seruduk

Pemulung Panen

KONGRES II PDI-P di Bali, bagi para pemulung, menjadi berkah tersendiri. Sebab di sekitar arena kongres banyak sampah berserakan terutama di sepanjang Jl Hang Tuah Sanur Denpasar, jalan menuju lokasi kongres. Sehari seorang pemulung bisa mengumpulkan sampah sebanyak tiga karung besar. (D10-78t)

Tanpa Catatan

SUASANA pemandangan umum yang melelahkan agaknya digunakan oleh sebagian peserta untuk melontarkan joke atau kelakar, kendati masih dalam konteks substansi. Seorang peserta dari Aceh berusaha singkat dalam menyampaikan pemandangan umumnya, dengan mengatakan, ''Kami menerima pertanggungjawaban DPP dan mencalonkan kembali Ibu Mega sebagai ketua Umum.... tanpa catatan.''(nas-78t)

Hilangkan Jenuh

Untuk menghilangkan rasa jenuh, seorang peserta mencoba ndagel. Dia menyindir tentang sistem pemberian suara di Kongres II PDI-P. "Setuju kalau satu utusan memberikan sepuluh suara, daripada satu DPC satu suara," teriaknya sambil mengetukkan palu. (D10-78t)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA