logo SUARA MERDEKA
Line
Kamis, 31 Maret 2005 NASIONAL
Line

Korban-korban Gempa Nias

Mereka Tidak Berani Tidur di Dalam Rumah


BERHASIL DISELAMATKAN:Tim penyelamat berhasil mengangkat seorang wanita dari antara reruntuhan bangunan yang hancur akibat gempa di Pulau Nias, Rabu (30/3).(55t) - SM/Reuters

GEMPA memang membuat ibu kota Kabupaten Nias, Gunung Sitoli, porak-poranda. Bangunan dan gedung-gedung di jalan-jalan utama di kota itu roboh.

Pemandangan itu masih tampak pada Rabu (30/3). Di Jl Karet, hampir semua gedung, termasuk kantor-kantor pemerintah, luluh lantak. Gedung-gedung bertingkat juga roboh. Hal yang sama juga tampak di Jl Mawar.

Aktivitas masyarakat Gunung Sitoli juga tampak sepi. Jalan-jalan di kota itu hanya dilalui oleh mobil-mobil aparat dan ambulans. Ada juga mobil warga, namun mobil itu juga digunakan untuk evakuasi korban.

Sejumlah warga yang rumahnya selamat dari guncangan gempa, juga tampak berada di luar rumah. Mereka berkumpul di halaman sambil mendirikan tenda.

Mereka tidak berani masuk ke dalam rumah. Bahkan, warga juga turut serta membawa peralatan masak di halaman. Mereka juga tampak memasak di halaman itu.

Listrik masih padam di kota ini. Begitu juga saluran telekomunikasi Telkom masih lumpuh. Kegiatan ekonomi juga relatif tidak tampak, karena toko-toko di kota ini juga hancur terkena gempa.

Aktivitas warga yang tampak hanya evakuasi di reruntuhan bangunan. Sampai saat ini, diperkirakan masih banyak korban di reruntuhan bangunan karena sulit dievakuasi.

Wakapolres Nias Kompol A Nainggolan menyatakan, saat ini sudah dievakuasi 149 mayat. "Untuk sementara, sudah dievakuasi 149 mayat. Sampai sekarang evakuasi tetap berlangsung," jelasnya.

Hingga dua hari setelah gempa, masih banyak jenazah di Gunung Sitoli belum dimakamkan. Proses pemakaman masih menunggu identifikasi dan penjemputan dari keluarga korban.

Di daerah ini setidak-tidaknya ada tiga lokasi penampungan mayat. Di Gereja Santa Maria, Jalan Karet, ditampung sekitar 16 jenazah, dan enam di antaranya baru masuk.

Sebagian mayat itu sudah tampak dikerubungi lalat, dan lilin yang dipasang tidak mampu mengusirnya. Beberapa keluarga korban tampak datang untuk mengenali mayat dan kemudian mengambilnya bila ternyata mayat anggota keluarganya.

Tempat penampungan kedua di Masjid Jami' Ilir, Jl Diponegoro. Di sini tempat penampungan mayat bagi korban yang beragama Islam.

Satu tempat penampungan mayat lagi di sebuah vihara di Jalan Sirao. Di sini juga tampak keluarga korban yang datang untuk mengenali mayat-mayat yang ditampung di tempat ini. Mereka membuka selubung mayat dengan harap-harap cemas, khawatir kalau itu anggota keluarganya. Masyarakat juga mengerubungi beberapa reruntuhan bangunan yang diduga ada korban. Misalnya mengerubungi bangunan ruko di Jalan Karet. Hingga kini proses evakuasi memang masih terhambat. Ini karena minimnya alat berat untuk mengangkat reruntuhan bangunan.

Sementara itu, LP Gunung Sitoli rusak berat. Hingga kini 178 narapidana yang ditahan di LP tersebut tak diketahui nasibnya.

"Kondisi LP rusak parah. Mereka (napi) tak melarikan diri, tapi menyelamatkan diri," kata Kabidpenum Mabes Polri Kombes Pol Zaenuri Lubis di Jakarta. Data yang diterima Mabes Polri, 60 persen bangunan dan fasilitas publik seperti bandara dan jalan-jalan di Gunung Sitoli rusak berat. Sistem komunikasi di wilayah itu juga terputus. Kemudian di Tapanuli Utara, jalur lintas Sumatera putus.

Di Samosir, 1 gedung SD dan 1 gedung SMP rusak berat. Juga Hotel Dainang Panguruan dan Kantor Dinas Perhubungan di daerah itu hancur.

Untuk membantu pemulihan komunikasi yang terputus, Mabes Polri telah mengirim peralatan komunikasi antara lain 14 unit alat komunikasi, 1 unit antena pemancar dan 1 transmiter. Sedangkan untuk membantu pengamanan, Mabes Polri telah menggeser 17 personelnya dari Medan ke Nias.

Mabes Polri juga telah mengirimkan bantuan medis yakni 2 dokter, 5 paramedis, dan obat-obatan. Menurut Zaenuri, akibat gempa itu satu polisi dan 2 anaknya hilang. (dtc-33t)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA