logo SUARA MERDEKA
Line
Kamis, 31 Maret 2005 NASIONAL
Line

50.000 Warga Bertahan di Gunung

  • Pemerintah Targetkan Evakuasi Seminggu

EVAKUASI KORBAN Warga melakukan upaya pencarian korban yang diduga masih berada di antara puing-puing gedung di Gunung Sitoli, Pulau Nias, Rabu (30/3). Upaya pencarian korban mengalami kesulitan, karena keterbatasan peralatan yang dipergunakan. Warga membutuhkan peralatan berat untuk memindahkan puing-puing bangunan. (55)

NIAS- Sekitar 50.000 warga Pulau Simeulue saat ini masih mengungsi ke kawasan pegunungan di pulau tersebut. Sementara untuk evakuasi korban tewas sampai saat ini baru 17 korban yang bisa dievakuasi, yakni dari Kecamatan Simeulue Timur.

"Kondisi lainnya ada tujuh kecamatan belum bisa ditembus karena banyak jalan rusak dan putus," kata Bupati Simeulue Darmili, Rabu (30/3).

Lebih lanjut Darmili mengungkapkan, ada delapan kecamatan di Simeulue rusak cukup berat. "Hampir semua rumah penduduk, kantor pemerintah , sekolah-sekolah hancur, bahkan nyaris rata dengan tanah," ujarnya.

Wartawan Suara Merdeka Agus Wahyudi dari Nias semalam melaporkan, saat ini ada 65 orang yang sedang dirawat karena luka-luka.

Sebanyak 22 di antaranya dirawat inap dan terpaksa dirawat dalam tenda-tenda karena rumah sakit juga runtuh.

Darmili mengatakan, yang mendesak dibutuhkan saat ini adalah makanan, obat-obatan, dan tenda. "Juga alat berat karena masih banyak warga yang tertimpa reruntuhan bangunan," tambahnya.

Untuk evakuasi korban, pemerintah menargetkan akan selesai dalam seminggu. Peralatan berat sudah mulai dikirim dari Sibolga dan Aceh.

"Dalam hitungan hari, katakanlah seminggu, bukan sebulan," kata Wapres Jusuf Kalla yang juga Kepala Bakornas Penanggulangan Bencana dan Penanganan Pengungsi di Istana Wapres.

Sedangkan bantuan peralatan berat seperti ekskavator, menurut dia, baru hari ini didatangkan dari Sibolga dan Aceh, namun baru bisa sampai sekitar satu minggu. Satu batalyon aparat sudah ada di Nias. Menteri Pekerjaan Umum Joko Kirmanto juga sudah ada di Nias.

"Bantuan-bantuan dari Aceh, Medan, dan Jakarta sudah masuk semua. Makanan sudah cukup, Bulog baru saja memberi raskin. Minggu ini akan didatangkan lagi ke Sibolga," kata Kalla.

Dituturkan Kalla, kerusakan di Nias kira-kira 50 persen dari bangunan-bangunan bertingkat dan bangunan-bangunan beton.

Korban manusia kurang lebih 300 orang, diperkirakan lebih dari 1.000 sampai 2.000 orang akan ditemukan karena masih banyak yang terdapat puing-puing dan yang belum ditemukan. Kemudian di beberapa pulau kecil, korban juga masih belum dievakuasi.

Jumlah penduduk di Nias hampir 700.000 orang. Di Gunung Sitoli kurang lebih 20.000 orang. Skala kerusakannya, kalau gempa yang sekarang terjadi, korbannya lebih banyak di gedung-gedung atau di bangunan beton. Kebetulan kejadiannya pukul sebelas malam dan orang-orang sedang tidak berada di kantor.

Diperkirakan rumah-rumah bertingkat rusak dan banyak korban. Di pesisir, rumah yang dari kayu aman. Ini berbeda saat tsunami, banyak rumah kayu yang menjadi korban.

Kota Teluk Dalam, Nias Selatan, juga rusak parah. Diperkirakan ada 100 korban tewas. Sampai pukul 15.00 WIB, Rabu (30/3), sudah 43 jenazah yang dievakuasi.

Dinas Kesehatan Sumatera Utara telah menunjuk 11 rumah sakit untuk merawat korban luka-luka.

Departemen Kesehatan mengkhawatirkan berjangkitnya wabah diare, infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), demam berdarah dengue, dan malaria.

Kekhawatiran ini disampaikan Direktur Pelayanan Medik dan Gizi Dasar Departemen Kesehatan Ratna Rosita.

Menurut Ratna, penyakit-penyakit tersebut dapat muncul bila ada kondisi lingkungan yang tidak saniter yang sangat mungkin terjadi pascabencana.

Namun, menurut Ratna, Depkes masih menunggu laporan hasil tim surveyllance dan tim rapid need assessment yang sedang di Nias untuk mengetahui lebih lanjut tentang ancaman wabah penyakit.

Tolak Dirawat

Sebuah posko kesehatan darurat kini didirikan di Lapangan Bola Pelita Gunung Sitoli, Nias. Hal ini untuk meningkatkan pelayanan kesehatan, karena banyak korban menolak dirawat di luar Gunung Sitoli.

Penolakan para korban luka untuk dirawat di luar Gunung Sitoli ini disampaikan Gubernur Sumatera Utara Tengku Rizal Nurdin.

Padahal, melihat kondisinya, banyak korban yang seharusnya dirawat setidak-tidaknya di Rumah Sakit Umum Ferdinand Lumban Tobing di Kota Sibolga.

"Sebetulnya dari sisi transportasi kita punya banyak helikopter untuk membawa mereka ke Sibolga atau Medan. Tapi mereka banyak yang tidak mau," kata Nurdin.

Untuk mengatasi masalah ini, menurut Nurdin, pihaknya mengharapkan tenaga medis di Gunung Sitoli diperbanyak. Dengan tambahan bantuan tenaga medis, ratusan korban luka bisa ditangani di Gunung Sitoli.

Posko kesehatan yang didirikan di lapangan bola merupakan alih fungsi dari sebuah bangunan sekolah. Sifatnya yang darurat bisa dilihat dari penggunaan gagang sapu dan kayu untuk menyangga botol bagi para korban yang dirawat di tempat ini.

Ketua DPR RI, Agung Laksono meminta kepada pemerintah dan aparat terkait untuk secepatnya memberi bantuan bagi para korban bencana gempa bumi di Nias.

Dia setuju atas langkah pemerintah menetapkan status tanggap darurat terhadap penanggulangan bencana gempa bumi tersebut.

"Saya setuju dengan status tanggap darurat. Akan tetapi , yang terpenting adalah memberi pertolongan yang secepatnya kepada korban. Pertolongan pertama yang harus dilakukan adalah dengan mendata dan mengevakuasi korban, dan bantuan yang diberikan tidak sampai terlambat," katanya.

Menurut rencana dia dan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono akan meninjau langsung lokasi gempa.(yud,di,dtc-33t)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA