| Kamis, 31 Maret 2005 | SEMARANG |
Disnak Temukan Penyakit Baru Babi
UNGARAN - Dinas Peternakan dan Perikanan (Disnak) Kabupaten Semarang beberapa hari lalu menemukan penyakit aneh dan tergolong virus baru yang mengakibatkan kematian ternak babi. Dalam sebulan terakhir terdapat ratusan ekor babi yang mati. Hal itu disampaikan Kepala Disnak Ir Bambang Tri Wahono MM melalui Kabid Kesehatan Hewan drh Bambang Sutrisno kemarin. "Memang tidak sekaligus ratusan babi yang mati, namun secara bertahap," kata Bambang Sutrisno. Pihaknya telah menurunkan tim untuk mengambil sampel darah pada babi yang terjangkit penyakit aneh tersebut di seluruh usaha ternak babi di Getasan. Sekadar catatan di kecamatan tersebut terdapat setidaknya 18 usaha ternak babi. "Kami mendapat laporan dari petugas di lapangan bahwa beberapa hari lalu petugas kami menemukan penyakit aneh yang mematikan itu," ujarnya. Sampel darah tersebut rencananya akan diperiksa di Laboratorium Balai Besar Veteriner di Wates, Yogyakarta. Lebih lanjut Bambang Sutrisno menjelaskan ciri-ciri penyakit tersebut adalah bintik-bintik merah pada kaki dan leher. Menurutnya, penyakit tersebut menyerang pada babi dewasa dan anak. "Selain itu tanda-tanda lainnya adalah gangguan pada pencernaan yang disertai berak darah," paparnya. Pada peternakan babi milik Tarmujin di Dusun Kembang, Desa Kembang, Kecamatan Getasan setidaknya 90-an ekor babi mati dalam sebulan terakhir. Sementara peternakannya di Dusun Bagongan, Desa Tolokan, Kecamatan Getasan penyakit tersebut belum begitu parah. Lemas Ngadimin yang ditugasi sebagai pengawas di usaha ternak di bawah bendera PT Alam Jaya itu mengatakan selama sebulan terakhir terdapat 20 ekor babi yang mati. "Sebulan ini 20 ekor babi yang mati. Bahkan, beberapa saat lalu pernah mencapai 80 ekor yang mati. Tanda-tandanya pucat, pernapasan terganggu, dan badannya lemas yang disertai berak darah. Namun tidak ada tanda-tanda bercak merah," tuturnya. Di usaha peternakan tersebut terdapat 2.500 ekor babi dewasa dan sedang. Menurutnya penyakit tersebut biasa muncul pada pergantian musim. "Setelah musim kemarau terus hujan biasanya banyak ternak yang mati." Berbeda dengan milik Tarmujin, Junaidi Santoso pemilik ternak babi di Dusun Gewon Desa Tolokan mengaku penyakit aneh mematikan tersebut belum menjangkiti ternaknya yang berjumlah 1.500 ekor. "Belum ada sampai ratusan yang meninggal. Paling-paling dalam sebulan 1 atau 2 ekor saja," akunya.(rny-84) |