| Kamis, 31 Maret 2005 | SEMARANG |
Kelenteng Gedongbatu Terus BerbenahWAJAH para hadirin terlihat lega, saat melihat puak pwee yang dilempar Ketua Yayasan Kelenteng Gedongbatu Semarang Priyambudi jatuh ke lantai dalam posisi berlawanan, satu telungkup, satu telentang. Mereka percaya, itu isyarat persetujuan dewa atas ikhtiar yang dilakukan. Ritus lempar puak pwee dilakukan untuk menandai renovasi kijing Kiai Jurumudi Dampo Awang di dalam kompleks kelenteng terbesar di Kota Semarang itu, Rabu (30/3) siang. Ritus kecil memang, tapi sejatinya itu bagian dari pekerjaan besar revitalisasi kelenteng untuk menyambut peringatan 600 tahun kedatangan Laksamana Ceng Ho (Sam Po Tay Djien) di Semarang. Ya, untuk merayakan hari bersejarah itu, pihak pengurus kelenteng tak main-main. Selain makam juru mudi Dampo Awang, revitalisasi tahap awal juga dilakukan dengan pembangunan penginapan dan bangunan utama kelenteng. Empat bulan menjelang peringatan, pengerjaan bangunan-bangunan tersebut telah mencapai 70%. Meski dipenuhi besi-besi steger, bangunan utama kelenteng sudah terlihat kemegahannya. Gedung bergaya Tiongkok itu menjulang dengan dominasi warna merah dan hijau muda. Puluhan pekerja sibuk menyelesaikan pembangunannya. Sebagian mengerjakan konstruksi, yang lain menuntaskan ornamen-ornamen pemanis, seperti relief perjalanan muhibah Sam Po Tay Djien ke sejumlah negara. Relief sepanjang 50x3 m2 itu dikerjakan oleh puluhan seniman yang khusus didatangkan dari Gianyar, Bali. Sementara bangunan penginapan berlantai 4 berkapasitas 100 orang itu juga telah tegak berdiri. Meski belum sesempurna bangunan kelenteng utama, namun tetap diupayakan selesai sebelum hari H perayaan. ''Penginapan itu disediakan gratis untuk para tamu yang datang dari luar kota. Di situ nanti akan dilengkapi dengan MCK,'' jelas Wakil Ketua Panitia Perayaan 600 Tahun Kedatangan Laksamana Ceng Ho di Semarang Chandra Budi Atmaja, kemarin. Tentu saja, perayaan akbar tersebut tak semata-mata ditandai dengan upaya revitalisasi kompleks kelenteng. Panitia juga telah menyiapkan serangkaian agenda acara selama empat hari, 1-4 Agustus. Meski belum matang betul, Chandra menyebutkan beberapa di antaranya, seperti pentas kesenian, festival lampion, ritus persembahyangan, serta arak-arakan Sam Po Besar dari Kelenteng Tay Kak Sie, Gang Lombok menuju Kelenteng Gedongbatu. Selain itu, kegiatan berskala internasional itu juga dimeriahkan dengan pameran seni budaya dan perdagangan. Masih ada lagi, yakni pamer replika kapal Ceng Ho dari China dan benda-benda bersejarah yang terkait dengan masa hidup laksamana besar itu dari berbagai penjuru dunia, serta seminar. Menurut rencana, kegiatan dilaksanakan di Kompleks PRPP. ''Untuk acara peresmian, pameran dan seminar dilaksanakan oleh panitia khusus dari Provinsi, '' imbuh Chandra.(Rukardi-73) |