logo SUARA MERDEKA
Line
Kamis, 31 Maret 2005 SEMARANG
Line

PKL Citarum Enggan Tempati Pasar Waru

SEMARANG-Para pedagang kaki lima (PKL) yang berjualan di sepanjang Jalan Citarum mengaku enggan menempati kios-kios di Pasar Waru. Para pedagang itu bimbang lantaran fasilitas Pasar Waru masih minim. Jalan menuju pasar misalnya, belum banyak dilalui angkutan umum. Hal itu membuat pedagang khawatir, bila dipindahkan dagangan tidak laku.

Seorang pedagang, Kasno Budiman mengaku lebih senang jika Pemkot menyediakan lahan untuk PKL Citarum. Sebab selama ini, pedagang yang berjualan di pinggir jalan sering terkena operasi yustisi. Penjual barang loakan itu mengaku lebih lega jika ada pasar khusus bagi PKL. ''Daripada dipindahkan ke lorong-lorong atau gang kampung, lebih baik dibikinkan pasar. Kalau berjualan di pasar, kami tak perlu lagi khawatir digusur,'' katanya.

Namun, Kasno meminta Pemkot tegas. Jangan sampai setelah PKL Citarum pindah lokasi lain, tempat itu justru dihuni PKL baru. Pedagang yang sudah lima tahun berjualan barang loakan ini mengaku warga asli Semarang. Dia terpaksa berjualan barang loak, karena terkena PHK saat krisis moneter menghantam Indonesia.

Pedagang lain, Kasdi berpendapat serupa. Penjual pesawat telepon bekas itu bersedia pindah asal rekan-rekan sesama PKL turut pindah.

Mantan pengusaha tas asal Kampung Ledui, Jl MT Haryono itu menyatakan tidak keberatan jika pedagang diminta membersihkan saluran.

Kasdi mengaku sudah mendengar rencana Pemkot menormalisasi saluran Citarum. Akibat normalisasi itu, pedagang Citarum diminta pindah ke Bugangan. ''Pedagang di sini sebenarnya tidak keberatan jika diminta bekerja bakti membersihkan saluran,'' katanya.

Kasdi mengaku masih pikir-pikir jika harus dipindah ke Pasar Waru. Pemindahan pedagang, kata dia tidak bisa dilakukan dengan serta merta. Apalagi fasilitas di Pasar Waru belum lengkap. ''Banyak pembelinya, anak-anak sekolah atau orang-orang kalangan bawah. Kalau kami tetap di Citarum, pembeli cukup naik angkutan umum. Kalau di Pasar Waru apa ada angkutan umum?'' tanya dia.

Sejumlah PKL justru mengusulkan agar pembersihan saluran dilakukan secara bertahap. Salah seorang ketua kelompok PKL, Lanmurti mengatakan, pedagang tak keberatan "libur" beberapa hari secara bergiliran. Asal masih diizinkan berjualan di tempat itu. Kalau dipindah di Pasar Waru, dia mengatakan sedang membahas dengan teman-temannya. Sebab pemindahan pedagang berkaitan dengan urusan perut yang tak dapat ditunda-tunda. (H5-64)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA