| Kamis, 31 Maret 2005 | SEMARANG |
Longsor di Mugas Dua Rumah RusakSEMARANG SELATAN-Musibah longsor, Selasa (29/3) malam terjadi di perbukitan Jalan Mugas Dalam, Kelurahan Mugasari, Kecamatan Semarang Selatan. Tidak ada korban jiwa dalam musibah itu, namun sedikitnya 2 rumah mengalami kerusakan. Rukin (72) warga Jalan Mugas Dalam No. 11 mengatakan, malam itu dia mendengar suara-suara retakan di bagian belakang rumah. Dia segera menuju ke arah suara itu, dan melihat talud rumah milik Kamdiyah (37) yang juga tetangga sebelah rumah sudah mengembung. Melihat kejadian itu, dia langsung berteriak-teriak memperingatkan warga yang tinggal di bagian bawah tebing setinggi lebih kurang 10 meter itu. ''Awas longsor, awas longsor,'' kata dia. Ternyata kekhawatiran itu kemudian benar-benar terjadi. Talud itu ambrol dan nyaris menimpa rumah milik Suhartono (45) yang berada tepat di bawahnya. Meski tidak sampai merusak bangunan rumah, kejadian itu menyebabkan Suhartono pingsan. Saat kejadian, dia tengah memeriksa talud rumah Kamdiyah yang hampir longsor dari belakang rumahnya. Hal itu dilakukan, karena diberi tahu salah seorang tetangga. Baru beberapa saat melihat-lihat, tiba-tiba terdengar suara longsoran. Dia serta-merta masuk ke dalam rumah. Namun karena tergesa-gesa, kakinya tersandung bagian bawah pintu. Suhartono terjatuh dan pingsan. Menurut dia, musibah longsor itu bukan diakibatkan kondisi tanah yang labil, melainkan talud yang rapuh. Tanah di kawasan itu berupa padas. Bagian yang longsor adalah tanah urugan. Meski longsor susulan kemungkinan masih terjadi, keluarga Suhartono masih bertahan tinggal di rumahnya. Namun dia berharap talud yang longsor segera diperbaiki. Kamdiyah, (37), pemilik rumah itu juga memberikan penuturan serupa. Dia mengaku tidak tahu, apakah bagian yang longsor itu lahan hasil urugan. Namun menurut pengamatan, tanah di bagian itu cukup lunak. Menurut dia, usia rumah itu sudah sekitar 31 tahun. Dibangun sekitar tahun 1974 oleh orang tuanya bernama Prawiro. Sementara Kamdiyah baru tinggal di tempat itu sekitar 19 tahun. Setelah kejadian itu, dia menyatakan tidak berani berada di bagian belakang. Apalagi dia juga sudah mendengar peringatan dari berbagai pihak kalau longsor susulan bisa terjadi. Saat ditanya tentang kerugian akibat peristiwa itu, Kamdiyah maupun Rukin memperkirakan sekitar Rp 25 juta. ''Saya berharap Pemkot mau membantu membiayai pembangunan talud agar longsor tidak terjadi lagi.'' Lurah Mugasari Bambang Suyanto mengatakan, Pemkot akan berusaha membantu warga yang terkena musibah longsor itu. Dia menjelaskan, setidaknya ada 13 rumah di Jalan Mugas Dalam III yang bagian belakangnya rawan longsor. Masing-masing rumah Kamdiyah, Tugiyono, Marsono, Wiwit Triwidiyati, Suhardi, Suwarto, Warsito, Giyono, Saripin, Kastumi, Wakiyem, Sakijo, dan Sukardi. ''Data itu kami bawa ke Dinas Tata Kota dan Permukiman untuk dicari solusinya,'' kata dia. Dia menduga, longsor bukan hanya akibat faktor kemiringan lereng, tetap juga gerusan air. Ada kemungkinan saluran yang melalui bagian barat rumah Kamdiyah bocor, sehingga air masuk ke dalam tanah. Akibatnya beban tanah itu meningkat, sementara pondasi yang ada tidak mampu menahan. ''Ketika mulai menjabat sebagai Lurah Mugasari dua tahun lalu, saya sudah berusaha memperingatkan warga tentang bahaya longsor dan mengimbau mereka membuat talud,'' kata dia. (G6,H6-64) Komentar MasyarakatRukin (72) Saya memang khawatir tinggal di rumah seperti ini. Tapi untuk pindah juga tidak mungkin, karena saya tidak punya rumah lain. Diah Kusumaningrum (19) Sebelum longsor, kami mendengar suara retak-retak dan tiba-tiba bagian belakang rumah itu ambrol. |