logo SUARA MERDEKA
Line
Kamis, 31 Maret 2005 INTERNASIONAL
Line

Lokasi Gempa Tentukan Ada-tidaknya Tsunami

WASHINGTON - Gempa kuat yang mengguncang lepas pantai Sumatra Senin lalu, mungkin tidak menimbulkan tsunami mematikan karena lokasinya dalam dan terjadi secara kebetulan, kata para pakar, Selasa lalu.

Namun mereka menyatakan, ketidakpastian tentang apakah terjadi tsunami setelah gempa berkekuatan 8,7 skala Richter di bawah Samudera Hindia, menunjukkan betapa sedikitnya pengetahuan tentang gempa dan dampak-dampaknya.

''Karena itulah sistem peringatan dini tsunami masih sangat diperlukan untuk kawasan ini,'' kata Jian Lin, pakar geofisika laut di Lembaga Oceanografi Woods Hole di Massachusetts (AS).

Thailand, Sri Lanka, Mauritius, dan India menyerukan waspada tsunami ketika gempa terjadi Senin lalu, namun mencabutnya setelah mengetahui bencana itu hanya menyebabkan tsunami sangat kecil, yang tidak begitu membahayakan garis pantai.

Lebih dari 1.000 orang tewas di Nias, dan pemerintah memperkirakan jumlahnya akan bertambah.

Para pejabat di kawasan Samudera Hindia siap siaga setelah gempa berkekuatan 9,0 skala Richter pada 26 Desember lalu, yang menyebabkan lebih dari 280.000 tewas atau hilang.

Perbedaan Besar

Namun ada perbedaan besar antara gempa berkekuatan 8,7 dan 9,0 skala Richter pada skala logaritma yang digunakan para geolog, jelas Lin.

''Gempa kali ini lebih kecil, meski tergolong kuat,'' katanya dalam wawancara telepon.

''Dan, kami belum tahu kedalaman gempa itu. Jika pusat gempa kali ini ternyata lebih dalam, hal itu sesuai dengan penjelasan ''mengapa tidak terjadi tsunami besar.''

Membutuhkan waktu beberapa hari untuk menganalisa data dari seismograf dan secara akurat menghitung kedalaman dasar lantai samudera tempat pusat gempa, kata Lin.

Survei Geologi AS sebelumnya memperkirakan kedalaman gempa 30 kilometer, atau sekitar 20 mil, namun ada kedalaman default yang belum dihitung secara teliti, lanjutnya.

''Saya kira faktor penting lain dalam gempa kali ini adalah lokasi terjadinya bencana itu,'' tambah Lin.

Episenter gempa Senin lalu adalah sekitar 100 mil (160 km) di sebelah tenggara pusat gempa tiga bulan sebelumnya.

Namun gempa Senin lalu pusatnya jauh di sebelah selatan dan Pulau Sumatera memblokir sebagian besar kekuatan bagi terjadinya tsunami, jelasnya.

Seperti bencana Desember lalu, kejadian Senin lalu itu merupakan gempa thrust fault vertikal, di mana bagian dasar samudera terdorong ke atas oleh lempengan tektonik lain yang berada di bawahnya.

Para pakar seismologi telah memperingatkan gempa kedua di lepas pantai Sumatera akibat meningkatnya tekanan geologi yang disebabkan gempa Desember lalu. Namun tentu tidak bisa memprediksi kapan,'' jelasnya.(rtr-niek-46)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA