logo SUARA MERDEKA
Line
Kamis, 31 Maret 2005 INTERNASIONAL
Line

ANALISIS

Otoriterisme di Kirgiztan

BISHKEK - Kudeta di Kirgiztan telah mengantarkan mantan orang dalam dari rezim lama ke tampuk kekuasaan. Padahal, kebijakan-kebijakan rezim lama tidak jelas dan kepercayaan demokrasinya belum teruji. Hal itu menimbulkan kekhawatiran bahwa mereka mungkin membawa negara kembali ke kekuasaan otoriter.

Langkah oposisi yang merebut kursi pemerintahan selama protes-protes jalan pekan lalu di ibu kota negara Asia Tengah itu, Bishkek, memperparah perasaan tidak puas terhadap korupsi dan kemiskinan yang menandai 14 tahun kekuasaan Presiden Askar Akayev.

Dan para pemimpin baru belum ketinggalan untuk mengadopsi slogan-slogan revolusi tak berdarah, yang menyingkirkan elite-elite yang menerobos masuk di dua negara eks-Soviet lainnya, Ukraina dan Georgia.

Namun, meski pemerintahannya korup, Akayev juga membentuk kelompok yang relatif liberal di satu kawasan eks Uni Soviet, yang didominasi para autokrat. Kelompok itu juga mengawasi pengenalan reformasi ekonomi pasar yang memperoleh pujian Barat.

''Bagi banyak orang, perasaannya adalah 'Kami punya pengalaman dengan intelektual, seseorang yang pada tahun-tahun awal membanggakan dirinya atas kepercayaan demokrasi dan pluralisme yang membantu perkembangan yang dilakukannya -- dan melihat arah yang dituju','' kata Madeleine Reeve, rekan riset dan antropolog di Universitas Amerika di Bishkek.

Hadapi Tantangan

Kubu oposisi, yang bersatu dalam keinginan untuk menggulingkan Akayev, kini menghadapi tantangan mempertahankan stabilitas di negara yang berbeda secara etnik itu.

Dari tiga pemimpin baru paling menonjol -- penjabat Presiden Kurmanbek Bakiyev, Kepala Keamanan Felix Kulov, dan Menlu sementara Roza Otunbayeva -- hanya nama terakhir yang dianggap sebagai demokrat sejati. Bakiyev pernah menjadi PM semasa Akayev; Otunbayeva adalah Dubes PBB.

Kulov, yang dibebaskan dari penjara oleh para pendukungnya saat kudeta berlangsung, adalah mantan kepala dinas keamanan yang berbicara keras yang bangkit lagi dengan mengambil alih tugas polisi dan memulihkan ketertiban setelah perampokan massal dan kerusuhan di Bishkek.

Baik dia maupun Bakiyev sangat berperan di belakang parlemen baru. Mereka memiliki banyak wakil yang kaya dan kuat, yang memberi suap kepada para pemilih dalam pemilu yang cacat. Oposisi baru pekan lalu memprotes pemilihan tersebut.

''Hasil yang mungkin tidak akan berpihak pada kubu liberal,'' kata Reeves. ''Saya kira tidak akan ada tindakan tegas otoriter namun saya kira juga tidak terjadi kerusakan ala Ukrainan yang mempermalukan Barat.''

Di Georgia dan Ukraina, protes-protes terhadap kecurangan pemilu mengantarkan para pemimpin dukungan Barat ke tampuk kekuasaan dalam ''revolusi-revolusi tak berdarah''. Revolusi itu dirasakan di dalam dan luar Rusia sebagai pukulan bagi kedudukannya di negara-negara eks Soviet.

Rusia dan AS memiliki pangkalan udara di Kirgiztan, namun pemilihan dan kudeta gagal mengatasi perseteruan publik antara Washington dan Moskwa.

Kecuali Kulov, yang dipenjara atas tuduhan penggelapan yang menurutnya bermotif politik, beberapa tokoh oposisi top mempertahankan hubungan dengan dua ibu kota negara itu.

Sejumlah pejabat Barat mengatakan mereka berharap bisa melihat penyerahan kekuasaan secara demokrasi dari Akayev ke pemimpin baru pada Oktober mendatang, ketika pemilihan presiden berlangsung. (rtr-niek-46)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA