logo SUARA MERDEKA
Line
Selasa, 29 Maret 2005 SEMARANG
Line

Penjual Kecap yang Tidak Ngecap

BERKUNJUNG ke Kabupaten Grobogan, rasanya belum lengkap bila Anda tidak membeli oleh-oleh kecap cap Udang asli Purwodadi. Betapa tidak? Selain rasanya nikmat, gurih, berprotein tinggi, harganya pun terjangkau.

Bagi warga Grobogan, kecap tersebut sudah tidak asing lagi. Sebab, kecap buatan Ny Oei Hok Hoo (76), warga Jalan Siswa Purwodadi itu, sudah dikenal sejak tahun 1960. Sebelumnya, sekitar tahun 1930, dikenal dengan kecap cap Potret.

Menurut Eniwati (51), putri sulung Ny Oei Hok Hoo, sebelumnya masyarakat Purwodadi dan sekitarnya memang mengenal kecap tersebut dengan merek kecap cap Potret. ''Namun, ayah saya kemudian mengubah merek itu menjadi cap Udang, lantaran terinsipirasi sebuah merek teh,'' katanya.

Dibantu lima karyawannya, Ny Oei Hok Hoo setiap hari memproduksi 480 botol. Cara pengolahannya pun cukup sederhana dan manual. Tanpa menggunakan mesin canggih, seperti layaknya sebuah pabrik.

Di ''pabrik'' hanya terlihat beberapa ember tempat menyimpan bahan baku mulai kedelai hitam, gula, hingga garam. Bahan baku tersebut direbus dalam sebuah wadah berukuran besar berbentuk bundar mirip wajan.

Dia mengaku, untuk membuat kecap sebanyak 480 botol memerlukan 50 kg kedelai, 100 kg gula jawa, dan 10 kg garam.

''Proses pembuatan kecap hingga jadi memerlukan waktu cukup lama, sekitar satu minggu. Sebab, membutuhkan fermentasi (peragian). Selanjutnya, kedelai yang sudah terfermentasi direndam dalam garam,'' ujarnya.

Usai perendaman, lanjut dia, baru mengambil sari kedelai. Sari kedelai itu kemudian dicampur dengan gula jawa, sehingga rasanya menjadi manis (kecap manis).

Kecap tersebut dikemas dalam botol kaca dan botol plastik berukuran 620 ml. ''Harga eceran untuk botol kaca Rp 6.750/botol, sedangkan botol plastik sebesar Rp 7.250/buah,'' tutur Eni yang juga pemilik Toko Wijaya Baru Jl Siswa Purwodadi itu.

Selama kurun waktu 75 tahun, keluarga Oei Hok Hoo yang dibantu Eni, tidak terlalu mempromosikan kecap buatannya seperti produk kecap - kecap yang lain melalui media massa. Namun, masyarakat Grobogan dan sekitarnya, sudah paham mana kecap yang cocok di lidahnya dan yang tak cocok.

Buktinya, meski tidak pernah ngecap (berpromosi sebagai kecap nomor satu), ternyata bisnis ini masih bisa bertahan hingga sekarang. Bahkan, pada hari - hari besar, seperti Hari Raya Idul Fitri maupun Idul Adha permintaan konsumen melonjak hingga tiga kali lipat dari hari biasa.

''Pada hari-hari tersebut permintaan bisa mencapai sekitar 1.500 botol dari produksi normal yang hanya sekitar 480 botol/hari. Untuk melayani pembeli saat hari libur itu, toko kami tetap buka,'' tandas Eni.

Soal rasa, memang sudah diakui para penggemar masak. ''Rasa kecap itu memang enak dan tidak kalah dengan yang kecap-kecap yang dipromosikan di media-media,'' ujar Ny Ika Kusuma Pratiwi (24), warga Desa Depok, Kecamatan Toroh, Grobogan.

Istri pegawai swasta itu, saban harinya mengaku menghidangkan aneka masakan berkecap. Untuk itu, dia memilih kecap cap Udang.

Tak jarang bila saudaranya dari luar kota berkunjung ke rumahnya, dia memberi kecap itu sebagai buah tangan. (Aris Mulyawan-91)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA