logo SUARA MERDEKA
Line
Jumat, 18 Maret 2005 SALA
Line

Totalitas Ki H Manteb Soedarsono (2)

Laku Ngedan Menjadikan Dalang Ternama

OJO maneh mung mlaku adoh, dadi wong edan wae wis tau tak lakoni. Klambrangan turut dalan, dadi kere sing kalunta-lunta. Ora mung kuwi wae, wektu semana malah uga nganggo dipisuhi lan digebuki wong akeh merga aku dikira maling.

Itu adalah sebuah pengalaman pahit yang pernah menimpa Ki Manteb Soedarsono. Pengalaman tersebut mungkin tak akan terjadi seandainya tak ada tekad yang begitu menggebu kala dia telah memutuskan ingin menjadi seorang dalang.

"Bertingkah seperti orang gila itu saya lakukan karena ibu melarang saya menjadi seorang dalang. Larangan itu jelas membuat saya kalut hingga karena pikiran putek akhirnya saya klambrangan ora karuan," paparnya menjelaskan alasan tentang laku ngedan yang dijalaninya.

Meski bagi orang lain hal itu mungkin dianggap terlalu berlebihan, bagi Ki Manteb, hal itu di antaranya menjadi gambaran dari totalitasnya. Ketika dia sudah serius maka dia pun tak ingin ada yang menghalangi. Bahkan orang tuanya sekalipun.

"Namun justru dengan laku ngedan itu, ibu saya malah jadi mengerti. Betapa saya memang bersungguh-sungguh ketika sudah berniat dan memutuskan ingin melakukan sesuatu," tuturnya.

Pengalaman pahit itu akhirnya malah menjadi semacam titik tolak dari kerier Ki Manteb dalam mengarungi perjalanan sebagai dalang. Dari sekadar mucuki (mengawali hanya sampai pada bagian tertentu) suatu pentas wayang hingga berguru kepada dalang-dalang sepuh (baik langsung atau tidak), kemudian semakin melengkapi proses kreatifnya.

"Bukan hanya belajar bagaimana menjadi seorang dalang, namun sampai pada cara membuat wayang pun saya pelajari. Itu satu hal yang mungkin agak terabaikan oleh dalang-dalang muda sekarang," tandasnya.

Keterbukaan

Keterbukaan yang dimiliki Ki Manteb semakin mempercepat dia dalam menyerap berbagai ilmu yang dia pelajari sehingga dari sikap seperti itu, dia mudah mencerna tentang berbagai hal, termasuk isu-isu aktual yang tengah terjadi dalam kehidupan sosial masyarakat.

"Kalau wayang itu dikatakan tidak hanya sekadar tontonan, tapi juga tuntunan, maka dalang wajib mencari apa yang hendak dijadikan tuntunan itu. Nah pada sisi ini, saya berusaha memasukkan isu-isu aktual ke dalam pakeliran. Tentu saja itu saya kemas dalam batas relevansi wayang," paparnya.

Karena itu, jangan heran jika media informasi akan selalu menjadi bagian yang selalu mengisi kehidupan Ki Manteb. Bahkan di kalangan dalang, dia termasuk orang yang bisa dikatakan kutu buku. Koleksi bukunya memang lumayan banyak, tidak hanya sebatas pada bidang budaya, namun juga bidang yang lain.

"Bahkan saya punya buku yang umurnya sudah ratusan tahun. Buku itu saya dapatkan di salah satu daerah yang ada di wilayah Jawa Timur, isinya semacam serat (suatu format penulisan zaman dulu yang biasanya berbentuk tembang)," katanya.

Dengan modal gaya sabet yang nggegirisi, nama Ki Manteb pun semakin dikenal ketika dia juga berusaha menghadirkan sanggit yang selalu aktual dengan perkembangan zaman. Bukan hanya sanggit cerita, namun juga sanggit sabet dan catur.

Namun meski telah menjadi dalang papan atas, ada satu hal yang sampai sekarang masih membuatnya penasaran. Hal itu terkait erat dengan paugeran pakeliran wayang yang kemudian lebih dikenal dengan sebutan pakem. (Wisnu Kisawa-17n)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA