logo SUARA MERDEKA
Line
Jumat, 18 Maret 2005 SALA
Line

Disiapkan Rp 10 Juta, Tetap Tolak Mendaftar

MESKI berbagai upaya telah dilakukan untuk mendorong langkahnya mendaftarkan diri dalam bursa pemilihan calon Wali Kota - Wakil Wali Kota Surakarta yang digelar PDI-P, KP Satrio Hadinagoro tetap bergeming. Mantan anggota DPRD Surakarta itu tetap menolak untuk mendaftar, meski pendukungnya sudah menyiapkan uang pendaftaran Rp 10 juta di hadapannya.

Mantan Presiden Pasoepati (Pasukan Suporter Solo Sejati) ini beralasan tidak ingin mempermalukan dan mengecewakan pendukungnya. "Saya cukup bisa mengukur kemampuan diri karena pendaftar di PDI-P tergolong kuat. Jadi saya tidak akan mampu memenangkan pertarungan antarkader ini. Jujur, saya tidak ingin mempermalukan dan mengecewakan para pendukung," kata dia.

Penolakan untuk dicalonkan itu sebenarnya telah dia lakukan berulang kali. Saat pembukaan pendaftaran bakal calon wali kota - wakil wali kota PDI-P dibuka pada 7 Maret lalu, pendukungnya terus menerus mendatangi dan memaksanya mendaftar.

"Sampai tadi pagi, anak-anak mengingatkan saya agar segera mendaftarkan diri karena hari ini merupakan akhir kesempatan mendaftar. Lalu saya bilang, saya tidak punya uang sepuluh juta rupiah untuk mendaftarkan diri."

Mendengar alasan itu, pendukungnya langsung berkelebat keluar. Dia menduga, desakan itu telah berakhir. Namun ternyata siangnya, pendukungnya yang rata-rata anak-anak usia muda itu datang sambil membawa Rp 10 juta.

Menjual Ponsel

Yang mengharukan, uang tersebut diperoleh dari hasil menjual barang-barang seperti telepon seluler (ponsel) dan sejumlah peralatan elektronik lain yang mereka miliki. Maka tak aneh, bila uang yang diserahkan itu pun terdiri dari pecahan mulai dari ribuan hingga seratusan ribu rupiah.

"Saya sangat terharu dengan ketulusan mereka. Sambil menyerahkan uang itu, saya diminta cepat-cepat mendaftar. Kebetulan uang baru terkumpul pukul 14.00, dan itu merupakan batas terakhir pendaftaran yang ditetapkan panitia."

Namun ketulusan yang ditunjukkan itu pun tetap tak mampu meluluhkan hatinya. Penasehat Pasoepati ini menyerahkan kembali uang hasil urunan pendukungnya. "Saya benar-benar tidak tega melihat anak-anak itu menangis. Tapi bagaimana lagi, saya memang tidak berniat mendaftar. Mereka bahkan sudah menyiapkan beberapa calon yang diajukan sebagai wakil saya."

Ternyata pendukungnya terus berupaya, bahkan sampai membawa uang pendaftaran itu ke Panitia Pendaftaran. "Sebenarnya, bukan masalah keuangan yang membuat saya tidak mendaftar. Sejatinya, saya tidak ingin membuat kader PDI-P menjadi bingung. Dengan banyaknya kader PDI-P yang mendaftar, secara otomatis konsentrasi dukungan itu akan terpecah. Dan saya tidak ingin menambah perpecahan dukungan itu," kata Ketua BPD Asita Jateng itu.

Akhirnya, para pendukungnya itu pun harus legawa menerima penolakan itu. Mereka pun harus mengambil kembali uang Rp 10 juta yang sudah diserahkan ke panitia. (Anie R Rosyidah-17m)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA