| Jumat, 18 Maret 2005 | SALA |
Pengunjuk Rasa Gagal Segel PertaminaKOTA - Sejumlah elemen mahasiswa di Solo, secara serentak melakukan unjuk rasa, kemarin. Beberapa lokasi yang dijadikan sasaran demo antara lain Depo Pertamina Unit Pemasaran IV Jateng di Jalan Achmad Yani, RRI Surakarta, dan bundaran perempatan Gladag. Sejumlah aksi demo itu, hampir semuanya menyerukan tuntutan pembatalan kenaikan harga BBM. Selain itu, masalah ketegangan hubungan RI dengan Malaysia soal Blok Ambalat juga menjadi bagian orasi sejumlah pengunjuk rasa. Seperti yang berlangsung di RRI Cabang Surakarta, Forum Aksi Mahasiswa Unisri (Formasi) tyang semula merencanakan aksi pada pukul 09.00-13.00, batal. Padahal, Sejumlah wartawan dan aparat kepolisian sudah berada di lokasi sejak pukul 10.00. Namun hingga pukul 13.00, para pengunjuk rasa tidak menunjukkan batang hidungnya. Menurut seorang aparat keamanan, aksi itu dibatalkan karena para mahasiswa sudah membubarkan diri di kampus. "Ternyata mereka datang sekitar pukul 14.00 untuk menyampaikan sejumlah tuntutan kepada pemerintah," ujar seorang pejabat RRI Drs Herman Adirahman. Sepuluh mahasiswa yang datang dengan naik mobil itu diterima langsung Herman. Selanjutnya, mereka menyerahkan berkas tuntutan aksi demo untuk disiarkan di RRI. "Sebelum dibacakan, naskah tuntutan kami edit, baru dibacakan oleh pengunjuk rasa untuk kami rekam," tambahnya. Gagal Masuk Dalam naskah yang dibacakan, antara lain mereka menolak kenaikan harga BBM, mendukung NKRI, menuntut hak rakyat atas sumber daya alam, dan penuntasan sengketa Blok Ambalat. "Aksi itu akan kami siarkan dalam rubrik hukum dan kriminalitas," ujar Herman. Berbeda dengan aksi demo yang berlangsung di depan kantor Depo Pertamina Unit Pemasaran IV di Solo. Semula diperkirakan massa yang tergabung dalam Aliansi Gerakan Rakyat Anti Kenaikan Harga BBM (Gerak) berjumlah cukup besar. Ternyata yang datang tidak lebih dari 20 orang yang terdiri atas anggota PMII, PMKRI, GMNI, dan elemen mahasiswa lainnya. Kehadiran para pengunjuk rasa di kantor Pertamina bermaksud untuk menyegel Depo pemasaran BBM itu. Akan tetapi, upaya para mahasiswa untuk masuk gagal karena pintu pagar kompleks kantor itu ditutup dan dijaga puluhan aparat kepolisian serta keamanan dari Pertamina. Akhirnya para mahasiswa itu hanya menempelkan kertas di depan pintu pagar. Kertas itu bertulisan "Tempat ini disegel sampai kenaikan harga BBM dicabut kembali". Selain menempelkan kertas "penyegelan", mereka melakukan orasi yang intinya menuntut pencabutan keputusan kenaikan harga BBM. Aksi juga diwarnai dengan pembagian selebaran anti kenaikan harga BBM kepada para penggguna jalan yang lewat di depan Pertamina. Sementara itu, di simpang empat Gladag, ratusan perempuan yang tergabung dalam Solidaritas Muslimah Surakarta (Smart) menolak pemberlakuan aturan yang memperketat pemakaian jilbab bagi mahasiswi di sejumlah perguruan tinggi. Sebagai muslimah, mereka membela hak para perempuan yang mengalami pemberlakuan aturan soal berjilbab. "Tidak ada larangan bagi muslimah untuk berjilbab. Yang harus diwaspadai saat ini ketika aksi pelarangan jilbab ternyata merupakan konspirasi asing yang ingin menghancurkan umat Islam," kata mereka dalam selebaran yang dibagikan kepada masyarakat yang lewat di bundaran perempatan Gladag. (sri,G13,D11-17m) |