logo SUARA MERDEKA
Line
Jumat, 18 Maret 2005 SALA
Line

Kapolresta Surakarta Terancam Dicopot

  • Terlambat Ungkap Perampokan

KOTA- Tanggung jawab mengungkap kasus perampokan beruntun di Kota Solo dan sekitar sepertinya menjadi tugas mahaberat bagi polisi, karena jabatan dipertaruhkan.

Apabila dalam dua bulan tidak dapat mengungkap kasus tersebut, dimungkinkan akan ada mutasi besar-besaran di jajaran kepolisian Surakarta.

"Berkali-kali aksi perampokan disertai pembunuhan akhir-akhir ini terjadi. Saya bakal mencopot Kapolres, para Kasat, Kapolsek, apabila dalam dua bulan tidak dapat mengungkapnya," kata Kapolda Irjen Pol Drs Chaerul Rasjid SH, kemarin.

Mantan Kapolda Aceh itu tampaknya makin geram dengan banyaknya kasus perampokan yang tidak terungkap. Chaerul menegaskan ada 30 kasus perampokan tidak terungkap.

Hal itu diakui Kapolda karena lemahnya fungsi preventif yang sebenarnya mempunyai peran penting dalam pengawasan dan pembinaan di tengah masyarakat.

"Kalau fungsi kesatuan di Sabhara, Lalu Lintas, Bina Mitra tidak menjalankan tugas sebagaimana mestinya, Kasatnya akan saya copot," tegasnya.

Bahkan Kapolda bukan hanya wanti-wanti kepada para Kasat Sabhara atau Kasat lain yang memiliki tugas preventif, tetapi para Kapolsek juga akan diganti kalau tidak mampu bertugas.

"Bagi anggota yang tugasnya hanya tidur, memble aja, itu tidak ada gunanya. Bahkan para Kaur Bin Ops yang tidak menjalankan fungsinya pun bisa dicopot. Buat apa lama menjabat kalau tidak segera mengungkap banyaknya kasus perampokan," tegasnya.

Jika dalam dua bulan kasus kejahatan dengan kekerasan tidak menurun, Kapolda akan mengambil langkah tegas untuk mencopot Kapolres selaku penanggung jawab di wilayahnya. "Ya lihat saja nanti, siapa yang bakal saya copot."

Ditunggu Masyarakat

Langkah tegas yang akan dilakukan Kapolda itu agar kasusnya tidak lama terkatung-katung dan bisa jelas, siapa yang tidak becus menangani kasus tersebut. "Padahal pengungkapan kasus ini ditunggu-tunggu masyarakat," tegasnya.

Siapa pun anggota polisi yang memble, brengsek, dan tugasnya hanya tidur, pasti kena sanksi. "Mestinya mereka malu sebagai polisi, karena 30 kasus kejahatan besar tidak terungkap."

Merebaknya kasus perampokan yang beruntun itu, menurut Kapolda, merupakan gejala musiman, suatu saat timbul atau tidak muncul dalam waktu tertentu.

Bisa saja pelakunya datang dari luar, bisa juga pemain lama. Meski begitu, ada yang 60% pelakunya telah teridentifikasi, berdasar analisa dan evaluasi yang dikembangkan setiap Kapolres di daerah masing-masing.

Kelompok mana yang diduga terlibat serangkaian perampokan di Solo, Kapolda mengatakan, sudah teridentifikasi.

Namun dia tidak menyebut secara jelas, kelompok mana yang bermain akhir-akhir ini di berbagai wilayah di Kota Bengawan. "Kapolres Kota tahu persis kelompok mana yang melancarkan serangkaian aksi itu."

Perampokan yang beruntun tersebut dibantah Kapolda, bukan suatu strategi untuk mengacau situasi di Kota Solo dan sekitarnya. Namun kejahatan itu murni tindak krimininal.

Berbagai kasus perampokan, kata dia, berdasar penyelidikan tidak berkaitan dengan situasional di Kota Solo, tetapi pelaku memanfaatkan waktu yang tepat untuk beraksi.

Kedatangan Kapolda di Solo, selain memimpin rapat khusus untuk menuntaskan kasus perampokan, juga meninjau beberapa lokasi perampokan.

Adapun empat lokasi yang ditinjau, yaitu di Jalan Singosari Timur, Prawit, Nusukan, kemudian perampokan di Gang Drenges V Purwonegaran, perampokan di Toko Mas Anoman, dan Perampokan di Makamhaji, Kartasura yang menewaskan pembantu rumah tangga. (G11,san-17s)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA