logo SUARA MERDEKA
Line
Jumat, 18 Maret 2005 WACANA
Line

Menggagas Fundamentalisme Humanistik

Oleh : Adi Ekopriyono

SEORANG direktur sebuah perusahaan mengirim SMS, "Setuju banget dengan fundamentalisme humanistik," katanya mengomentari tulisan saya (Suara Merdeka, 5 Maret 2005) berjudul "Lubang Hitam Agama." Dalam tulisan itu, saya menyinggung sedikit tentang perlunya fundamentalisme humanistik di tengah-tengah menjamurnya fundamentalisme beragama yang justru menjauhkan agama dari nilai-nilai kemanusiaan. Tulisan ini ingin menjabarkan gagasan tentang fundamentalisme humanistik tersebut.

Selama ini, ada semacam stigma bahwa agama justru menimbulkan gejala dehumanisasi. Agama sering dituduh menjadi faktor penyebab tindak kekerasan, ketidakadilan, dan tindakan-tindakan lain yang melukai nilai-nilai kemanusiaan. Pertanyaannya, apakah agama berlawanan dengan kemanusiaan? Bukankah sejarah pemikiran dalam agama-agama justru meneguhkan nilai-nilai kemanusiaan sebagai tema sentral?

Dalam konteks pemikiran seperti itulah, saya berpikir tentang fundamentalisme humanistik. Sebagai jawaban atas kekhawatiran terhadap fundamentalisme-fundamentalisme yang lain, yang justru sering menjadi penyebab tindakan yang melukai nilai-nilai kemanusiaan, mulai dari fanatisme sempit dan klaim-klaim kebenaran, sampai terorisme yang ganas.

Agama Bukanlah Tuhan

Gagasan ini didorong oleh semangat perdamaian antarumat beragama dan mengembalikan agama pada peran dan fungsi yang sebenarnya. Agama sebagai "jalan kebenaran" . Dengan agama, penganutnya akan mendekati kebenaran Tuhan dalam ragam pemaknaan, walaupun tidak bisa mendekati secara sempurna. Karena agama adalah "jalan" sedangkan Tuhan adalah tujuan akhir, maka agama bukanlah Tuhan.

Ironisnya, orang sering menganggap agama sebagai tujuan, kemudian menuhankan agama. Agama seolah-olah menjadi segala-galanya, sehingga demi agama orang bisa melakukan apa saja, termasuk tindak kekerasan, ketidakadilan, pembunuhan, dan seterusnya. Agama dijadikan semacam stempel untuk menghakimi orang lain salah dan menilai diri sendiri paling benar.

Penilaian bahwa agama sebagai tujuan itulah yang banyak memengaruhi kemunculan fundamentalisme beragama, yang tidak sekadar ditandai dengan kembalinya kepada simbol-simbol agama, melainkan juga agresivitas terhadap kelompok/agama lain. Fundamentalisme berdasarkan pemahaman seperti itu membuat wajah agama menjadi menyeramkan, tidak damai, penuh konflik, dan dehumanis. Agama justru lepas dari tema sentralnya, yaitu: nilai-nilai kemanusiaan universal (humanisme).

Fundamentalisme beragama (apa pun nama agamanya; Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Buddha, Kong Hu Chu, dan lain-lain) tidak membuat penganutnya menjadi rendah hati, sabar, suka menolong sesama, cinta damai. Sebaliknya, justru melahirkan orang-orang yang merasa paling benar sendiri dan menolak orang/kelompok lain yang tidak sepaham.

Karena fundamentalisme beragama ternyata tidak menumbuhkan kedamaian, maka fundamentalisme humanistik menjadi relevan untuk diterapkan. Fundamentalisme humanistik dilandasi oleh semangat universalitas nilai-nilai kemanusiaan; bahwa semua manusia itu memiliki harkat dan martabat yang sama di hadapan Tuhan dan di antara sesamanya.

Menurut Jurgen Habermas, cita-cita kemanusiaan universal secara potensial sudah termuat dalam agama-agama besar. Bahkan dapat dikatakan, agama-agama itulah yang membuka wawasan martabat manusia sebagai manusia, dan bukan hanya sebagai warga suku, kelompok, atau kelas sosial tertentu. Agama-agama besar bicara tentang manusia sebagai manusia apabila mereka bicara tentang Yang Ilahi.

Keberagamaan dalam khasanah budaya Jawa pun sangat dekat dengan fundamentalisme humanistik. Misalnya terasa dalam pemeo Agama iku sandhangane wong urip, sangune wong mati Agama itu alat untuk bersosialisasi dengan sesama manusia dan bekal untuk menghadap Yang Maha Kuasa. Intinya, ya nilai-nilai kemanusiaan universal.

Dalam Islam, napas humanisme itu pun selalu terasa, misalnya dalam praktik kehidupan masyarakat madani yang dibangun Nabi Muhammad SAW di Madinah. Muhammad mengajarkan tentang perlunya kaum mayoritas melindungi minoritas, dilandasi nilai-nilai kemanusiaan.

Dalam Kristen/Katolik, Yesus pun selalu mengajarkan nilai-nilai kemanusiaan tanpa memandang etnik dan agama. Misalnya ketika Yesus mengajarkan bahwa yang dimaksud dengan sesama adalah orang Samaria yang mau menolong orang yang kecelakaan, bukan orang Parisi atau ahli taurat yang tidak mau menolong.

Dalam Hindu, Buddha, Kong Hu Chu, ajaran tentang humanisme seperti itu bahkan sangat kental. Ajaran tentang budi pekerti, tentang keadilan, dan ajaran-ajaran kebajikan yang lain.

Fundamentalisme humanistik ingin mengajak semua orang untuk memahami dan mengamalkan inti agama yang mereka anut, apa pun agamanya. Inti agama itulah nilai-nilai kemanusiaan universal, yang merupakan "titik temu" agama-agama.

Secara lahiriah setiap konstruksi (agama) mungkin kelihatan bertentangan, tetapi secara transenden atau esensial, semua agama mempunyai maksud yang sama, yaitu sebagai sarana penyelamatan kehidupan rohani manusia. Bhagavan Das dalam The Essential Unity of All Religions menyatakan: kita semua para penganut agama bertemu dalam the road of life (jalan kehidupan) yang sama. Yang datang dari jauh, yang datang dari dekat, semua kelaparan dan kehausan. Semua membutuhkan roti dan air kehidupan, yang hanya bisa didapat melalui kesatuan dengan The Supreme Spirit (Agama Masa Depan, Komaruddin Hidayat, Muhammad Wahyuni Nafis, 1995).

Terkubur Simbol

Pendekatan substansial menjadi landasan kuat bagi fundamentalisme humanistik. Tidak hanya melihat agama dari sisi historis-sosiologis melainkan dari esensinya. Tidak bisa dimungkiri, pendekatan historis-sosiologis, dalam kenyataannya, sering menjauhkan agama dari hakikat agama itu sendiri. Ketika tradisi agama secara sosiologis mengalami pengentalan, bisa jadi spirit agama yang paling hanif sekalipun terkubur oleh simbol-simbol yang diciptakan dan dibakukan oleh para pemeluknya.

Gejala seperti itulah yang selama ini terlihat dalam fundamentalisme beragama. Mereka sangat bersemangat untuk kembali kepada simbol-simbol agama, sehingga melupakan spirit esensial agama. Tanpa disadari, agama bisa menjelma menjadi sekadar tradisi dan institusi sosial. Atau lebih jauh lagi, agama lalu berubah menjadi ideologi atau dihayati hanya sebagai khazanah budaya nenek moyang. Kehilangan daya panggil untuk mendekatkan diri pada Tuhan dan mengangkat martabat kemanusiaan secara universal.

Fundamentalisme humanistik yang saya maksud adalah, suatu paham keberagamaan yang menitikberatkan pada esensi agama; yang menurut pandangan saya adalah nilai-nilai kemanusiaan universal itu.

Ada kontradiksi dalam fundamentalisme beragama selama ini. Kata fundamentalisme sebenarnya mengacu pada pemahaman yang mendalam dan esensial. Karena itulah, secara ideal fundamentalisme seharusnya menyikapi agama dari sisi kedalaman ajaran, bukan sekadar simbol-simbol belaka. Pada kenyataannya, fundamentalisme beragama justru berkutat pada simbol-simbol, sehingga mendorong pemahaman agama hanya sebagai tradisi, institusi sosial, dan ideologi. Fundamentalisme beragama menjadi sangat eksklusif dan cenderung membawa agama ke arah ideologi.

Sedangkan fundamentalisme humanistik justru pluralis karena memandang bahwa meskipun secara sosiologis-historis agama-agama memiliki perbedaan (tidak semua agama sama) namun ada "titik temu," yaitu nilai-nilai kemanusiaan universal. "Titik temu" inilah yang menjadi fokus perhatian, sehingga apa pun agama yang dianut, semua orang akan memahaminya sebagai jalan menuju kemaslahatan umat manusia, bukan alat untuk saling menyakiti dan membunuh.

Perbedaan yang ada bukanlah legalitas untuk saling memusuhi, melainkan ibarat "warna-warni bunga di sebuah taman indah," yang memang ada demi keindahan dan kedamaian. Perbedaan itu lebih bersifat kemasan yang sebenarnya memiliki isi yang sama. Fundamentalisme humanistik lebih mementingkan "isi yang sama" tersebut daripada mempersoalkan perbedaan yang memang merupakan kehendak Tuhan (sunnatullah).

Kebenaran Relatif

Penganut fundamentalisme humanistik tetaplah orang-orang yang rajin ke masjid atau umat yang tiap hari Minggu ke gereja atau warga negara yang bersembahyang di pura, di kelenteng, di vihara. Mereka tetap menjalankan ritus-ritus keagamaan sesuai dengan ajaran mereka sendiri-sendiri, namun pemahaman terhadap agamanya dilandasi oleh pendekatan substansial.

Ritus-ritus tidak mengikat mereka secara kaku, melainkan hanya sebagai jalan (tata cara) dalam upaya mendekatkan diri kepada Tuhan dan berusaha bermanfaat bagi sesama. Bagi mereka, beragama adalah aktivitas untuk mengangkat martabat kemanusiaan universal, bukan untuk agama itu sendiri. Itulah sebabnya, penganut fundamentalisme humanistik tidak melihat pemeluk agama yang berbeda sebagai pesaing atau bahkan musuh, melainkan justru sebagai teman seperjalanan menuju Tuhan.

Karena itu saya sependapat dengan pandangan cendekiawan Muslim, Nurcholish Madjid, bahwa sebaiknya dalam beragama orang menerapkan "relativisme internal." Maksudnya, orang harus selalu memberikan peluang ada kemungkinan dirinya keliru dan memberikan peluang ada kemungkinan orang lain benar.

Fundamentalisme humanistik memandang kebenaran dalam agama-agama adalah relatif (karena yang absolut hanyalah Tuhan).

Setiap agama mempunyai kelebihan dan kelemahannya sendiri-sendiri. Jawaban atas pertanyaan "semua agama baik tapi tidak semuanya benar" atau "semua agama itu baik dan benar," adalah "semua agama itu baik dan di dalam setiap agama itu ada kebenaran." Itulah sebabnya, penganut fundamentalisme humanistik tidak menyalahkan agama yang tidak dianutnya dan tidak merasa bahwa agama yang dianutnya yang paling benar. Mereka tidak memersoalkan perbedaan nama atau istilah, misalnya apakah Ibrahim atau Abraham, assalamuíalaikum atau syaloom, Allah atau Yehuwah, dan sebagainya. Pemahaman mereka sudah melewati sekat-sekat nama, istilah, suku, ras, golongan, bahkan agama itu sendiri.

Fundamentalisme humanistik berbeda dari deisme yang memandang tidak perlu lagi agama formal. Bagi penganut deisme, ritus-ritus formal dan label-label dalam agama akan makin ditinggalkan orang. Mereka beriman kepada Tuhan, kepada kemahaesaan Tuhan, dan kepada kebenaran universal, namun tidak merasa perlu mengikatkan diri pada salah satu agama formal. Semangatnya adalah Spirituality yes, organized religion no, seperti kata futurolog John Naisbitt dan istrinya, Patricia Aburdene.

Fundamentalisme humanistrik tidak mengajak orang untuk meninggalkan agama formalnya, melainkan lebih mendalaminya secara tepat dan sesuai dengan inti agama itu sendiri. Mengembalikan agama pada nilai-nilai kemanusiaan universal. Nilai-nilai itu, seperti pendapat Franz Magnis Suseno, antara lain otonomi dan kesamaan semua orang sebagai manusia, hak-hak asasi, penghapusan hukuman yang brutal, larangan terhadap penyiksaan, kebebasan berpikir dan beragama, toleransi religius, demokrasi, keadilan sosial, solidaritas nasional dan internasional, perlindungan terhadap mereka yang lemah, jaminan hak para minoritas, negara hukum, sistem peradilan yang tidak berpihak, perlindungan hukum universal, prinsip non-diskriminasi, pengakuan martabat manusia tanpa membedakan jenis kelamin, agama, warna kulit, pola kebudayaan, kedudukan sosial.

Fundamentalisme humanistik memercayai bahwa agama itu ada untuk manusia, bukan manusia untuk agama. Kepercayaan seperti inilah yang sebenarnya diperlukan dalam khasanah keberagamaan di Indonesia, kalau kita memang menginginkan negeri yang damai, terbebas dari konflik-konflik antarteks agama dan konflik antarumat beragama.

Fundamentalisme humanistik menawarkan pemahaman yang mendalam dan kontekstual atas semua teks agama, dilandasi semangat kemanusiaan universal. Sia-sialah beragama, kalau tidak mampu mengangkat harkat-martabat kemanusiaan. Lebih sia-sia lagi kalau ternyata beragama itu justru menyebabkan kita saling melukai dan membunuh. (18)

- Adi Ekopriyono, wartawan Suara Merdeka di Semarang


HexWeb XT DEMO from HexMac International

Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA