logo SUARA MERDEKA
Line
Jumat, 18 Maret 2005 NASIONAL
Line

Sulitnya Mencari Batas Tegas di Pulau Sebatik (2-Habis)

Ringgit pun Runtuhkan Sekat Negara


PISANG SEBATIK: Seorang pekerja memindahkan tandan-tandan pisang dari Pulau Sebatik ke dermaga Pasar Inhutani, Nunukan. Pisang tersebut tak hanya dijual ke Nunukan, tetapi juga "diekspor" hingga ke Sabah, Malaysia. (G4-t) SM/Ninik Damiyati

HIRUK-pikuk manusia di tepian Sungai Nyamuk, ibu kota Kecamatan Sebatik, belum juga mereda. Pagi itu, sinar mentari membasuh air sungai dan perahu yang disandarkan di tepi jembatan geladak. Cahaya kuningnya berpendar di atas riak sungai yang beradu dengan sampan.

Kemeriahan pada sudut pulau terluar pulau Kalimantan itu terjadi setiap hari. Usai Subuh, lelaki dan perempuan aneka suku beranjak meninggalkan rumah-rumah panggung mencari penghidupan.

Bertandan-tandan pisang diangsurkan dari dermaga ke atas perahu. Kuli-kuli memanggul karung berisi kelapa, sementara perempuan suku Tidung menggendong berikat-ikat sereh, juga daun pandan. Satu per satu hasil bumi itu disorongkan ke atas perahu, menunggu diberangkatkan menuju seberang pulau. Sesaat setelah penuh terisi, awak perahu menarik tuas mesin. Perahu pun melaju, mengarungi sungai ke pusat perdagangan. Setiap pedagang boleh memilih alur, menggunting air sungai ke arah Nunukan atau ke Sabah Malaysia.

''Sekarang semua serbamahal. Tapi harga pisang tetap murah. Cuma dua setengah ringgit,'' keluh seorang ibu setengah baya.

Bagi penduduk di perbatasan, berhitung dengan ringgit bukanlah hal yang istimewa. Seperti halnya di Nunukan, transaksi di Sebatik dapat dilakukan dengan mata uang Malaysia.

''Kalau tak ada rupiah, ringgit juga boleh,'' kata ibu itu lagi. Di Nunukan, ringgit terasa bukan mata uang asing. Ratusan "tukang dolar", penyedia jasa penukaran uang, berebut menawarkan jasa.

Kerancuan batas negara toh tak hanya di laut atau daratan. Kalau pun batas-batas fisik serupa patok sulit ditemukan di perbatasan Indonesia-Malaysia itu, batas ekonomi jauh lebih sulit ditetapkan. Saat kebutuhan hidup mendesak, bangsa Indonesia di Sebatik pun melepaskan sekat kenegaraan. Identitas negara bangsa berupa mata uang pun ditanggalkan.

''Dulu setiap hari kami pergi ke Tawau, Sabah, untuk belanja. Tapi sejak ada pasar di Aji Kuning, tak perlu setiap hari ke Sabah,'' tutur H Taher, penduduk Desa Aji Kuning. Hampir setiap orang di Pulau Sebatik lebih suka berbelanja di Malaysia. Meski berbeda mata uang, membeli kebutuhan di Tawau, Sabah, jauh lebih murah. Kecuali rokok dan bahan bakar, hampir semua bahan kebutuhan pokok berlabel Malaysia. Makanan kaleng, minuman, barang elektronik, hingga siaran televisi "diimpor" dari negeri jiran itu. Tak sulit membawa aneka barang itu masuk ke Indonesia. Cukup menunjukkan paspor di Pelabuhan Tawau, setiap orang bebas berbelanja atau berdagang. Tak ada cukai atau bea masuk. Penduduk Sebatik bahkan terbiasa menghitung untung rugi dengan dua mata uang. ''Belanja di Tawau lebih enak karena lengkap dan mudah,'' ujar Jaya seorang tukang ojek di Pasar Aji Kuning.

Berbeda dengan Kecamatan Nunukan yang mengandalkan perniagaan dan jasa, sebagian besar kepulan asap dapur penduduk di kecamatan ini bergantung dari hasil bumi dan laut. Sejumlah pustaka menyebut hampir separo penduduk Sebatik bekerja di perkebunan. Tak kurang 21 persen lainnya mencari nafkah dari kegiatan perikanan. Pemkab Nunukan mencatat pada tahun 2001, sebanyak 23,8 ton hasil perikanan laut dan tambak yang ada di Nunukan disumbangkan oleh Kecamatan Sebatik. Angka ini merupakan 52,5 persen produksi total perikanan di kabupaten perbatasan Indonesia-Malaysia itu.

Di pedalaman Pulau Sebatik, ratusan orang tak dapat menikmati listrik. Keluarga Lantasu (45), misalnya, sejak tahun 1980-an tinggal di tepi perkebunan milik Malaysia. Pria asal Bone itu tinggal di Sebatik karena mengikuti transmigrasi. Kala malam tiba, rumah panggungnya yang tak seberapa lebar itu hanya diterangi beberapa bohlam. Lantaran PLN belum menjangkau rumahnya, Lantasu berinisiatif membeli generator sederhana. Dalam kesederhanaan, lelaki empat anak itu menjamu tamunya. Hampir seharian saya berbincang-bincang dengannya ditemani Jaya. Menjelang sore, kami berpamitan. Menuju geladak Sungai Nyamuk, menanti pedagang yang pulang menjelang petang. (Ninik Damiyati-33t)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA