logo SUARA MERDEKA
Line
Jumat, 18 Maret 2005 BUDAYA
Line

Sinetron Ideal, Sinetron Bermartabat

SUATU ketika selepas magrib, Prof Eko Budihardjo (Rektor Undip- Red) berkehendak mengajak keluarganya makan di sebuah restoran. Istri, anak-anak, dan menantu dengan antusias menyatakan turut serta. Hanya Jasmin, sang cucu tercinta yang terlihat enggan.

Tidak seperti biasanya, gadis mungil yang masih berusia empat tahun itu bersikap demikian. Usut punya usut, dia ternyata lebih memilih nonton sinetron favoritnya, Bajaj Bajuri (BB). Dengan terpaksa acara makan-makan itu pun ditunda hingga acara televisi tersebut purna. Melihat tingkah laku cucunya itu Prof Eko cuma bisa geleng-geleng kepala.

"Penggemar 'Bajaj Bajuri' ternyata tak cuma remaja dan orang tua tapi juga anak-anak seusia cucu saya," ujarnya dalam diskusi Mendedah Wajah Sinetron Kita di TBRS, Rabu (16/3) malam lalu.

Ya, sinetron yang dibintangi Mat Solar dan Rieke Dyah Pitaloka itu kini telah menjadi magnet berdaya kuat menarik perhatian masyarakat. Banyak kalangan menilai, kesuksesan BB lantaran menampilkan kisah yang membumi. Artinya, tetap memijakkan kaki pada realitas sosial masyarakat Indonesia kebanyakan. Benarkah demikian?

Melepaskan Diri

Aris Nugraha, penulis naskah BB yang malam itu hadir sebagai pembicara mengungkapkan, kesuksesan sinetron tersebut tak lepas dari keberaniannya melepaskan diri dari mainstream pasar.

Menurut Aris, paham dia dalam menciptakan karya sinetron adalah mengharamkan tokoh-tokohnya berkarakter sempurna. Tak cuma dalam BB, isme itu dia terapkan juga pada dua karyanya yang lain, yakni Radio Repot dan Tante Susi.

"Saya mencoba melakukan perlawanan, baik secara ideologi maupun tematik. Meski demikian, industri sinetron harus disikapi secara cerdas. Artinya, bagaimana caranya mengompromikan idealisme dan selera pasar. Mengawinkan yang bermartabat dan berpasar," ujarnya, dalam diskusi yang dihelat Komunitas Budaya Kerakyatan (Kobar) Merah dan Kronik Kine Klub Semarang tersebut.

Sementara Triyanto Triwikromo melihat sinetron Indonesia tak lagi berwajah Indonesia. Selain itu, meminjam istilah Dr B Herry Priyono, sinetron Indonesia mengidap klise massal. Yakni hidup dalam kultur selebriti, mengkultuskan gaya hidup, serta penggerusan kapasitas berpikir.

Celakanya, kata Triyanto, model sinetron semacam itulah yang digilai masyarakat. Itu terjadi karena kita hidup dalam gejala "Mc-World", yakni atmosfer kehidupan yang diwarnai pola penyeragaman. Kedua, lantaran ketiadaan ideologi "kembali ke bumi". Dan ketiga, kita tidak mampu membedakan realitas sosial, realitas virtual, dan realitas iklan. (Rukardi-81)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA