logo SUARA MERDEKA
Line
Kamis, 17 Maret 2005 PANTURA
Line

Irmmusba Gugah Dermawan Peduli Ustad-Ustadzah

BANYAKNYA Taman Pendidikan Alquran (TPQ) atau madrasah diniyah (madin) di wilayah Kabupaten Batang, ternyata belum diimbangi dengan sarana dan prasana yang memadai. Bahkan perhatian pemerintah dirasa masih belum mencukupi, khususnya kepada para ustad dan ustadzah.

Selain itu, kesadaran masyarakat tentang pentingnya ilmu agama pada anak usia dini masih kurang. ''Kami juga melihat perhatian dari sebagian masyarakat kepada kesejahteraan para ustad atau uztazah di TPQ maupun madin masih kurang,'' ujar Ketua Ikatan Remaja dan Pemuda Muslim (Irmmusba) Shidiq Murtadlo SH.

Sebagai wujud dan kepeduliannya dalam ikut mengembangkan syiar Islam, Irmmusba, Minggu (13/3), mengadakan ''Sosialisasi Program Peduli Ustad dan Ustadzah''.

''Tujuan kegiatan adalah mengangkat aspirasi dari para ustadz/ustadzah, mengungkap permasalan dan kesulitan para pengurus maupun pengelola tiap-tiap TPQ atau madin,'' ujar pendiri Irmmusba Ismail Yahya.

Sosialisasi itu juga untuk menemukan solusi terhadap permasalahan yang terjadi di tiap-tiap TPQ dan madin. Di samping membangkitkan ghirah Islam dari para pengurus, pengelola, ustadz, dan ustadzah.

Selanjutnya, dikaji sebagai sarana menuju kemandirian dari tiap-tiap TPQ dan madin.

''Melalui sosialisasi ini juga kami jadikan sebagai usaha untuk mencari donatur maupun dewan penyantun terhadap Program Peduli Ustad. Sebab selama ini, dewan penyantun utama berasal dari luar Kabupaten Batang, seperti Anggara Santoso dari Jakarta,'' jelas Amak, panggilan akrab Ismail Yahya.

Sementara itu, acara yang diikuti 44 peserta dari 22 TPQ dan madin se-Kabupaten Batang tersebut, juga dihadiri salah satu donatur yang sekaligus Dewan Penyantun Irmmusba.

Sarana dan Prasarana

Permasalahan yang dialami oleh pengelola, pengurus, ustad, dan ustadzah TPQ atau madin adalah kurangnya sarana dan prasarana belajar mengajar. Juga masih minimnya bizaroh (uang kesejahteraan) sehingga para ustad atau ustadzah harus memiliki pekerjaan lain untuk membantu perekonomian keluarganya.

Kendala lain adalah minimnya kualitas dan kuantitas para ustad serta keterbatasan waktu belajar yang seminggu hanya tiga kali. ''Sebagai contoh, ada TPQ yang ustadnya bekerja di pabrik, kalau dia masuk siang hari, maka anak-anak akan libur.''

Selain itu, ada TPQ yang masih menempati gedung SDN, dan kegiatan belajar mengajarnya menggunakan alat tulis sisa SDN tersebut.

''Seperti kapur sisa pelajaran siang. Namun lama kelamaan, dikomplain oleh guru SD. Ini menunjukkan betapa minimnya sarana maupun prasarana TPQ. Untuk itu, mari bersama Irmmusba kita pikirkan perkembangan TPQ maupun madin termasuk uztad dan uztadzahnya,'' imbau Amak.

Menurut Shidiq, para ustad dan ustadzah mempertanyakan uang tali asih (uang ketupat) dari Departemen Agama Kabupaten Batang. Sebab ada yang belum mendapatkan sehingga perlu penanganan serius, agar tidak terjadi kecemburuan.

Hal itu dibenarkan oleh Uztad Wahono dari Ponowareng, Kecamatan Tulis. (Arif Suryoto-90m)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA