logo SUARA MERDEKA
Line
Kamis, 17 Maret 2005 NASIONAL
Line

Rapat Bahas BBM Ricuh

  • Bimo: Akibat Pimpinan Ikut Bermain

SIDANG RICUH: Sejumlah anggota DPR terlibat adu mulut dan hampir saja tawur pada sidang paripurna membahas kenaikan harga BBM di Gedung DPR-MPR Senayan, Jakarta Rabu (16/3). Petugas keamanan dalam gedung sidang berusaha melerai sejumlah anggota DPR yang mendekati podium. (G4-t)

JAKARTA-Untuk kali kesekian, kericuhan mewarnai suasana persidangan DPR-RI dalam rapat paripurna membahas kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) di ruang sidang paripurna Wisma Nusantara III Gedung MPR/DPR kemarin.

Keributan yang hampir saja memicu tawur massal antaranggota Dewan yang terhormat tersebut merupakan buntut dari perdebatan panas tanpa ujung mengenai sikap akhir yang seharusnya dilakukan Dewan dalam menyikapi kenaikan harga BBM tersebut. Kericuhan ini sangat mengenaskan sekali, mengingat persidangan hari Rabu kemarin, sebetulnya merupakan kelanjutan rapat paripurna hari Selasa (14/3) lalu yang sebelumnya juga telah mengalami deadlock. Sehingga rapat terpaksa diperpanjang hingga hari Rabu kemarin, karena rapat paripurna gagal membuat keputusan. Penyebabnya juga tidak adanya kesepakatan mengenai hasil akhir rapat paripurna.

Anggota Fraksi PDI-P DPR Ario Bimo mengganggap, permintaan maaf Ketua DPR Agung Laksono kepada publik menyusul terjadinya kericuhan dalam rapat paripurna yang membahas kenaikan harga BBM sebagai sesuatu yang menggelikan karena kericuhan itu akibat pimpinan ikut bermain."Semua fraksi sudah menyatakan sikap. Sebagian besar menolak, tinggal diputuskan sikap resmi DPR, mengapa diputar-putar lagi sehingga di antara kami pun tidak sabar," katanya di Gedung DPR, kemarin.

Ario Bimo, anggota Fraksi PDI-P DPR yang pertama kali maju ke meja pimpinan DPR kemudian timbul suasana tidak terkendali, menyebutkan, rapat konsultasi antarpimpinan DPR dan pimpinan fraksi-fraksi DPR telah menyetujui bahwa rapat paripurna akan mengambil keputusan sikap menerima atau menolak kenaikan harga BBM. "Ternyata keputusan itu diubah dengan mengarahkan pembahasan ke komisi-komisi, pimpinan DPR mencoba mengulur-ulur waktu," katanya.

Sewaktu memulai persidangan lanjutan pada pukul 15.00 tersebut, pimpinan sidang Ketua DPR Agung Laksono menawarkan dua pilihan. Opsi pertama yang disebut opsi A adalah Dewan menyerahkan masalah kenaikan harga BBM ini kepada pemerintah dan kelengkapan Dewan dalam hal ini Panitia Anggaran DPR. Opsi kedua atau alternatif B adalah forum langsung melakukan voting dengan pilihan menerima atau menolak kenaikan harga BBM.

Menyusul tawaran dua opsi ini terjadi perdebatan panjang yang berlangsung lebih dari 1 jam. Sejumlah wakil rakyat bergantian menyampaikan pendapat dan argumentasi masing-masing yang membuat situasi persidangan menjadi sangat bertele-tele dan menjemukan. Karena umumnya hampir semua pembicaraan yang muncul berputar-putar pada perlu pilihan opsi A atau voting. Kubu yang menolak kenaikan harga BBM seperti Fraksi PDI-P, Fraksi Kebangkitan Bangsa, Fraksi PDS, secara tegas langsung mengusulkan agar dilakukan voting.

Beberapa alasan yang muncul dengan mendukung atau menolak, sikap DPR lebih tegas, sehingga dapat menimbulkan kesan terhormat di mata rakyat.

Effendy Choiri langsung meminta pimpinan sidang agar menawarkan pilihan aklamasi atau voting untuk menerima atau menolak kenaikan harga BBM.

''Mau debat apa lagi, toh rapat konsultasi antarpimpinan fraksi sudah dilakukan, dibahas di Bamus sudah, sekarang tinggal satu pilihan setuju atau tidak. Jangan berputar-putar lagi pada persoalan awal sehingga mementahkan persoalan,'' kata Effendy.

Sebaliknya dari kubu yang mendukung kenaikan harga BBM, seperti Andi Mattalata (Fraksi Partai Golkar) meminta agar anggota Dewan memperhatikan kesepakatan dalam rapat konsultasi antarfraksi yang semula sudah setuju dengan adanya dua opsi tersebut. ''Benar ada rekan-rekan yang tidak setuju dengan kenaikan harga BBM. Tapi mohon juga diperhatikan dengan rekan-rekan lain yang mendukung kebijakan naiknya harga BBM,'' kilah Andi.

Pendapat yang dilontarkan Effendy Choiri dan Andi Matalata itu hanya salah satu contoh debat tanpa ujung yang secara bergantian terus dilakukan oleh mereka yang mendukung maupun menentang kenaikan harga BBM.

Setiap kali ada anggota yang berasal dari kubu yang menolak kenaikan harga BBM, tepuk tangan dan suitan langsung menggema. Sebaliknya bila ada anggota Dewan yang menolak voting dengan opsi B langsung diteriaki "huu-huu" baik oleh anggota Dewan lain maupun para peninjau termasuk kalangan pers yang duduk di balkon belakang maupun samping kiri dan kanan.

Muncul pula teriakan bahwa pimpinan sidang sengaja mau mengakali forum yang sebetulnya mayoritas tidak menyetujui keputusan pemerintah menaikkan harga BBM. ''Tolong pimpinan sidang bacakan lagi fraksi yang menolak, dan berapa yang mendukung. Itu saja sudah riil, kenapa berputar-putar terus, ''kata seorang anggota Dewan yang saking emosionalnya lupa menyebutkan identitasnya.

Kisruh

Kisruh yang sangat memalukan tersebut berlangsung beberapa menit dan disaksikan ratusan anggota Dewan lain yang beberapa di antaranya ikut melakukan provokasi lewat cara tepuk tangan dan teriakan. Yang diperparah berbagai teriakan bernada provokatif yang berulang-ulang diteriakkan para pengunjung sidang. Ada memang yang mencoba berupaya menenangkan situasi dengan cara mengajak seluruh anggota beristigfar.

Suasana makin tak terkendali dan brutal, karena di depan meja pimpinan sidang tersebut sejumlah anggota Dewan terlibat saling dorong, pelotot dan tuding. Beberapa anggota Dewan tampak sekali berupaya mengayunkan tangan yang diduga mencoba memukul lawan yang mengakibatkan keributan makin panas.

Situasi juga makin kacau setelah pihak keamanan yang mencoba mengamankan suasana sama sekali tidak digubris. Sehingga pertikaian baru bisa mereda, setelah mereka yang emosional ditenangkan rekan-rekannya sendiri.

Keributan sendiri bermula saat pimpinan sidang Agung Laksono mengetukkan palu yang menandakan berakhirnya waktu untuk berargumentasi. Untuk selanjutnya pimpinan sidang mengajak forum agar membicarakan agenda lanjutan membahas voting A atau B. Langkah pimpinan sidang tersebut memicu kemarahan beberapa anggota Fraksi PDI-P yang spontan berlari menuju ke depan pimpinan sidang.

Anggota Fraksi PDI-P yang berjalan menuju ke arah podium tersebut antara lain Effendy Simbolon, Suryana, Mangara Siahaan, dan Ario Bimo. Kepada Agung Laksono, mereka mempertanyakan langkah pimpinan sidang yang terlalu cepat memutuskan ditutupnya pembahasan mengenai perlu tidaknya dilakukan voting.

Padahal, sejak awal Fraksi PDI-P menginginkan agar dalam menyikapi kenaikan harga BBM tersebut, forum langsung melaksanakan voting dengan opsi menolak atau menerima.

Tindakan beberapa anggota FPDI-P yang mendatangi pimpinan sidang tersebut memancing kemarahan anggota dari fraksi lain terutama para anggota dari fraksi yang mendukung kenaikan harga BBM seperti Fraksi Partai Golkar dan Fraksi Partai Demokrat. Merasa dilecehkan, beberapa anggota Dewan dari Fraksi Partai Golkar dan Fraksi Partai Demokrat pun berupaya membela Agung Laksono. Sekaligus meminta para anggota FPDI-P kembali ke tempat kursi masing-masing.

Akibat keributan tersebut, Agung akhirnya dibawa keluar ruangan dan setelah terjadi suasana kacau beberapa menit, di mana hampir seluruh anggota Dewan keluar ruangan, salah seorang pimpinan sidang lainnya Zaenal Ma'arif mengumumkan rapat paripurna diskors lagi.

Lima belas menit kemudian, seorang panitia dari Setjen MPR langsung mengumumkan bahwa rapat paripurna ditunda hingga pukul 19.00. Namun hal itu tidak terealisasi.(bn,F4,ant-78t)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA