logo SUARA MERDEKA
Line
Kamis, 17 Maret 2005 BANYUMAS
Line

Dukun Ngaku Intel, Ditangkap Polisi

BANYUMAS- Ruminto (39), warga Desa Gumelar Lor, Kecamatan Tambak, Selasa (15/3) siang, ditangkap aparat Polsek Kemranjen. Dukun yang mengaku intel itu kini ditahan. Polisi juga menyita barang bukti berbagai kartu identitas serta kitab perdukunan.

Hingga kemarin ada empat orang mengaku jadi korban, yakni Kasrin (29), Tarijo (50), Ponirah (25), dan Partini (26). Keempat warga Desa Petarangan, Kecamatan Kemranjen, Banyumas, itu pun sudah dimintai keterangan oleh polisi.

Ruminto meminta uang untuk menyelesaikan persoalan mereka. Namun masalah korban tak kunjung terselesaikan. Dia bahkan mengancam dan mengaku sebagai intel Polri. Dia meminta uang dari Rp 500.000 hingga Rp 3 juta. Ada korban menyerahkan Rp 75.000, ada pula Rp 300.000.

Kasrin menuturkan usai lebaran lalu bertemu tersangka. Saat itu dia menghadapi masalah, yakni sang istri yang bekerja di Arab Saudi sudah dua tahun lebih tak pulang. Tersangka menyatakan bisa membuat istrinya pulang, asal dia menyerahkan Rp 100.000 untuk membeli peralatan. Dia telah menyerahkan uang, tetapi istrinya tak kunjung pulang.

Bahkan tersangka menuduh dia menyebarkan kabar soal keberadaannya ke polisi. ''Dia mengancam akan memproses saya secara hukum. Dia mengaku intel dengan menunjukkan kartu. Saya tak tahu kartu itu benar atau tidak. Saya tak melapor ke polisi karena takut disantet,'' ujar Kasrin.

Lain lagi pengalaman Tarijo. Pedagang es keliling itu ingin televisinya yang hilang ditemukan. Tersangka mengatakan pencuri televisi itu orang dekat serumah. Jika diberi Rp 3 juta, dia tak akan meneruskan kasus pencurian itu ke polisi.

Aparat Polsek Kemranjen mendapat kabar soal sepak terjang tersangka. Kemarin siang polisi pun mencokok dukun itu. Kapolres Banyumas AKBP Erwin Triwanto melalui Kapolsek Kemranjen AKP Isfa Indarto memperkirakan korban lebih dari empat orang. Polisi akan menjaring Ruminto dengan Pasal 378 KUHP tentang penipuan.

Tersangka mengaku jadi dukun sejak enam bulan lalu, sedangkan mengaku intel baru tiga bulan. ''Saya mengaku intel untuk menakut-nakuti orang. Saya terdesak kebutuhan. Anak empat dan saya tak bekerja.'' (G23-86)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA