| Selasa, 15 Maret 2005 | OLAHRAGA |
Beli Atlet dalam Konteks PembinaanUNTUK mewujudkan keinginan Jawa Tengah mencapai '3 Besar' di PON yang akan datang merupakan tantangan yang harus dicari solusinya. Berbicara soal pencapaian target dan menyiapkan atlet dalam setiap menghadapi PON selalu muncul permasalahan hijrahnya atlet dari daerah satu ke daerah lain dengan berbagai dalih baik karena alasan sekolah, pekerjaan, keluarga dan jaminan masa depan. Berbagai alasan itulah yang kemudian memunculkan istilah membeli atlet. Kepindahan atlet dari dan ke daerah lain akan ramai pada pasca PON sampai 2 tahun terakhir menjelang PON berikutnya. Ini bisa dipahami karena ada aturan bahwa atlet boleh membela di suatu daerah kalau yang bersangkutan sekurang-kurangnya berdomisili (memiliki KTP) 2 tahun di daerah yang bersangkutan. Keberadaan DKI, Jatim, Jabar bisa selalu bercokol di '3 Besar' setiap PON tidak bisa dipungkiri bahwa selain melakukan berbagai model pembinaan dengan dukungan sarana dan prasarana yang baik, juga salah satunya adalah hasil rekruitmen atlet-atlet dari daerah lain. Secara realita sebenarnya Jawa Tengah pun pada beberapa PON sebelumnya juga melakukan hal yang sama dalam beberapa cabang olahraga. Hanya bagaimana program Jawa Tengah ke depan? Semua itu tergantung dari target apa yang diinginkan di PON yang akan datang? Jika benar berkeinginan mencapai '3 Besar' di PON yang akan datang, kita perlu melihat dan menghitung kekuatan dan kemampuan Jawa Tengah dengan berbagai kondisi dan konsekuensinya untuk mengatasi permasalahan dengan berbagai solusi yang ada. Banyak solusi dengan berbagai cara yang dapat dilakukan, yaitu melalui program pembinaan berkelanjutan (wadah PPOP, PPLP, PPLM) yang perlu terus ditingkatkan, Pelatda melaui program PJP (Pelatda Jangka Panjang), pengiriman atlet berlatih ke luar negeri, mendatangkan pelatih potensi baik dari dalam maupun luar negeri, dan upaya mengantisipasi atlet potensi Jawa Tengah pindah ke daerah lain. Diskusikan Solusi Untuk solusi yang terakhir barangkali akan sangat menarik untuk didiskusikan dengan berawal dari sebuah pertanyaan, ''Apakah rekruitmen atlet dari daerah lain dengan cara 'membeli atlet' adalah merugikan bagi Jawa Tengah?'' Jawaban sementara, ''Tidak'', jika membeli atlet dikaitkan pada konteks pembinaan. Beberapa hal yang menjadi perhatian tentang kehadiran atlet dari daerah lain dalam konteks pembinaan adalah sbb : 1. Atlet yang direkrut tidak sekedar berubah bajunya menjadi Jawa Tengah hanya untuk mengejar sekeping medali saja, tetapi setelah itu tidak jelas setatusnya. Jika hal ini dilakukan merupakan program pemborosan dan program sesaat (habis manis sepah dibuang). Pertanyaan yang muncul dari atlet setelah PON adalah bagaimana statusnya dan kelanjutannya apakah masih digunakan oleh Jawa Tengah? 2. Atlet yang direkrut harus dijamin masa depannya agar benar-benar kerasan dan tetap membela Jawa Tengah di event yang akan datang. Dan di masa dia sudah tidak sebagai atlet bisa berfungsi sebagai pelatih Jawa Tengah. 3. Penanaman fanatisme kedaerahan Jawa Tengah sangat diperlukan, karena banyak bukti atlet yang dibeli ketika harus berhadapan dengan atlet asal daerahnya, menjadi ragu dan memiliki beban moril terhadap daerahnya, sehingga pasti akan mempengaruhi hasil penampilannya. 4. Pengda cabang olahraga yang bersangkutan benar-benar harus bertanggung jawab dan rasa memiliki atlet yang bersangkutan, serta memikirkan pembinaan ke depan yang lebih baik dengan melalui klub yang bisa digunakan sebagai pijakan pembinaannya. 5. Pengda cabang yang bersangkutan harus mampu menciptakan suasana yang kondusif dalam pengorganisasian latihan, agar tidak timbul persaingan yang kurang sehat dan rasa iri antara atlet pendatang dengan atlet yang lainnya. 6. Kehadiran atlet yang direkrut idealnya harus mau melakukan latihan bersama-sama dengan atlet-atlet lainnya dalam cabang olahraganya, tidak menutup kemungkinan sesekali berlatih bersama dengan atlet-atlet muda atau yuniornya. Dengan cara demikian yang notabene mereka adalah atlet potensi dan berpengalaman, mestinya dalam keseharian akan terjadi suatu interaksi antar atlet, terlebih di saat latihan teknik, taktik tertentu dan sparing akan dapat menularkan atau dapat pula terjadi transfer skill ke atlet yang lain. Untuk pembinaan jangka panjang hal ini akan sangat menguntungkan bagi atlet-atlet muda. Tetapi itu semua akan berjalan dengan baik jika didukung suasana yang kondusif dalam pengorganisasian latihan yang dilakukan oleh pelatih dan Pengdanya. Sebagai contoh pada dekade tahun 1980 Yosep Hungan dan Lamting atlet taekwondo yang direkrut ke Jawa Tengah, diakui atau tidak sedikit banyak ikut mempengaruhi dampak keberhasilan pembinaan cabang taekwondo sampai saat ini karena dapat mencetak kader-kader atlet yang handal. Apa yang saya uraikan di atas merupakan sebuah realita yang akan bisa digunakan sebagai wacana dan sekaligus untuk antisipasi ke depan, yang tidak lain hanya demi kemajuan prestasi olahraga di Jawa Tengah. (Drs Mugiyo Hartono MPd, Kabid Pembinaan Prestasi KONI Jateng, Dosen FIK dan Pascasarjana Unnes) |