| Selasa, 15 Maret 2005 | WACANA |
Surat PembacaEmisi Gas BuangMencermati tarik ulur antara pemerintah dan pihak yang berkepentingan dalam realisasi pelaksanaan Euro II tentang emisi gas buang yang rencananya diberlakukan 2005, saya mencoba memperjelas kesimpangsiuran persepsi di masyarakat. Emisi gas buang memang kondisi yang tidak terelakkan dari proses pembakaran untuk menimbulkan tenaga. Proses ini tidak hanya berlaku pada jenis kendaraan saja sebab pabrik juga punya andil. Kita semua tahu itu. Peraturan ini tentang motor yang diproduksi pada tahun tersebut. Namun tidak berlaku untuk kendaraan produk ulang. Khusus kendaraan produk baru baik berupa KCD maupun build up harus mengikuti peraturan ambang batas emisi gas buang yang ditetapkan. Untuk kendaraan yang sudah lalu lalang pengukuran gas buang baru sebatas mobil penumpang umum. Baik berbahan bensin maupun solar dan dilakukan Dishub serta Pemda. Kalau peraturan ini juga diperlakukan kepada kendaraan pribadi baik roda 4 maupun 2 khusus 2 tak, sepertinya instansi ini belum siap. Hal ini mengingat berapa ratus/hari yang akan dites emisi gas buangnya (kir). Bila tudingan polusi ditimbulkan hanya oleh motor 2 tak saja, kayaknya tidak adil dan kurang tepat. Apalagi ada rumor rencana pelarangan motor 2 tak di jalan raya. Meski secara kasat mata motor 2 tak relatif lebih banyak mengeluarkan asap, tapi kandungan CO dan HC+Nox tetap sama dengan motor 4 tak. Pemerintah juga belum/tidak mengeluarkan larangan pabrikan merakit motor 2 tak. Hanya penurunan kadar emisi gas buang sesuai aturan yang berlaku pada Euro II. Itupun masih memberi toleransi sampai 2007. (Info dari beberapa sumber). Soal produsen kendaraan roda 4 atau 2 yang dituding sebagai biang polusi yang harus melengkapi dengan perangkat penekan emisi gas buang, itu urusan mereka. Tapi dari sisi pemakai motor 2 tak khususnya, tolong jangan disudutkan karena mereka jadi korban hasil produk. Sebetulnya emisi gas buang yang ditimbulkannya belum seberapa dibanding dilakukan pabrik maupun kendaraan angkutan barang/penumpang. Semoga instansi terkait bisa berlaku adil dan bijaksana. Minimal sosialisasikan dulu secara jelas dan transparan seperti UU Lalu Lintas dulu. M Suryono Adjie Jl Cendrawasih XII/15 Tegal *** Ingin Tukar Mengajar Aku guru PNS mengajar di SMPN 1 Warungasem Batang sekitar sepuluh tahun. Asli tempat tinggalku Pemalang, suami tinggal dan kerja di Pemalang juga. Untuk berangkat kerja aku melaju selama 2 jam perjalanan. Sejak lima tahun lalu aku berusaha minta mutasi, namun jawaban sama, "harus tukar" sesama guru PNS dari Pemalang. Adakah di antara Anda termasuk guru PNS yang berasal dari Batang atau Pekalongan dan mengajar di Pemalang. Mari bertukar tempat kerja denganku. SMPN 1 Warungasem mudah dijangkau baik dari Batang maupun Pekalongan. Begitu turun dari bus atau angkudes langsung sampai karena letaknya di pinggir jalan raya. Silakan hubungi aku di 08132704527. Wasis Ernawati *** Korupsi Anggota DPRD Memalukan jika DPRD yang tugasnya sebagai alat kontrol tapi justru melakukan korupsi. Malah korupsinya secara berombongan. Rasaya lucu jika para anggota Dewan korupsi, menilep uang dana pembangunan daerah. Hal ini merupakan aib besar bagi pribadi-pribadi anggota Dewan. Kenapa mereka tak punya malu. Jawabnya, sebab mereka merasa dirinya tak terkontrol. Mereka mengaku orang beragama tetapi kenapa mengikuti dorongan nafsu serakahnya. Mereka bertindak nista, melanggar agama dan juga melanggar sumpah jabatan selaku wakil rakyat. Saya berdoa semoga Allah SWT berkenan beri bimbingan kepada para pemimpin ini. Amar Makruf Purwogondo, Kalinyamat, Jepara *** Ganyang Malaysia Saya sebagai veteran Dwikora mendengar dan melihat tingkah Malaysia benar-benar gregetan dan emosional. Betapa tidak, setelah mereka mencaplok Sipadan dan Ligitan sekarang mau menjarah Ambalat. Setelah saya renungkan, nampaknya Malaysia telah lama bencana menggrogoti wilayah NKRI. Walau kita menyadari keterpurukan karena salah sendiri yaitu sebagai negara terkorup di Asia, bukan berarti membiarkan tetangga ngobok-oboknya. Jangan lupa Dr Ashari dan Nurdin M Top diselundupkan untuk merekrut para teroris Indonesia mengebom di mana-mana khususnya fasilitas Australia dan Amerika. Mengapa yang dibom fasilitas mereka di Indonesia? Kenapa tidak ada fasilitas kedua negara itu di Malaysia. Tidak tertutup kemungkinan sebagai upaya agar Indonesia kacau, ekonominya terpuruk, rakyatnya terpecah belah dan investor takut. Juga TNI-nya jadi lemah karena tidak ada dana membeli perlengkapan. Umat Islam di Indonesia juga terpecah belah, ada yang ingin menghukum teroris anak buah Ashari dan Nurdin M Top dan ada yang membelanya. Sekarang Malaysia maju dan kaya, tentaranya modern hingga berani nantang Indonesia. Merdeka. Ayo saudara-saudaraku rakyat Indonesia. Kita bangkit dengan semangat Dwikora. Yang muda-muda siapkan fisik dan mental, yang tua-tua bakar semangat mereka. Yang kaya bantu dana perjuangan. Para mantan pemimpin arahkan dan bimbing para pemuda untuk lebih berani dan bersemangat. Zaman Dwikora, Indonesia jauh lebih melarat dari sekarang. Saat itu baru saja berhasil merebut Irian Barat kemudian siap tempur menghadapi Dwikora, disusul menumpas pemberontakan PKI. Saat ini bagaimana juga masih lebih mampu dari zaman dasawarsa tahun enam-puluhan. ''Siapkan diri sesuai kemampuan masing-masing. Forum Ganyang Malaysia telah terbentuk. Selamat bergabung. Sekali merdeka tetap merdeka untuk NKRI. Ismangoen Notosapoetro Jl Singotoro 5, Semarang *** Rakyat Kecil Bengep Melalui iklan layanan masyarakat, pemerintah mencoba meyakinkan rakyat bahwa subsidi BBM lebih menguntungkan orang kaya daripada rakyat kecil sehingga perlu dicabut. Pertanyaannya, betulkah ? Fakta di lapangan berbicara, masyarakat kecil tetap saja pihak yang paling merasakan dampak kenaikan harga BBM. Bagaimana tidak. Baru isu saja beberapa harga kebutuhan sudah naik. Apalagi kalau harga BBM betul-betul sudah naik, dijamin harga kebutuhan pokok pasti akan naik. Logikanya sederhana.BBM adalah komponen bahan baku dasar industri yang akan berpengaruh terhadap harga produk yang dihasilkan. Tentang konpensasi pencabutan subsidi BBM selama inipun hanya menarik di atas kertas. Realitas di lapangan menunjukkan dampaknya kurang dirasakan karena tidak adanya sistem dan mekanisme yang mampu menjamin tujuan konpensasi itu sendiri. Bahkan hanya memberi peluang bagi yang berniat korupsi. Bila harga BBM naik atau subsidi dicabut, tetap saja rakyat kecil yang bengep. Orang-orang kaya selamat karena tetap mampu menjangkau berapa pun harga BBM. Andai dia pelaku industri, tinggal menaikan saja harga produknya. Ahya Fitaloka Jl Ciputih Rt 4/Rw 1 Salem, Brebes *** Spongebobs dan Dora Munculnya TV swasta benar-benar mencengangkan bila dibandingkan pada awal tahun 90-an. Waktu itu jumlah stasiun TV bisa dihitung jari dengan jadwal siaran terbatas baik waktu maupun jangkauannya. Sekarang, ada 10 TV (untuk daerah tertentu lebih banyak) mengudara dengan siarnya sampai 24 jam sehari. Namun setelah saya amati acara yang ditayangkan dalam rangka mencapai waktu siar 24 jam tersebut ternyata tidak sebanding. Artinya pada saat malam dan dini hari banyak acara yang merupakan ulangan, entah itu jenis film, sinetron, talkshow dan sebagainya. Memang ada baiknya, mungkin sebagian pemirsa pada waktu pagi atau siang hari belum melihatnya. Namun yang saya sesalkan, pengulangan acara film anak-anak oleh Lativi sungguh kebangeten. Bayangkan kalau film semacam Spongebobs Squarepants, Dora The Explorer, Rugrat, Blues Clues sampai diputar 4 kali dalam waktu sehari (maksudnya 12 jam). Alasan apa yang bisa diberikan TV tersebut dan apakah tidak berefek buruk bagi anak-anak yang tiap hari, mulai pukul 05.00 s.d 19.00 menunggui film kartun yang begitu-begitu saja. Gunarto Sikambang Rt 1/Rw 1 Pituruh, Purworejo
|