logo SUARA MERDEKA
Line
Selasa, 15 Maret 2005 MURIA
Line

Harimau Jawa Masih Tersisa di Muria

KUDUS - Ditemukannya jejak keberadaan Harimau Jawa (panthera tigris sondaica) pada tahun 1998 di kawasan pegunungan Muria (Didik, R. dalam Hasil Investigasi TPPFHJ, 2000), setidaknya memberikan harapan akan ditemukannya hewan langka tersebut.

Harimau Jawa sendiri merupakan top predator di darat yang oleh sebagian masyarakat Jawa dianggap berkharisma tinggi dan sudah punah.

Menurut Didik Raharyono SSi, yang juga penulis buku ''Berkawan dengan Harimau Jawa'' kepada Suara Merdeka, kemarin, setidaknya ada tiga hal yang dapat dijadikan acuan untuk mendeteksi keberadaan satwa tersebut, yakni melalui bekas kotoran, cakaran, dan jejaknya.

Untuk kotoran biasanya tersusun atas rambut prey (hewan yang dimangsa), terutama kijang, babi hutan, binturong, lutung, monyet dan landak. Sedangkan untuk bekas cakaran biasanya dipilih pada pohon yang mempunyai kulit kayu yang keras dan jarang bergetah.

''Itu hanya gambaran secara umum saja, karena jejak binatang tersebut juga mempunyai detail ukuran tersendiri,'' tandasnya. Sedangkan untuk jejaknya, jelasnya, harimau Jawa mempunyai bentukan umum seperti jejak kucing.

Hal itu, terutama dengan tidak adanya rekaman kuku di depan jari kaki. Jejak terkadang dijumpai tidak lengkap, dapat atas jari-jarinya saja ataupun tapak tengah. Adapun untuk habitatnya, harimau mempunyai kawasan yang dijadikan lokasi berkembang biak yang relatif sangat luas, tergantung dari kemelimpahan dan sebaran hewan mangsanya.

Habitat utama harimau secara umum meliputi taiga, hutan konifer, padang rumput aluvial, hutan decideus, hutan temperet dataran tinggi, hutan tropis basah, hutan tropis kering dan hutan mangrove.

Kondisi hutan yang tersisa di Jawa sebagian besar berada di lereng gunung. Oleh karena itu, saat ini kemungkinan harimau Jawa teradaptasi di hutan-hutan yang tersisa tersebut. Seperti halnya di hutan lereng Gunung Muria, Slamet, Raung dan Wilis.

''Tempat persembunyian harimau guna melindungi anaknya adalah di gua-gua alami, di celah-celah sungai berbatu dan di dalam rongga pokok batang kayu tua, terutama di daerah yang sangat jarang didatangi orang,'' ungkapnya.

Untuk itu, Didik yang beberapa bulan lalu mengadakan penelitian untuk menyelidiki keberadaan raja hutan tersebut, bersama dengan Muria Research Center (MRC) UMK di pegunungan Muria, menyatakan perlunya kepedulian semua pihak untuk turut memperhatikan keberadaan hewan langka tersebut. Apalagi, berdasar temuan timnya, jejak keberadaan hewan tersebut terlihat jelas pada beberapa tempat seperti di pertigaan hutan Semlira dan mata air Bunton. (H8-15)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA