logo SUARA MERDEKA
Line
Selasa, 15 Maret 2005 MURIA
Line

Stereotip Stoples Kudus Kulon

Oleh : Mukti Sutaman Espe

KUDUS Kulon, bagi kebanyakan anggota masyarakat yang tinggal di wilayah eks Karesidenan Pati dan sekitarnya, tentu bukan lagi merupakan sebuah frasa asing.

Frasa yang merujuk pada pengertian sebuah kawasan di bagian barat jantung Kota Kudus itu memang sangat populer. Penyebabnya, antara lain di kawasan itu terdapat menara bersejarah, Makam Sunan Kudus, rumah adat, juga sejumlah pondok pesantren dan rumah tinggal sejumlah kiai karismatik.

Pendek kata, dalam ungkapan para cerdik cendekia, Kudus Kulon adalah simpul sejarah Kota Kudus. Dari sini sejarah itu dimulai! Sebagaimana layaknya simpul sejarah cikal bakal sebuah kota, Kudus Kulon menyimpan beraneka macam cerita menarik.

Legenda, mitos, sage, mite, bahkan bad story yang terangkai dari stereotip, secara turun-menurun hidup dan berkembang di tengah masyarakat luas.

Yang dimaksud bad story ialah segala cerita yang berkisah ihwal keburukan apa pun. Sementara itu, stereotip menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) berarti konsepsi mengenai sifat suatu golongan berdasarkan prasangka subjektif dan tidak tepat. Jadi, bad story stereotip tentang orang Kudus Kulon ialah cerita buruk yang beredar luas di masyarakat akibat tafsir subjektif, buruk sangka, dan penilaian yang tidak benar terhadap adat kebiasaan mereka.

Jauh-jauh hari sebelum menjadi warga Kota Kudus, pada 1970-an di Semarang, penulis sudah sering mendengar kabar stereotip tentang orang Kudus Kulon yang pelit.

Pada Sarasehan ''Menggali Potensi Kudus sebagai Kota Kretek'' di pendapa kabupaten akhir Februari lalu, seorang peserta dari luar Kudus juga mengungkapkan hal yang sama. Kesimpulannya, kurun waktu masa edar bad story stereotip itu ternyata begitu panjang dan lama.

Celakanya, kebenarannya pun sangat dipercaya oleh masyarakat, terutama yang dari lain daerah. Padahal, di Kudus Kulon sendiri saat ini kebiasaan pelahirnya relatif telah ditinggalkan.

Stereotip sifat pelit mereka yang tersiar secara lintas batas hingga sampai ke daerah lain itu, bermula dari stoples dan gelas minuman.

Pada masa kegiatan unjung (silaturahmi pada Idul Fitri), orang Kudus Kulon tempo dulu mempunyai adat kebiasaan menghidangkan beraneka penganan dan kue kepada para tamunya dalam stoples yang lubang mulutnya sangat kecil disertai sajian minuman setengah gelas kecil.

Rupanya hal itulah yang kemudian digunakan sebagai landasan tafsir negatif bahwa sifat dasar orang Kudus Kulon pelit.

Stoples dengan lubang mulut sangat kecil, minuman sebanyak setengah gelas kecil, bagi para tamu khususnya yang punya pembawaan gembul memang kurang memungkinkan untuk melunaskan hasrat makan dan minum mereka.

Dengan kalimat lain, stoples berlubang mulut kecil dan minuman setengah gelas kecil itu dianggap sebagai pengejawantahan kekikiran.

Adat Kebiasaan yang berlangsung di suatu daerah terbangun lantaran adanya filosofi, kesamaan cara pikir, dan cara pandang masing-masing individu anggota masyarakatnya. Suatu adat kebiasaan dapat tetap bertahan hidup (survive) karena memuat pemikiran dan pandangan yang diyakini sebagai ''pusaka'' untuk dan demi kepentingan bersama. Dari situlah tidak jarang muncul para genius yang acap melahirkan berbagai kearifan lokal.

Dan, kebiasaan orang Kudus Kulon seperti yang tersebut di muka pun tidak terlepas dari konsepsi filosofi dan kearifan-kearifan termaksud.

Filosofinya adalah jangan menyisakan makanan. Artinya saat bertamu ke rumah orang, makan dan minum segala sesuatu yang dihidangkan cukup seperlunya saja. Tidak pada tempatnya jika tamu mempertontonkan sifat rakus dan kemaruk.

Karena itu, dalam konteks tersebut orang Kudus Kulon berinisiatif menyajikan hidangan secukupnya saja bagi para tamu. Runut pemikirannya toh saat menjalankan ''ibadah'' unjung, silaturahmi pada Idul Fitri, belasan bahkan puluhan rumah yang terkunjungi menyajikan hidangan yang nyaris tidak berbeda. Dengan demikian, apabila para tamu diberi hidangan yang berlebihan niscaya tidak akan dimakan dan diminum semuanya alias tersisa, mubazir, sia-sia. Sayang bukan?

Masih banyak filosofi dan kearifan lokal yang termuat dalam ragam adat kebiasaan orang Kudus Kulon. Sebut misalnya, tidak makan daging sapi, tidak tidur di ranjang, tabu berprofesi sebagai pegawai negeri, dokter, jaksa, bahkan penjahit. Terlepas dari sudah banyaknya adat kebiasaan yang saat ini ditinggalkan oleh masyarakat di sana, bila mau mengkajinya dengan sungguh-sungguh, sebenarnya di dalamnya sarat berisi filosofi dan kearifan yang sangat bernilai bagi harkat kehidupan manusia.

Sayang, filosofi dan kearifan itu senantiasa terajarkan secara tersirat, terbungkus dalam berbagai isyarat dan sanepa. Untuk menangkap dan memahami sari patinya, orang mesti suntuk mempelajari dan mendodosnya.

Sementara itu pada sisi lain, bad story stereotip yang berkecenderungan mendiskreditkan perilaku orang Kudus Kulon, justru tersiar secara lugas, gamblang, dan terbuka. Atas nama rasa keadilan, tidak perlukah diambil langkah budaya untuk meng-counter-nya? (90j)

- Penulis adalah penyair, Ketua Keluarga Penulis Kudus, dan guru SMP 3 Kudus.


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA