logo SUARA MERDEKA
Line
Selasa, 15 Maret 2005 MURIA
Line

Penambangan Gunung Ragas

''Warga Harus Bersatu''

JEPARA - ''Sangat disayangkan masyarakat Clering tidak bersatu padu dan termakan adu domba oleh pihak luar dalam menghadapi persoalan penambangan batu felspar di Gunung Ragas. Akibatnya, persoalan menjadi carut-marut dan cenderung merugikan masyarakat (secara luas).''

Penegasan itu disampaikan Kholis Fuad SHI, Wakil Ketua Komisi D (Bidang Pembangunan) DPRD Kabupaten Jepara, saat menjawab pertanyaan Suara Merdeka dalam menanggapi perebutan penambangan Gunung Ragas, kemarin.

Wakil rakyat asal Kecamatan Keling itu mengungkapkan, gesekan antara warga dan pemegang hak pengelolaan penambangan -PT Semarang Mineral Pembangunan (SMP)- sudah lama terjadi. Begitu penambangan batu putih dimulai 1998 lalu, langsung muncul persoalan.

Warga desa yang tidak mendapatkan apa-apa dari proses penambangan justru ikut merasakan akibat buruk debu-debu yang bertebaran. Jalan-jalan rusak karena dilewati kendaraan berat.

Sejak saat itulah muncul tuntutan warga yang meminta bagian barat Gunung Ragas agar dikelola pemerintah desa.

''Tuntutan warga sudah sering dilakukan namun hasilnya tidak maksimal. Sebab, warga mudah dipecah-pecah dengan iming-iming tertentu. Saya sudah melakukan pendampingan kepada warga Clering sejak 2000 selaku sukarelawan Forum Warga,'' ujar Kholis.

Seperti diberitakan, sejak pertengahan Februari lalu persoalan penambangan felspar Gunung Ragas kembali mencuat, menyusul penangkapan dan penahanan Ali Sunarto dan Ali Sunardi oleh Polres Jepara. Dua pentolan pemuda Clering yang dalam beberapa tahun terakhir ini menjadi koordinator penambangan yang dikelola desa, dituduh melakukan pencurian dan penambangan liar pada lahan yang dikelola PT SMP. Polisi bertindak cepat setelah mendapat laporan dari perusahaan tersebut.

Kholis menyayangkan sikap Pemkab Jepara yang seolah hanya mendiamkan persoalan itu. Jika muncul aspirasi warga untuk mengelola tambang yang ada di desanya, seharusnya difasilitasi untuk diperjuangkan kepada Pemprov.

Soal terjadinya fragmentasi orientasi warga Clering, ujar Kholis, kadarnya sudah parah. ''Sekarang ini mereka sulit diajak bersatu. Selain tidak ada tokoh pemersatu yang berani dan bisa menjadi anutan, juga mudah curiga, dan ada yang juga yang suka memelintir informasi. Akibatnya, jadi tambah keruh,'' papar Kholis yang mengaku ikut terkena getahnya.

Dia mencontohkan, ketika persoalan Gunung Ragas sudah ramai setelah penangkapan Ali Sunarto dan Ali Sunardi, dirinya selaku anggota Dewan pernah bertemu dengan Petinggi Clering Marwi dan perangkatnya di kantor Kecamatan Keling.

''Saya hanya memberikan saran, ada baiknya jika petinggi mengajak Sunarto-Sunardi yang selama ini menjadi koordinator penambanagn desa untuk berembuk. Barangkali ada solusi terbaik. Tak tahunya, kabar yang berkembang di desa, saya membela Narto-Nardi. Selain itu juga, saya juga dituduh sebagai pengkhianat dan tidak peduli masyarakat karena tidak mau ikut menyelesaikan persoalan Ragas,'' ungkapnya.

''Bagaimana saya mau turun, jika baru akan melangkah saja sudah muncul segala macam tudingan,'' katanya. (kar-90j)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA