logo SUARA MERDEKA
Line
Selasa, 15 Maret 2005 MURIA
Line

Petani Undaan Ancam Tutup Sungai Juana

  • Hari Ini Datangi Bakorlin Pati

KUDUS- Masyarakat di wilayah Kecamatan Undaan, Kudus, mengancam akan menutup secara total alur Sungai Juana (mengarah ke Pati dan bermuara di Juana, Pati).

Ultimatum penduduk yang mayoritas petani itu disampaikan oleh Ketua Perkumpulan Petani Pengguna Air (P3A) Undaan, H Kaspono, kemarin.

''Warga masyarakat sudah lelah menunggu. Tahun 2003 lalu, para petani sebenarnya marah, meski akhirnya bisa mengerti. Tetapi, nyatanya sampai sekarang tuntutan petani tak dipenuhi,'' tandasnya kepada Suara Merdeka.

Petani jengkel karena lahannya selalu tergenang saat musim penghujan. Padahal secara hitungan, air hujan mestinya tidak sampai merendam arealnya. Saat musim kemarau, mereka kesulitan memperoleh air untuk membasahi tanaman ataupun keperluan mandi, cuci, dan kakus (MCK). Total lahan beririgasi teknis di situ 5.125 ha.

Menurutnya, sejumlah wakil petani akan mendatangi kantor Badan Koordinasi Lintas Wilayah (Bakorlin -dulu pembantu gubernur) wilayah eks Karesidenan Pati, Selasa ini. Mereka akan didengar aspirasinya, sehubungan dengan keluhan yang dikemukakan beberapa hari lalu. Bahkan, warga masyarakat (Desa Persiapan) Berugenjang (Pecahan Wonosoco) waktu itu sempat akan menggelar unjuk rasa.

Sebagaimana diberitakan harian ini, 1.000 ha lebih areal dengan tanaman padi muda di tujuh desa terendam air. Akibatnya, mereka harus tanam ulang setelah air surut. Genangan itu terjadi karena pintu pembuang di Saluran JU3 (yang bermuara di Sungai Juana) tidak layak, serta arus air Kali Londo tak bisa masuk Sungai Juana.

Siap Dipanggil DPRD

Kaspono menyatakan pihaknya dan wakil petani lainnya siap sewaktu-waktu jika dipanggil DPRD. Dia mengakui, P3A bersama Ketua Persatuan Kepala Desa (Persada) Undaan, Akrab (Kades Undaan Tengah) mengirim surat pengaduan kepada Ketua DPRD, Drs Asyrofi Masytho.

Dia mengungkapkan, ada beberapa masalah yang sudah dirasakan warga Undaan sejak beberapa tahun lalu, namun sampai kini tak pernah selesai. Permasalahan itu yakni adanya genangan air tiap musim hujan yang mengakibatkan ribuan hektare lahan gagal tanam.

Juga, tiap musim kemarau warga mengalami kesulitan air untuk mandi, cuci, kakus, minum hewan piaraan, untuk kebutuhan tanaman palawija pada musim tanam (MT) III, serta untuk pembibitan padi pada MT I khususnya dialami wilayah desa yang jauh dari jaringan irigasi (di bagian paling hilir).

Persoalan tersebut, katanya, dapat diatasi bila dilakukan beberapa hal yang berkait dengan pembenahan fasilitas bangunan pengatur air serta normalisasi sungai. ''Karena itu, kami minta ada penggantian pintu kayu dengan besi berulir di Saluran JU3.1. Bangunan pintu pengatur air di Saluran JU3.1b dan bangunan pintu pengatur air di saluran JU3.1i,'' tegasnya.

Di samping mengenai bangunan pengatur air di Saluran JU3 yang bermuara di Sungai Juana, paparnya, pekerjaan mendesak lain adalah normalisasi Kali Londo dan renovasi Pintu 9 Dam Wilalung. ''Idealnya Pintu 9 Dam Wilalung (mengarah ke Sungai Juana) dibuat menjadi spillway saja, air dari Sungai Serang baru limpas bila debitnya sudah di atas 400 m3/detik,'' ucapnya.

Pekerjaan yang lebih besar, tukasnya, adalah normalisasi Sungai Juana. (yit-90s)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA