logo SUARA MERDEKA
Line
Selasa, 15 Maret 2005 SEMARANG
Line

''Ada Pohon Aren, Tetap Produksi''

DUA lelaki tampak bekerja di sebuah gubuk besar. Seorang membelah batang aren (Arenga pinnata), yang lain memarut hasil belahan dengan sebuah mesin tenaga diesel yang asapnya berkepul-kepul. Dalam beberapa detik, belahan batang aren yang keras itu telah menjadi semacam serbuk gergaji.

Kesibukan itu sehari-hari berlangsung di Dusun Mluro, Desa Ngabean, Kecamatan Boja, Kabupaten Kendal. Dusun kecil di lereng Gunung Ungaran tersebut merupakan sentra pembuatan pati aren. Sejumlah warga membuka usaha di bidang tersebut secara sederhana.

Produk yang mereka hasilkan kini telah dipasarkan, selain di Semarang juga sampai ke Solo dan Ngawi, Jawa Timur. Oleh konsumen, pati aren biasa digunakan sebagai bahan campuran pembuatan bakso, cendol, dan hunkue.

Paling banyak dikirim ke Solo karena di sana banyak terdapat industri bahan-bahan makanan tersebut.

Jika dirunut ke belakang, pembuatan pati aren di desa itu sudah berlangsung sejak 1965. Mereka memanfaatkan pohon-pohon aren yang sudah tua dan tidak produktif untuk menambah penghasilan.

''Saat itu pembuatannya masih dilakukan dengan cara sederhana, cuma dicacah dan ditumbuk. Hasilnya juga masih kasar dengan warna kemerah-merahan,'' tutur Khomeidi (48), warga.

Pada 1973, warga mulai menggunakan mesin giling sederhana dalam proses pembuatan pati aren. Alat tersebut hanya berfungsi untuk mempercepat proses pengolahan semata-mata, sedangkan kualitas produk yang dihasilkan masih tetap sama, kasar, dan kemerah-merahan.

Berkualitas Baik

Tempat pengolahan milik Khomeidi saat ini telah mampu menghasilkan pati aren berkualitas baik, butirannya lembut dan berwarna putih terang. Dengan mempekerjakan 20 karyawan, dia mampu memproduksi rata-rata 1,5 ton/hari. Dari jumlah tersebut, keuntungan bersih yang dia terima Rp 100.000/hari.

Untuk menghasilkan pati aren yang baik dibutuhkan proses pembuatan yang panjang. Mula-mula batang aren dipotong-potong sepanjang satu meter, lalu dibelah menjadi empat sampai enam bagian. Bagian kayu luar yang keras dibuang dan bagian dalamnya diparut dengan mesin.

Hasil parutan kayu kemudian diperas sarinya, dimasukkan ke dalam bak penampungan. Setelah tiga jam didiamkan akan menghasilkan endapan.

Nah, endapan inilah yang selanjutnya diolah menjadi pati aren. Caranya, disaring lagi dengan saringan mesin, diendapkan satu malam, dan dijemur sehari.

''Semakin lama mencari bahan baku semakin susah. Selama ini pohon aren kan tidak pernah dibudidayakan. Pokoknya selama masih ada pohon aren, kami masih berproduksi,'' katanya. (Rukardi-91j)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA