| Selasa, 15 Maret 2005 | EKONOMI |
sekilas ekonomiTak Mudah Jadi Rekanan TNIJAKARTA-Menjadi rekanan pengadaan perlengkapan atau atribut TNI tidak mudah. Pengusaha harus mampu menyediakan barang berkualitas sesuai dengan pesanan dalam waktu tepat. ''Akibatnya tidak banyak pengusaha bisa memenuhi pesanan atribut TNI. Untuk membuat tanda pangkat saja kita mesti riset dulu,'' kata Ny Tien Setianingsih, Direktur PT Kuantan Utama yang sudah puluhan tahun menjadi rekanan TNI, kemarin. Banyak pengusaha bermunculan namun sangat sedikit yang bertahan lama. Resepnya adalah telaten dan siap dicela kalau tidak sesuai dengan pesanan. Perusahaannya juga aktif menawarkan hal-hal baru yang lebih baik. Misalnya kalung atribut berisi identitas buatan AS. Harganya memang lebih mahal dari produk lokal, tetapi enteng dan lebih berkualitas. (wa-53) Anggaran Kurang Proporsional WONOGIRI-Draft APBD Kabupaten Wonogiri hingga kini belum mengacu pada Kepmendagri No 29/2002, terutama mekanisme penyusunannya. Hal itu berdampak pada penyebaran anggaran belanja yang kurang proporsional dan kurang bermutu. Demikian dikemukakan oleh Jarmono juru bicara Fraksi Amanat Keadilan Demokrat (FAKD) DPRD Kabupaten Wonogiri ketika menyampaikan sikap akhir fraksinya pada rapat paripurna yang membahas penetapan APBD 2005, kemarin. Rapat dipimpin Ketua DPRD Sugimin Djoko Suwondo ST itu akhirnya menetapkan APBD 2005 yang meliputi anggaran pendapatan Rp 432,396 miliar dan anggaran belanja Rp 448,461 miliar sehingga terjadi defisit Rp 16,065 miliar. Namun anggaran pembiayaan surplus Rp 16,065 miliar. (P27-53) |