logo SUARA MERDEKA
Line
Selasa, 15 Maret 2005 EKONOMI
Line

Pelanggan Membutuhkan Sentuhan Khusus

PERNAHKAH Anda melihat seorang lelaki bertampang rata-rata atau bahkan kurang dari rata-rata begitu beruntung memiliki istri yang cantik jelita.

Kalau belum berhasil menemukan contohnya, maka silakan cari pada beberapa pasangan selebritas kita yang pernah berjaya tahun 1970-an. Ada beberapa di antara mereka yang masuk kategori tersebut. Kenapa hal itu bisa terjadi? Pengalaman membuktikan bahwa pada dasarnya yang dibutuhkan wanita bukanlah lelaki ganteng. Mereka lebih butuh laki-laki yang touching atau mampu menyentuh perasaannya.

Hermawan Kartajaya dalam bukunya berjudul Marketing in Venus mengatakan Bumi telah menjadi Venus. Jadi, tak sedikit lelaki atau wanita yang membutuhkan pendekatan yang touching.

Kenapa itu penting? Sebab, orang yang tersentuh perasaannya akan bersikap empatik, bahkan selanjutnya menjadi simpatik. Itulah situasi yang mengawali seorang wanita cantik mau mengikatkan cinta dan hidupnya.

Dalam kacamata marketing itulah situasi paling tepat untuk mengajukan proposal. Lalu apa syarat utama supaya bisa melakukan pendekatan semacam itu?

Eksistensialis dari Prancis, Jean Paul Sartre, dalam salah satu drama panggungnya berjudul No Exit menuturkan setiap manusia berpotensi menjadi ''neraka bagi orang lain''.

Selalu bersikap curiga, melihat hanya sisi negatif, meremehkan, mengumbar emosi, arogan, bersikap sok tahu, selalu mengkritik, selalu menunjukkan rasa tidak puas atau tidak suka pada orang lain, niscaya Anda telah menjadi ''neraka'' bagi orang lain.

Posisi sebagai ''neraka'' tentu sangat kontraproduktif bagi pengembangan pendekatan yang menyentuh.

Kalau ada neraka maka pastilah ada surga. Perlu dilakukan dan dikembangkan sikap sebaliknya supaya kita bisa menjadi ''surga'' bagi orang lain.

Mampu membuat orang lain merasa teduh dan tidak terusik secara emosional. Jadi, pengendalian emosi diri adalah syarat utama melakukan pendekatan yang menyentuh.

Pengendalian Emosi

Dalam salah satu episode cerita silat kondang Pendekar Rajawali Sakti (Sin Tiauw Hiap Lu), si gadis abadi Siauw Liong Lie berkata dia belajar tidak pernah menangis di sepanjang usianya.

Ketika gembira ia tidak pernah mau terlalu bahagia, ketika kesedihan datang tidak pernah terlalu larut dan menangis.

Orang yang mudah tertawa akan mudah pula menangis. Begitulah konsep pengendalian emosi yang diajarkan oleh gurunya. Pengendalian emosi menjadi landasan segala keahlian seorang pendekar (baca: marketer atau pemasar).

Emosi yang terkendali akan mampu mengeliminasi rasa takut yang menyurutkan keyakinan atau rasa takabur yang mengakibatkan kecerobohan. Emosi yang tidak terkendali akan memboroskan energi.

Emosi yang terkendali, apalagi yang telah teruji dalam berbagai situasi yang melibatkan banyak orang, akan membuat penampilan seseorang menjadi teduh.

Itulah keteduhan yang membuat nyaman orang-orang di sekitarnya. Itulah pula pilihan kedua selain menjadi ''neraka''.

Saya pernah akan membeli asuransi dari sebuah perusahaan asuransi kelas dunia dari Prancis. Bahkan keputusan itu sudah saya buat sebelum marketer asuransi datang ke rumah.

Namun akhirnya saya membatalkan keputusan itu justru setelah bertemu dengan si marketer asuransi. Kenapa? Secara emosi saya merasa terganggu oleh sikapnya yang arogan.

Saya memaklumi dalam pelatihannya tentu dia diajari tampil penuh percaya diri, namun konsep itu dia tampilkan dalam posisi berlebihan sehingga saya merasa menghadapi orang yang sok tahu, sombong, dan pendikte.

Organisasi bisnis yang fokus pada kepuasan pelanggannya tentu sangat membutuhkan orang-orang dengan emosi terkendali, yang tidak hanya mampu memunculkan kesan positif pada pelanggannya secara material tapi juga secara emosional.

Apakah pengendalian emosi seperti itu mudah? Sama sekali tidak! Siauw Ling Lie pun menangis ketika ditinggal Yo Ko, si Pendekar Rajawali Sakti yang sangat dia cintai. Namun ia tidak pernah berhenti dalam perjuangannya mengendalikan emosi. (Handojo Setyo, Marketing Officer PT Djarum Semarang-53)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA