| Selasa, 15 Maret 2005 | EKONOMI |
Industri Otomotif Bakal TerpukulSEMARANG-Industri otomotif nasional kemungkinan bakal terpukul tahun ini akibat kenaikan harga beberapa bahan baku, khususnya baja dan plastik. Kenaikan harga bahan baku itu juga akan memicu kenaikan harga mobil. ''Harga baja dan plastik sekitar 40% sangat berpengaruh terhadap biaya produksi. Bagaimanapun nanti akan berpengaruh pada kenaikan harga mobil,'' kata Soebronto Laras, Direktur Utama PT Indomobil di sela-sela grand opening showroom PT Sun Motor Indosentra Jalan Pemuda No 65 Semarang, semalam. Dia menyebutkan harga baja saat ini naik rata-rata 200 dolar AS-300 dolar AS/metrik ton. Belum lagi dampak kenaikan harga BBM yang rata-rata di atas 20%. ''Sebenarnya pengaruh harga BBM tidak terlalu besar, tapi bahan baku baja dan plastik memiliki kontribusi cukup kuat pada harga,'' tambahnya. Mengenai berapa persentase kenaikan harga mobil, Soebronto belum bersedia menyebutkan sekarang. Kenaikan tidak secara langsung, tetapi bertahap. Kenaikan itu juga masih bergantung pada peta pasar otomotif nasional. Ia menilai memasuki tahun 2005 pasar otomotif di Indonesia sangat prospektif dan diprediksi bakal menyentuh angka penjualan 500.000 unit. Indomobil yang memegang beberapa merek, kata dia, tahun lalu meningkat penjualannya dibandingkan dengan 2003. Pada divisi roda empat peningkatannya 17,1% atau 101.383 unit. ''Tahun ini kami optimistis bisa menjual 150 ribu unit kendaraan roda empat, '' ujarnya. Tahun 2004 penjualan roda dua, menurut dia, juga meningkat sebesar 45,6% dengan penjualan 844.231 unit dibandingkan dengan 2003. Sementara itu pada Januari 2005 mampu menjual 83.846 unit atau naik 46,3% dari bulan yang sama pada tahun 2003. ''Apa yang diraih Indomobil telah menumbuhkan keyakinan besar bagi manajemen untuk mencapai target pada 2005,'' tandasnya. Selain itu, pangsa pasar Indomobil tahun ini diprediksi mencapai 24%. Produk baru dan jaringan pemasaran diandalkan untuk mencapai target itu. Dari sekian banyak produk baru, kata dia, Indomobil sangat mengandalkan Suzuki APV. Dengan kandungan lokal mendekati 60% kendaraan multi purpose vehicle (MPV) itu hingga kini masih banyak yang inden. ''Banyak konsumen yang belum bisa terlayani karena permintaan melonjak,'' jelasnya tanpa menyebut jumlah angka inden. (G2-53) |