logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 14 Maret 2005 PANTURA
Line

Jalur Selatan Rawan Pohon Roboh

PEMANDANGAN jalan raya di Kabupaten Pemalang antara Paduraksa-Randudongkal dulu sangat indah dinikmati. Selain suasananya redup dan rindang oleh pepohonan hutan jati, medan jalannya berkelok-kelok tak begitu tajam. Namun, kini situasi di sepanjang jalan itu makin memudar keindahannya.

Perubahan situasi seperti itu disebabkan banyak hal. Antara lain makin berkurangnya tegakan pohon jati akibat ditebang secara resmi ataupun dijarah di wilayah Hutan Bantarbolang. Serta, sering munculnya angin lisus yang cukup dahsyat sehingga merobohkan pepohonan dan merusak jaringan listrik.

Hal itu tentu saja sangat mengancam keselamatan pemakai jalan. Kendati hingga kini belum timbul korban akibat kerobohan pohon dalam bencana angin lisus, sejak dini perlu diwaspadai. Sebab, bencana selalu datang tiba-tiba tanpa diketahui manusia.

Bagi pengendara kendaraan yang biasa melewati jalur Paduraksa-Randudongkal sudah hafal dengan situasi alam seperti itu. Mereka lebih baik menghentikan kendaraan ketika diketahui angin bertiup kencang. Sebab bila dipaksakan terus berjalan dan memasuki daerah hutan, bisa-bisa kerobohan pohon.

Kejadian pohon roboh akibat diterjang angin lisus sepanjang jalan Paduraksa-Randudongkal relatif sering. Menurut catatan Suara Merdeka, hampir tiap tahun hal tersebut terulang.

Yaitu pada November 2003, Desember 2004, Februari 2005, dan Maret 2005. Dari beberapa kejadian itu tidak ada korban jiwa. Namun jaringan PLN rusak parah dan pernah mengakibatkan listrik di tujuh kecamatan padam total.

Kenapa sekarang pohon sering roboh? Menurut Kepala Unit Pelayanan Jaringan (UPJ) PLN Pemalang H Untung Susyanto, hal itu karena angin lisus yang bertiup dari arah tenggara tak mampu lagi ditahan rimbunan pepohonan.

Semakin Berkurang

Dulu, ketika pohon masih lebat angin bisa ditahan. Tetapi, kini karena banyak hutan rusak akibat penjarahan, tegakan pohon menjadi semakin berkurang dan tak mampu lagi menahan datangnya angin kencang.

''Ketika angin lisus bertiup, pohon tak mampu lagi bertahan dan roboh. Dalam bencana tersebut, PLN yang selalu menanggung kerugian banyak termasuk para pelanggannya. Sebab, listrik padam di Bantarbolang, Randudongkal, Warungpring, Moga, Pulosari, Watukumpul, dan Jatinegara,'' katanya.

Sementara bagi Perhutani hal itu tak jadi masalah, karena pohon yang roboh masih bisa diselamatkan. Menurut Administratur Perhutani Pemalang Ir Suripto, kerugian yang diderita akibat musibah itu relatif kecil. Kecuali jika pohon yang roboh tak bisa diselamatkan karena dijarah orang.

Lepas dari persoalan rugi atau tidak, bagi kedua institusi tersebut fenomena jalur selatan antara Paduraksa-Randudongkal itu perlu dicermati. Paling tidak, jika tak mampu lagi mengembalikan keindahan alam yang dulu pernah ada di sana dan menjadi kebanggaan, dampak bencana tersebut bisa lebih dieliminasi.

Untuk mengeliminasi dampak, menurut Kepala Kantor Kesbang Linmas Drs Budhi Rahardjo MM, Perhutani perlu melakukan penjarangan pohon di dekat tegakan jaringan PLN.

Dengan demikian, jaringan akan bebas dari bahaya pohon roboh. Pelanggan listrik di tujuh kecamatan pun tidak akan lagi mengalami listrik padam total ketika angin lisus menyerbu.

Namun jika hal itu dilakukan, sudah pasti akan banyak pohon di pinggir jalan yang dibabat habis. Maka, pemandangan alam yang indah yang dulu pernah ada di pinggir jalan antara Paduraksa-Randudongkal pun sulit dilihat lagi. Jalur selatan tak akan seindah seperti dulu lagi.(Saiful Bachri-42s)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA