logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 14 Maret 2005 WACANA
Line

tajuk rencana

China, setelah Pencabutan Embargo Senjata

- China sekarang menjadi sorotan dunia karena tiga hal: terus mengancam akan menyerbu Taiwan, meningkatkan anggaran militer, dan mendapat kabar baik dari Uni Eropa tentang pencabutan embargo senjata yang sudah berlangsung 15 tahun. Ketiga hal itu terkait satu sama lain. Dengan memperkuat militernya dan tidak lagi diembargo oleh Eropa, China bakal membuat takut Taiwan, Jepang, dan AS. Dari segi personel, angkatan bersenjatanya yang bernama Tentara Pembebasan Rakyat (TPR) tercatat paling banyak di dunia. Persenjataannya, sekalipun dari segi kualitas mungkin tidak begitu canggih, diperkuat oleh senjata-senjata nuklir. Namun, dengan mesin-mesin perangnya yang ada saat ini, diduga sulit bagi TPR untuk dapat melakukan penyerangan lintas laut ke Taiwan.

- Pencabutan embargo bakal memungkinkan Beijing membeli senjata canggih dari Eropa. Dengan perekonomian yang maju pesat dalam beberapa dekade terakhir, dana kelihatannya tidak menjadi kendala. Membeli senjata atau teknologi senjata dari Eropa - kecuali Inggris yang merupakan sekutu utama AS -, lebih menguntungkan. Sebab, senjata yang dibeli, tidak seperti dari AS, biasanya tidak terikat syarat yang ketat bagi penggunaannya. Ingatlah kasus TNI. Nyaris semua pesawat buatan Amerika (F-5, F-16, A-4, C-130) dan buatan Inggris (Hawk Mk 53, Hawk 100, dan Hawk 200) saat ini terpaksa di-grounded. Pasalnya, Indonesia terkena embargo dari AS (diikuti Inggris) gara-gara persoalan Timor Timur dan kemudian Aceh. Itulah sebabnya TNI kini melirik senjata buatan Rusia (Su-27).

- Ketika Beijing belum lama ini mengumumkan untuk meningkatkan anggaran militernya, AS-Jepang-Taiwan langsung bereaksi dengan cemas. Penambahan anggaran tersebut akan memungkinkan angkatan bersenjata China mendapatkan kapal-kapal pengangkut pasukan berukuran besar dalam jumlah banyak. Sekarang, kendala utama militer China adalah kekurangan sarana angkut bagi personel AB-nya. Kapal pengangkut itu, yang diperlukan untuk melintasi Selat Taiwan, mampu membawa pasukan dalam jumlah besar. Tanpa sarana penting tersebut, personel TPR hanya dapat melancarkan serangan udara dan rudal jarak jauh. Banyak yang menduga penambahan anggaran militer itu pasti ada kaitan dengan isu Taiwan, yang oleh Beijing tetap dianggap sebagai provinsinya yang membangkang.

- Tetapi sungguhkah Beijing sedemikian nekat menyerbu Taiwan, jika pemerintahan yang sekarang berkuasa di Taipei mewujudkan cita-cita memerdekakan Taiwan? Rasanya tidak mungkin. Penambahan kekuatan militer paling-paling bertujuan untuk menggertak Taipei agar tidak gegabah melepaskan diri dari kedaulatan China daratan. Suatu perang, apalagi melawan Taiwan yang sudah pasti dibela Amerika Serikat, hanya akan mendatangkan kehancuran di kedua belah pihak. Pemerintahan komunis yang berkuasa di Beijing jelas tidak ingin mengorbankan pertumbuhan ekonomi China yang luar biasa pesat dalam beberapa puluh tahun terakhir ini. Perang, di mana pun, jelas bakal menghamburkan dana besar-besaran. Amerika yang adikuasa pun sekarang kedodoran di Irak.

- Jadi bagaimana seharusnya dunia menyikapi rencana China memperkuat militernya, dan bagaimana pula reaksi atas keputusan UE mencabut embargo senjata terhadap negeri itu? Tetapi adalah hak setiap negara untuk memperkuat atau mempermoderen angkatan bersenjatanya. Tidak boleh ada negara lain yang melarang. China dikenai embargo senjata oleh AS, karena Beijing dianggap punya catatan HAM yang buruk dan ancaman bagi Taiwan. Namun, negeri itu mampu membuat sendiri peralatan perangnya, terutama lewat lisensi dari perusahaan-perusahaan pembuat senjata Rusia. Bagi negara-negara berkembang dan Dunia Ketiga, China bahkan menjadi pemasok penting senjata. Dicabutnya embargo sudah pasti bakal membuat militer China lebih kuat dan lebih disegani di Asia.

- Adalah wajar, setiap kali suatu negara memperkuat atau mempermoderen angkatan bersenjatanya, selalu muncul reaksi cemas, terutama dari negara tetangga. Kecemasan seperti itu dapat dimaklumi. Tetapi realitas menunjukkan, suatu negara yang lemah secara militer biasanya akan diremehkan oleh negara lain. Kasus paling baru adalah Indonesia. Malaysia dan Australia tahu TNI sekarang sedang ''lumpuh''. Militer kedua negara itu pun diketahui sering melanggar wilayah kedaulatan RI. Dalam konflik Ambalat, Malaysia malah lebih meremehkan. Jadi, suatu AB yang kuat dan moderen memang diperlukan. Bila dua negara yang terlibat konflik punya militer kuat, kekuatan itu justru menjadi faktor deterrent. Takkan ada yang berani memulai serangan, dan jalur diplomatik pun ditempuh.


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA