logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 14 Maret 2005 KEDU & DIY
Line

Petani Diminta Kurangi Tanam Tembakau

  • Khawatir Pabrik Kurangi Pembelian

TEMANGGUNG - Pengurus Ansor Anak Cabang (Ancab) Parakan, Kabupaten Temanggung tampaknya mulai risau terhadap prospek pasar tembakau mendatang.

Mereka mengimbau para petani untuk mengurangi jumlah tanaman tembakau pada musim tanam 2005 ini karena dikhawatirkan akan terjadi penurunan jumlah yang dibeli pabrik.

Ketua Ansor Ancab Parkaan, Sodikin, kepada Suara Merdeka kemarin mengemukakan, imbauan seperti itu telah dilakukan kepada para petani melalui pengurus ranting di beberapa desa. Sebagai alternatif, petani diimbau untuk melakukan diversifikasi tanaman lain seperti lombok, bawang, dan sayuran lainnya.

Imbauan tersebut dilakukan Ansor Ancab Parakan karena organisasi itu khawatir pasar tembakau pada tahun ini akan terjadi penurunan tingkat pembelian. Setidaknya, dari informasi yang didapat Ansor dari pabrikan, mereka hanya akan melakukan pembelian 35% dibanding dengan tahun sebelumnya.

''Mestinya bukan kami yang melakukan imbauan seperti ini karena ada yang berwenang seperti pemerintah ataupun pabrikan. Namun kami tunggu-tunggu kok mereka masih diam saja,'' kata Sodikin.

Di tempat terpisah beberapa petani di Parakan dan daerah sentra tembakau lainnya seperti Kecamatan Bulu, Bansari, dan Kledung menyatakan hingga saat ini masih banyak lahan yang belum dipersiapkan untuk ditanami tembakau. Padahal untuk kawasan tegalan (lahan kering), masa tanam mestinya sudah dimulai Februari-Maret.

Faktor Biaya

Banyaknya petani yang belum bisa mempersiapkan lahan itu pada umumnya karena faktor biaya. Selain karena harga bibit dan pupuk baik kompos (pupuk kandang) maupun pupuk pabrik tinggi, pada umumnya modal mereka juga minim karena harga tembakau dalam tiga tahun terakhir jatuh.

''Sekarang untuk pinjam modal baik di perbankan maupun perorangan sangat sulit. Padahal biaya tanam meningkat sekitar 30% dari tahun lalu. Dulu rata-rata Rp 8 juta per hektare, kini menjadi Rp 10 jutaan,'' kata Rusdi (52), seorang petani.

Menurut Rusdi, sebagian petani memang sudah ada yang mengalihkan usaha pertaniannya dengan menanam tanaman lain. Seperti di Desa Tlogowero, kini sudah mulai banyak petani yang menanam sayuran, termasuk tomat dan lombok.

''Namun petani lain ada yang masih membiarkan lahannya kosong karena mereka masih optimistis bisa mendapatkan modal untuk menanam tembakau lagi,'' tambahnya.

Sejauh ini, Rusdi beserta petani lainnya mengaku belum mendengar secara pasti tentang rencana pabrikan yang hanya akan melakukan pembelian hingga 35%. Mereka hanya mendengar obrolan dari mulut ke mulut, bukan dari instansi berwenang.

Pihak pabrikan baik PR Djarum maupun Gudang Garam hingga kemarin belum bisa dihubungi. Menurut satpam di Perwakilan PR Gudang Garam, para pimpinan perusahaan itu tengah berada di luar kota. (nt-76n)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA