| Senin, 14 Maret 2005 | INTERNASIONAL |
Hu Ambil Alih Semua Jabatan TertinggiBEIJING - Presiden China Hu Jintao bertekad melindungi kedaulatan negara terpadat penduduknya di dunia itu Minggu kemarin, setelah dipilih sebagai ketua Komisi Militer Pusat (CMC). Pemilihan tersebut merampungkan penyerahan kekuasaan dari Jiang Zemin. Dia mengimbau kepada Tentara Pembebasan Rakyat (PLA) untuk melakukan "misi bersejarah" sehari sebelum parlemen mengadakan voting tentang RUU antipemisahan. RUU tersebut akan memungkinkan Beijing menggunakan kekuatan militer terhadap Taiwan jika pulau yang diklaim Beijing sebagai miliknya itu secara resmi menyatakan kemerdekaannya. Hu (62) menggantikan posisi mantan pemimpin Jiang Zemin (78) yang sudah lanjut usia sebagai ketua Komisi Militer Pusat China, demikian menurut kantor berita resmi China Xinhua. Dia terpilih dengan suara mutlak 2.886 suara pada suatu pertemuan parlemen China, Kongres Rakyat Nasional (NPC), dengan hanya enam suara menolak dan lima abstain, lanjut Xinhua. Mulai saat ini, dia memegang semua jabatan tertinggi di China yakni sebagai ketua Partai Komunis China yang berkuasa, panglima militer, dan kepala pemerintahan. Puncak Transisi Semua langkah itu sebagian besar hanya bersifat seremonial dan sudah diperkirakan secara luas sebelumnya, saat Hu menggantikan Jiang pada September lalu sebagai ketua CMC Partai Komunis yang memegang kekuasaan sebenarnya atas militer China. Militer China merupakan yang terbesar di dunia. Pengesahan Hu sebagai pemimpin komisi militer negeri itu merupakan puncak dari peralihan kepemimpinan China yang dimulai pada November 2002 ketika dia menggantikan Jiang sebagai Sekjen Partai Komunis. Dia kemudian mengambil alih kekuasaan dari Jiang sebagai Presiden China pada tahun 2003. Dengan pengangkatannya kemarin, Hu telah mengambil alih semua tanggung jawab Jiang dan memantapkan posisinya sebagai pemimpin dari generasi keempat kepemimpinan komunis setelah Mao Zedong yang revolusioner, Deng Xiaoping, dan Jiang yang pembaharu ekonomi. Jiang telah memegang posisi itu selama 15 tahun, karena sejak saat itu dia ditempatkan secara tergesa-gesa sebagai pemimpin yang disebut-sebut sebagai pemimpin generasi ketiga China, setelah aksi demonstrasi pro-demokrasi di Lapangan Tiananmen tahun 1989. Jiang menjadi Ketua Partai Komunis dan CMC tanpa memiliki pengalaman apa pun di bidang militer sebelumnya. Hu juga menghadapi kekurangan yang sama sebagai panglima militer China, namun tidak pernah bertugas di Angkatan Bersenjata dalam kapasitas apa pun. Satu taktik yang terus dilakukan baik oleh Jiang maupun Hu ialah menjaga agar para perwira tinggi negara senang, yakni dengan cara meningkatkan anggaran militer mereka. Tahun ini, anggaran resmi militer akan bertambah sebanyak 12,6 persen dari tahun lalu, kata seorang pejabat NPC.(rtr-niek-ant-46) |