logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 14 Maret 2005 INTERNASIONAL
Line

Syiah-Kurdi Gagal Bentuk Pemerintahan

BAGDAD - Perundingan antara para pemimpin Kurdi dan satu aliansi Syiah untuk membentuk pemerintahan baru Irak telah gagal, tiga hari sebelum sidang pertama parlemen hasil pemilu. Demikian diungkapkan sejumlah politikus senior Irak, Minggu kemarin.

Jika digabungkan, perolehan kursi kedua kubu tersebut mencapai mayoritas dua pertiga yang dibutuhkan untuk membentuk pemerintahan.

Namun, kegagalan perundingan mereka membuat masa depan politik Irak masih tidak pasti. Kegagalan itu juga menunda upaya-upaya untuk memulihkan keamanan dan kegiatan pembangunan kembali di negara yang porak poranda akibat perang tersebut.

Ahmad Chalabi, anggota koalisi Syiah Aliansi Irak Bersatu (AIB), kembali dengan tangan kosong, Sabtu lalu, dari kunjungan ke wilayah Kurdi Irak. Dia gagal mengupayakan aliansi Kurdi-Syiah.

"Pertemuan-pertemuan itu telah gagal. Tidak ada kesepakatan," kata seorang pembantu Chalabi kepada Reuters.

Para politikus Kurdi punya pendapat lain. Menurut mereka, AIB berupaya menyalahkan Kurdi atas krisis politik yang melumpuhkan pengambilan keputusan di Irak itu.

Negara Teluk itu kini semakin sering dilanda serangan bom. Irak juga sangat membutuhkan investasi untuk membangun kembali negeri yang luluh lantak tersebut.

"Mereka ingin membebankan tanggung jawab politik hanya kepada pihak Kurdi," kata Wakil PM Barham Salih, seorang tokoh Kurdi, kepada televisi Al-Arabiya. "Kami mau memberikan jabatan presiden kepada Syiah, jika mereka bersedia memberikan jabatan perdana menteri kepada Suni," tambahnya.

Kegagalan perundingan Kurdi-Syiah itu mencerminkan ketidakmampuan politikus Irak mengesampingkan perbedaan sektarian di dalam masyarakat.

Ledakan Bom

Sementara itu, ledakan bom pinggir jalan menewaskan dua kontraktor Amerika di Irak. Seorang juru bicara Kedubes AS kemarin mengatakan bahwa kedua kontraktor itu bekerja untuk perusahaan keamanan Blackwater.

Keduanya sedang menuju ke Kota Hilla ketika bom tersebut meledak, Sabtu lalu. Seorang kontraktor lainnya dilaporkan menderita luka-luka.

Gerilyawan Irak sering mengincar kontraktor asing sebagai sasaran serangan mereka. Tujuan mereka adalah menggulingkan pemerintahan sementara Irak dan mengusir pasukan Amerika.

Dari Dubai, kelompok muslim Suni yang kurang dikenal, kemarin, mengklaim bertanggung jawab atas serangan bom jibaku yang menewaskan 50 orang di satu masjid Syiah di Irak utara awal pekan lalu.

Kelompok itu, yang menyebut diri Jamaat Jund al-Sahaba, bertekad melancarkan serangan terhadap kaum Syiah. Mereka menggambarkan Syiah sebagai "pembangkang" yang bukan muslim sebenarnya.

"Kami memulainya dengan serangan di Mosul," kata pernyataan di situs internet itu.

"Kami mengancam untuk meningkatkan serangan terhadap para pembangkang jika mereka tidak menghentikan agresinya." Keaslian pernyataan itu belum dibuktikan.(rtr-ben-46)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA