| Senin, 14 Maret 2005 | EKONOMI |
Produksi Dayang DitingkatkanSOLO-Sehubungan dengan permintaan konsumen atas motor Dayang yang kain meningkat, produksi kendaraan roda dua nasional tersebut tahun ini ditingkatkan dua hingga lima kali lipat. Saat ini produksinya sekitar 200 unit/unit. ''Tahun ini kami sudah punya kesepakatan dengan investor luar negeri akan meningkatkan kapasitas produksi menjadi antara 500 dan 1.000 unit/hari,'' kata Lukas Jaya, Direktur PT Dayang Motor Indonesia Solo didampingi Manajer Pemasaran Fred Yastaky Rivai, kemarin. Setelah patungan dengan Korea dan Malaysia, lanjut dia, pabrik yang berlokasi di Dagen Kabupaten Karanganyar akan diperluas. Saat ini motor itu telah menggunakan komponen lokal 50% dan dalam waktu dekat akan ditingkatkan menjadi 90%. ''Jika komponen lokal sudah mencapai 90%, maka kami optimistis harga akan dapat makin ditekan,'' ujarnya. Saat ini motor tersebut dijual seharga antara Rp 3 juta dan Rp 6 juta/unit. Jika komponen lokal sudah mencapai 90%, maka dapat ditekan lagi hingga 30%. ''Cita-cita saya memang ingin membuat motor merakyat seperti sepeda ontel pada tahun 1950-an,'' tandas Lukas. Hingga kini, kata dia, komponen yang masih diimpor antara lain bagian-bagian isi mesin. Komponen tersebut hasil produksi perusahaan di bawah lisensi Jepang, sedangkan tempat mesin atau bloknya sudah dibuat sendiri dan sejumlah produsen dengan bahan baku dari PT Krakatau Steel. Berbagai komponen lainnya dicukupi oleh produsen dalam negeri dari seluruh Indonesia, termasuk Klaten, Semarang, Sukoharjo, Yogyakarta, Surabaya, dan Karanganyar. Tak kurang dari 50 pemasok telah bekerja sama dengan Dayang Motor. ''Para produsen itu selama ini juga memasok suku cadang kendaraan bermotor Jepang yang dirakit di Indonesia, sehingga suku cadang Dayang mudah diperoleh di pasaran karena sama dengan motor Jepang,'' tuturnya. Ia menyebut Dayang sebagai motor nasional karena sudah banyak menggunakan komponen buatan dalam negeri. Namun dalam mengembangkan, Lukas merasa kurang mendapat dukungan dari pemerintah. Semua dengan modal sendiri tanpa keterlibatan bank. (bt-53) |