| Senin, 14 Maret 2005 | EKONOMI |
Penjualan Mebel Turun 50%SEMARANG-Produsen dan distributor mebel hingga kini belum berani menaikkan harga jual meski biaya produksi meningkat akibat kenaikan harga BBM per 1 Maret 2005. Alasannya, daya beli masyarakat turun sejak kebijakan itu diberlakukan. ''Penurunan penjualan terasa sekali, yakni 50% lebih, setelah kenaikan harga BBM, sehingga untuk menaikkan harga jual sangat berat. Hingga sekarang stok menumpuk,'' kata Dede Leota, pemilik Citra Abadi Mebel yang menggelar pameran di Java Supermall, kemarin. Dia yang memiliki show room di Jalan Gajahmada 35 Semarang mengakui kenaikan harga BBM membuat pengusaha mebel dalam posisi dilematis. Di satu sisi, harga bahan baku sudah naik sehingga biaya produksi membengkak, tetapi pada sisi lain jika harga dinaikkan khawatir penjualan akan anjlok. ''Salah satu cara mengatasi adalah mengurangi margin keuntungan. Terpenting modal bisa tetap berputar,'' jelasnya. Menurut dia, penurunan penjualan tak hanya terjadi pada mebel produk dalam negeri, tetapi juga impor. Namun pengusaha yang juga menjadi distributor mebel kelas atas, misalnya Mustering, itu menyatakan dampak lebih terasa pada mebel seharga Rp 4 juta ke bawah. ''Konsumen di segmen itu benar-benar merasakan dampak kenaikan harga BBM, sedangkan kelas menengah ke atas tidak terlalu menjadi masalah,'' tuturnya. Dalam pameran di Java Supermall pihaknya memperkenalkan sofa buatan lokal tetapi bahannya impor. Sofa 3-2-1 dan satu rangkaian dengan sebuah kursi santai ditujukan pada ruangan luas. Sofa merek Davinci tersebut dipasarkan Rp 15 juta/set belum termasuk diskon 20% selama pameran. ''Pembeli tidak harus membeli satu set, tetapi bisa pisah-pisah,'' ujarnya. Dia menambahkan mebel yang dipasarkan tersebut sebagian besar berwarna pastel. Warna jenis itu diminati banyak konsumen karena berkesan natural dan klasik. Segmennya adalah masyarakat menengah ke atas. (G2-53) |