| Senin, 14 Maret 2005 | EKONOMI |
A N A L I S I SMinyak, antara Konflik dan KemakmuranOleh: Dr FX SugiyantoPADA awal abad 20 Halford Mackinder mengklasifikasi dunia menjadi empat bagian, yakni (1) Heartland mencakup Asia Tengah dan Timur Tengah (disebut World Island), (2) Marginal Land meliputi kawasan Eropa Barat, Asia Selatan, sebagian Asia Tenggara, dan sebagian besar daratan China, (3) Desert yang mencakup kawasan Afrika Utara, serta (4) Outer Continents yang tersdiri atas Benua Amerika, Afrika Selatan, Asia Tenggara, dan Australia. Menurut ahli geopolitik asal Inggris itu, Heartland mempunyai kandungan sumber daya mineral yang jumlahnya tidak tertandingi oleh belahan dunia mana pun. Dalam tesisnya Mackinder mengemukakan siapa pun yang dapat menguasi Heartland (World Island) dalam percaturan politik modern dan ekonomi akan dapat melakukan pertaruhan menuju arah global imperium. Ahli geopolitik lain dari AS Nicholas Spykman juga mempunyai pandangan yang sangat mirip dengan Mackinder. Kedua tokoh tersebut berpandangan siapa pun yang menguasai World Island akan dapat mengendalikan dunia. Keyakinan pada tesis tersebutlah yang kemungkinan mendorong negara-negara industri, terutama AS, berebut menjalin hubungan erat dengan negara-negara Timur Tengah, karena memang negara-negara itu terbukti kaya "emas hitam". Keyakinan itu pulalah tampaknya yang membimbing Bush junior "mencaplok" Irak dengan alasan membangun demokrasi di negara itu. Minyak bumi. Itulah kata sakti yang telah menggerakkan dunia. Sebanyak 45 % konsumsi minyak AS bergantung pada impor. Hal yang sama juga terjadi di Jepang karena sebagian besar industri mereka digerakkan oleh minyak impor. Minyak pulalah yang menggerakkan industri persenjataan AS sehingga melahirkan Perang Teluk Seri I: Iran-Irak, dan Seri II: Irak - Kuwait yang juga melibatkan AS, setelah sebelumnya pada 1974 hampir tidak berdaya menghadapi embargo minyak oleh OPEC. Perang AS-Irak yang akhirnya menumbangkan rejim Sadam Hussein, setelah terbukti Irak tidak mempunyai senjata kimia sangat mustahil untuk tidak mengatakan bukan karena didorong untuk menguasai minyak. Sebab, selain kapasitas kandungan minyak Irak yang sangat besar, yakni diperkirakan 112 miliar barel yang berarti menempati urutan kedua setelah Arab Saudi, kualitas minyak bumi Irak terkenal sangat baik. Indonesia boleh dikata hidupnya juga bergantung pada minyak. Hampir lebih dari 30 tahun, bahkan hingga saat ini, APBN selalu menempatkan penerimaan dari minyak dan gas bumi sebagai sumber penerimaan terbesar. Keadaan itu memang sangat masuk akal. Lihat saja produksi minyak bumi Indonesia yang tercatat dalam laporan OPEC (OPEC Annual Statistical Bulletin, 2003). Produksi minyak bumi Indonesia meningkat terus sejak 1983. Produksi minyak bumi Indonesia pada 1983 baru 526,1 ribu barel/hari, tetapi 2003 sudah mencapai 1008,1 ribu barel/hari. Hampir selama 30 tahun "kemakmuran" Indonesia bertumpu pada minyak. Namun, karena itu pula kita mengalami krisis akibat minyak ternyata tidak lagi mampu menopang belanja negara yang makin besar dari tahun ke tahun, termasuk untuk membayar utang yang sudah harus dibayar. Pencabutan subsidi BBM yang dimaksudkan untuk mengurangi defisit karena kenaikan harga minyak dunia, ternyata juga telah menjadikan minyak sebagai penyebab kemunculan krisis dan kemiskinan, bahkan juga konflik walau dengan skala kecil. Sumber Konflik Selain menciptakan kemakmuran, minyak menorehkan sejarah hitam dan menjadi sumber konflik. Sejarah hitam korupsi di Indonesia mulai mencuat karena minyak. Embargo OPEC yang melahirkan uang berlimpah bagi Indonesia telah mendorong korupsi di tubuh Pertamina ketika BUMN tersebut dipimpin oleh Ibnu Sutowo. Kalau konflik AS-Irak dipacu oleh keinginan AS menguasai minyak, maka konflik Indonesia-Malaysia saat ini tidak lepas dari bau minyak. Para politisi boleh mengatakan konflik Ambalat digunakan untuk mengalihkan isu kenaikan harga BBM. Namun sesungguhnya dua kasus yang memanaskan suhu perpolitikan Indonesia tersebut adalah sama, yakni minyak. Di Blok Ambalat diperkirakan ada kandungan minyak 700 juta sampai 1 miliar barel serta gas bumi sekitar 40 triliun kaki kubik. Sebuah kekayaan yang diberikan Tuhan dengan jumlah luar biasa dan bernilai triliunan rupiah. Minyak bumi, setiap orang tahu merupakan sumber daya yang tidak bisa diperbarui. Semua orang juga tahu kita memerlukan minyak dengan segala jenisnya cukup banyak. Konsumsi semua jenis BBM Indonesia sudah lebih dari 304,2 miliar setara barel minyak (SBM)/tahun. Sebagai sumber daya yang tidak bisa diperbarui dan kita masih memerlukan dengan jumlah cukup besar, ada dua langkah yang dapat dilakukan. Pertama, menghemat penggunaannya dan kedua, mencari potensi-potensi baru sumber pemberian Tuhan tersebut serta mengelola secara benar dan efisien. Di banyak negara yang tidak mempunyai sumber daya minyak tersebut dan kebanyakan negara yang sudah maju, harga BBMnya. Selain karena langka, dimaksudkan untuk mengendalikan konsumsi. Pengendalian konsumsi BBM tersebut justru bertujuan membangun kemakmuran bangsa dengan memperbaiki kualitas lingkungan hidup. Harga BBM yang tinggi juga untuk mendorong penemuan baru energi alternatif. Bolehlah kita untuk sementara mengabaikan aspek perbaikan kualitas lingkungan, tetapi tidakkah kita mulai berpikir untuk menghemat konsumsi BBM demi menjaga pemborosan energi yang sangat terbatas sekaligus memikirkan energi alternatifnya? Pertanyaan besar saat ini adalah apakah kenaikan harga BBM mampu mengendalikan konsumsi secara signifikan atau tidak. Selama ini isu kenaikan harga BBM lebih banyak dikaitkan dengan beban APBN dan dampak penyengsaraan serta pemiskinan karena pencabutan subsidi BBM. Walaupun tidak menafikan, isu kenaikan harga BBM saat ini lebih banyak berbungkus politik daripada isu kesejahteraan. Mengapa pemerintah selain menyajikan berbagai argumentasi pencabutan subsidi dan pengurangan dampak negatifnya, tidak menyampaikan apa yang akan dilakukan ke depan dengan peta penggunaan dan sumber-sumber alternatif energi itu, karena akhirnya harga BBM dan energi pada umumnya pasti naik karena tidak dimungkinkan memperbarui sumber daya tersebut? Berapa konsumsi dapat berkurang karena kenaikan harga BBM, serta sumber energi alternatif apa yang akan dikembangkan selaras dengan makin langka sumber-sumber minyak bumi? Sementara itu para pengguna mesti juga berpikir bahwa sumber terbatas tersebut akhirnya akan habis, sehingga kenaikan harga BBM perlu dilihat sebagai upaya mengendalikan konsumsi. Kalaupun konflik Ambalat harus berbuahkan biaya besar untuk mempertahankan sumber minyak, maka akankah minyak tersebut membuahkan kesejahteraan bagi masyarakat yang telah mebiayai pengorbanan tersebut. Ataukah minyak bumi masih akan tetap menjadi media mempertahankan sejarah hitam korupsi di Indonesia? Tampaknya minyak bumi masih tetap akan berada pada isu serta wilayah konflik dan kemakmuran. (Penulis adalah Ketua Laboratorium Studi Kebijakan Ekonomi Fakultas Ekonomi Undip-53) |