| Senin, 14 Maret 2005 | EKONOMI |
Analisis Pasar ModalKomitmen dan Kinerja PerusahaanSETIAP perusahaan atau lembaga yang sudah mendeklarasikan go public dituntut memberikan kinerja yang bernilai tidak hanya bagi lembaganya sendiri, melainkan juga masyarakat luas. Salah satu faktor yang berpengaruh pada upaya peningkatan nilai adalah komitmen organisasional yang tinggi. Ada berbagai tolok ukur untuk melihat pencapaian kinerja. Salah satu di antaranya adalah sejalan yang dikemukakan oleh Denison (2000) bahwa suatu perusahaan dikatakan berkinerja baik dengan tolok ukur berpredikat baik pada: (1) keuntungan, (2) kualitas, (3) inovasi, (4) pangsa pasar, (5) pertumbuhan penjualan, dan (6) kepuasan para karyawannya. Salah satu faktor kunci yang berpengaruh pada upaya peningkatan nilai adalah ada komitmen organisasional yang tinggi. Luthan's (1992) menyatakan komitmen organisasional terdiri atas tiga dimensi, yakni (1) keinginan kuat tetap menjadi anggota organisasi (stakeholder), (2) kemauan besar untuk berjuang dan berusaha bagi organisasi, serta (3) kepercayaan kuat dan penerimaan yang tinggi terhadap nilai serta tujuan organisasi. Faktor umur perusahaan juga merupakan faktor yang memengaruhi kinerja perusahaan. Umur perusahaan dapat menunjukkan kemampuan dalam mengatasi kesulitan dan hambatan yang dapat mengancam kehidupan perusahaan, serta menunjukkan kemampuan perusahaan mengambil kesempatan dalam lingkungannya untuk mengembangkan usaha. Di samping itu, unsur perusahaan dapat menunjukkan kemampuan dalam keunggulan berkompetisi. Dengan demikian makin lama perusahaan berdiri kian menunjukkan eksistensinya dalam lingkungannya dan makin bisa meningkatkan kepercayaan investor. Kesuksesan go public Bank BRI (BBRI) juga ditopang oleh umur lembaga keuangan tersebut yang sudah teruji sedemikian lama. Suatu perusahaan tergolong mempunyai keunggulan dalam berkompetisi (Bharadwaj, 1993) dengan tolok ukur: (1) bernilai, (2) berbeda dari yang lain ke arah yang lebih baik, dan (3) tidak mudah ditiru. Tujuan utama perusahaan, menurut Brigham (1983), adalah meningkatkan nilai perusahaan melalui peningkatan kemakmuran pemilik ata pemegang saham. Nilai perusahaan merupakan harga yang bersedia dibayar oleh calon pembeli andai perusahaan tersebut dijual. Bagi perusahaan yang menerbitkan saham di pasar modal harga saham yang ditransaksikan di bursa merupakan indikator nilai perusahaan. Optimalisasi Upaya mendapatkan posisi unggul diperoleh melalui optimalisasi sumber internal yang dimiliki oleh perusahaan dan optimalisasi sumber eksternal. Penguatan optimalisasi sumber eksternal salah satunya lewat program kemitraan. Sebagai ilustrasi, perusahaan yang berhasil dengan program kemitraan adalah PT Astra Internasional. Perusahaan otomotif Toyota merupakan perusahaan yang terkenal berhasil dengan kualitas produk melalui strategi diferensiasi. Daihatsu terkenal dengan mobil yang terjangkau harganya melalui strategi biaya rendah. Kemitraan antara keduanya menghasilkan Toyota Avanza dan Daihatsu Xenia yang merupakan produk berkualitas dengan harga lebih terjangkau oleh masyarakat. Sejalan dengan yang dikemukakan oleh Jeffrei H Dyer (1997) bentuk kemitraan yang dilakukan berupa sharing atau berbagi informasi dalam mewujudkan produk berkualitas, berbagi informasi tentang produk dengan biaya rendah, dan berbagi informasi dalam manajemen distribusi produk. Seiring dengan keberhasilan dalam penjualan produk nilai sahamnya meningkat. Pada saat kemitraan antara Toyota dan Daihatsu harga saham Astra Internasional (ASII) awal Januari 2004 berada di posisi Rp 5.100/lembar. Kini (10 Maret 2005) harganya naik menjadi Rp 1.900 atau 113,7%. Peningkatan nilai perusahaan juga dapat diukur lewat seberapa besar komitmen dalam mengoptimalkan aset atau nilai bukunya. PT Astra Internasional pada awal 2004 mempunyai nilai buku per saham sebesar Rp 2.831. Dengan harga saham pada waktu itu sebesar Rp 5.100 berarti perbandingan harga saham terhadap nilai buku atau price to book value (PBV) 1,8 kali. Indikasi keberhasilan dalam program kemitraan ditandai oleh aset atau nilai bukunya yang menjadi lebih optimal. Dengan harga saham kini Rp 10.900 berarti perbandingan antara harga saham dan nilai bukunya menjadi optimal lebih dari 3 kali. Hal itu menunjukkan salah satu perwujudan komitmen perusahaan pada pemegang saham. Perbandingan antara harga saham dan nilai buku sebesar 1 menunjukkan komitmen organisasionalnya statis karena kinerjanya berarti sama dengan nilai buku asetnya. Jika angka koefisiennya kurang dari 1 menunjukkan komitmen organisasionalnya degresif. Namun apabila angka koefisiennya lebih dari 1 menunjukkan komitmen organisasionalnya progresif dan berarti nilai sahamnya lebih besar dari nilai bukunya. Demikianlah, makin lama usia perusahaan kinerjanya akan kian meningkat. Namun hal tersebut akan terjadi jika disertai oleh komitmen organisasional yang tinggi. (Dr Sugeng Wahyudi, dosen Jurusan Manajemen Fakultas Ekonomi Undip Semarang-53) |