logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 14 Maret 2005 BUDAYA
Line

Romantika Antareja Mencari Bapak

SEMARANG-Gedung Ki Narto Sabdo di Kompleks Taman Budaya Raden Saleh Semarang (TBRS), Sabtu (12/3) malam lalu, penuh. Sekitar seratus penonton duduk nyaman menyaksikan pertunjukan wayang orang yang dimainkan kelompok legendaris Ngesti Pandawa.

Pertunjukan rutin dan biasa memang. Namun tak seperti biasanya, jumlah penontonnya jauh lebih banyak. Apa lantaran rencana kehadiran Ki Enthus Soesmono? Entahlah. Namun, meski akhirnya dalang eksentrik asal Tegal itu urung hadir, toh mereka tetap enjoy menikmati pertunjukan hingga paripurna.

Malam itu Ngesti Pandawa memainkan "Antareja Takon Bapa", sebuah lakon carangan gagrak Yogyakarta. Lakon tersebut bertutur tentang kisah Antareja yang mencari bapaknya, Wrekudara. Sedari lahir dari gua garba sang ibu Dewi Udang, Antareja belum pernah bertemu dengan ksatria Jodipati itu. Untuk itu, dia bertekat ngawu-awu sudharma (mencari restu).

Sebelum berangkat, sang kakek Batara Baruna, cuma memberi tahu ciri fisik ayahnya, yakni bertubuh tegap sentosa.

Sayangnya, di Keraton Hastinapura, Antareja justru bersua dengan para Kurawa. Dikatakan bahwa ayahnya yang sejati adalah Dursasana. Oleh Drona, dia bahkan diperalat untuk membinasakan para Pandawa. Antareja percaya begitu saja, sebab fisik Dursasana sesuai benar dengan apa yang dikatakan Batara Baruna. Dia pun takzim, dan bersedia memenuhi segala titah "sang ayah".

Pertempuran terjadi. Antareja bertarung dengan para Pandawa, yang berarti pula sesama saudara, baik Gatotkaca, Antasena, dan maupun Wrekudara sendiri. Dalam sebuah pertempuran, Antareja nyaris terbunuh oleh Wrekudara. Dalam situasi kritis, muncul Batara Baruna. Dewa penguasa samudra itu mengingatkan, mereka adalah ayah dan bapak.

Laiknya pakeliran padat, "Antareja Takon Bapa" dimainkan cuma dalam durasi tiga jam. Sepanjang itu, pertunjukan banyak diisi dengan adegan pertempuran dan gara-gara.

Seperti biasa, ikon Ngesti Pandawa yang paling tipikal, Gareng Sumarbagyo, menjadi bintang panggung yang paling ditunggu-tunggu. Dia, dengan humor segarnya, mampu memancing tawa penonton hingga terpingkal-pingkal.

Tak kurang, Bambang Sadono SY yang hadir menyaksikan pertunjukan itu pun dia garap. Ketua DPD Partai Golkar Jateng itu didaulat menyanyikan tembang campursari di atas panggung. (H6-81)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA