| Selasa, 08 Maret 2005 | SALA |
Wali Murid dan Guru Urunan Bikin Radio FMPELAJAR SMP, ternyata bisa menjadi penyiar radio. Ingin bukti? Datang saja ke SMP Negeri 5, Jalan Dr Sutomo, Sragen. Di studio mungil ukuran 3x3 m2 itu, para siswa dilatih guru elektronika, Purwanto, mengoperasikan radio gelombang FM. Mereka, bahkan sudah diajari menjadi penyiar dengan segmen monitor kalangan pelajar. ''Kegiatan mengoperasikan radio, diformat untuk praktikum elektronika,'' tutur Kepala Sekolah, Warjito. Kegiatan operasional dan penyiaran radio di sekolah satndar nasional (SSN) itu sudah berjalan, dengan dukungan berbagai pihak, termasuk Komite Sekolah yang dipimpin Drs Warno. Radio FM itu bekerja pada gelombang 101,8 Mhz. Fungsi radio diarahkan untuk pendidikan, informasi, berita, dan hiburan. Para siswa juga sering mengudarakan lagu-lagu dengan iringan organ tunggal secara live, di auditorium yang berada di samping studio. Meski baru beroperasi, keberadaan radio FM itu sudah menjadi perbincangan kalangan pelajar. Dana Talangan Santi (15), seorang siswi menjelaskan, media radio FM di sekolahnya itu multifungsi. Siswa belajar mendalami penyiaran dan teknologinya; radio juga sering dimanfaatkan sekolah untuk menyiarkan pengumuman kepada siswa. ''Banyak siswa yang rumah tinggalnya di desa-desa bisa memonitor radio milik sekolah itu,'' tuturnya, seraya mengungkapkan radius pancaran radio tersebut mencapai 20 km. Warjito menjelaskan, kali pertama mendirikan radio menghabiskan dana talangan dari rekanan Rp 20 juta. Rencananya, daya pancar radio akan ditingkatkan, dan dikelola secara profesional dengan dana sekitar Rp 100 juta. ''Kami sudah mengurus perizinan, dan sudah ada sejumlah donatur yang menyatakan siap membantu,'' tambahnya. Bagaimana dana operasionalnya? ''Selama ini, dana operasional radio datang dari urunan para guru serta sejumlah orang tua siswa yang mau menyumbang secara suka rela,'' katanya. Kendati radio sudah mengudara, bukan berarti tanpa kendala. Belum lama ini, sejumlah orang tua siswa mengkritik kalau radio FM SMPN 5 sering dan lebih banyak menyiarkan lagu-lagu bertema cinta. Bagi para remaja, tentu senang-senang saja. Tapi bagi orang tua yang ikut mendengarkan, menjadi risih. Karena kritikan itu, lagu-lagu bertema cinta dikurangi porsinya, dan digantikan lagi dengan lagu-lagu daerah bernuansa edukatif. (Anindito AN-92a) |