logo SUARA MERDEKA
Line
Selasa, 08 Maret 2005 SALA
Line

"Saya Tak Tahu ke Mana Sarah Pergi"

SALAH satu ruangan di usaha mandi uap (steambath) Timung yang berada di kawasan Taman Balekambang, Solo tampak lengang. Sejumlah penghuni usaha yang dikelola Sarah Rahayu duduk tercenung di depan A Sugiyanto, suami Sarah. Mereka seakan tidak percaya bahwa majikan dan tiga rekan kerjanya tewas mengenaskan akibat kecelakaan lalu lintas.

Di luar ruangan dan halaman juga tampak beberapa orang berkumpul. Mereka membicarakan soal kecelakaan yang menimpa Sarah Rahayu bersama empat karyawannya, yaitu Rini Suparti (25), Ida Royani Fifi (37), Wiwin Suzana alias Suzan (29) ketiganya pemijat, dan Aris Basuki yang menjadi penerima tamu fasilitas kesehatan jasmani itu.

Saat kecelakaan, dalam mobil taksi Kosti yang ditumpangi enam orang itu hanya Aris yang diketahui masih hidup dan keadaannya kritis sampai dibawa ke rumah sakit. Sementara itu, Sarah dan tiga karyawan perempuannya beserta Joko Suryanto, sopir taksi Kosti, tewas seketika dengan kondisi mengenaskan.

"Saya tidak tahu ke mana dia pergi malam itu. Saya telepon ke sini (Timung) tidak ada jawaban dan ternyata telepon sudah diputus sebelumnya," tutur A Sugianto ketika ditemui Suara Merdeka di Timung, Balekambang, kemarin sore.

Dia tidak menyangka bahwa istrinya akan meninggalkan dirinya dan anak laki-laki mereka, Vian, begitu cepat dengan cara mengenaskan. Selama ini, ujarnya, tidak ada masalah rumah tangga antara Sugianto dan Sarah.

"Tidak ada firasat apa-apa dan saya juga tidak mempunyai perasaan apa-apa. Hanya saya semalam sulit tidur. Sekitar pukul 04.00-04.30 baru bisa tidur. Tiba-tiba pukul 07.53, saya diberitahu Sarah meninggal akibat kecelakaan dari Atik, teman saya dan Sarah."

Dia sebenarnya sudah menyarankan Sarah untuk tidak melanjutkan usaha mandi uap tersebut. Namun, agaknya saran suaminya itu tidak dihiraukan. Sarah mengusahakan lokasi mandi uap Timung belum lama, sekitar September 2004. Ada delapan perempuan yang menjadi pemijat serta seorang karyawan penerima tamu.

"Sekarang saya kos di Jalan H Agus Salim, sedangkan anak kami di Demak," ucapnya.

Meskipun sebagai suami, Sugianto tidak mencampuri usaha yang istrinya. Demikian pula Sarah, tidak mencampuri pekerjaan suaminya. "Saya tidak tahu setelah Sarah meninggal, apakah Timung akan berlanjut atau tidak. Saat ini (kemarin) jenazah Sarah sudah dibawa ke Demak dan akan dimakamkan di sana. Besok (hari ini) sekitar pukul 10.00 akan dikebumikan."

Menurut penuturan seorang karyawan, Dewi, begitu mendengar Sarah mengalami kecelakaan, mereka semua mendampingi A Sugianto menjenguk korban di rumah sakit. Mereka seakan tidak percaya begitu melihat kondisi korban. Hampir semua korban mengalami luka parah di beberapa bagian tubuhnya dan nyaris sulit dikenali.

Ketua RT 5 RW 31 Perumahan Mojoasri, Kelurahan Mojosongo, Jebres Heribertus Adi Waluyo mengemukakan, Sarah Rahayu pernah tinggal di perumahan tersebut sejak lima tahun silam. Dia tinggal di rumah nomor 1A yang jaraknya hanya beberapa meter dari kediaman Heri.

Namun sekitar enam bulan lalu, Sarah dan suaminya beserta anak semata wayangnya meninggalkan rumah yang dikontraknya. Keluarga kecil itu pindah tanpa memberitahu secara resmi pada aparat terkait. Heri tidak mengetahui ke mana keluarga itu pindah atau alasannya.

Lantaran belum ada surat keterangan pindah, lanjut Heri, secara administratif mendiang masih menjadi warga setempat. Bahkan, Dedi, kemenakan A Sugianto yang kebetulan berdiam di kompleks yang sama juga tidak diberitahu alasan kepindahan keluarga kecil itu. Rumah bercat kuning itu pun dibiarkan kosong sejak enam bulan lalu. Kabar terakhir, Sarah bercerai dengan suaminya dan bekerja di tempat pemijatan Timung.

Kabar kematian Sarah Rahayu, warga Perumahan Mojoasri Nomor 01A, RT 5 RW 31, Kelurahan Mojosongo, Kecamatan Jebres belum didengar sang kemenakan, Dedi, ataupun para tetangga lainnya ketika Suara Merdeka mengecek ke alamat tersebut.

Begitu mendengar kabar itu, beberapa warga yang pernah dekat dengan mendiang langsung berupaya mencari tahu dengan menghubungi kerabat Sarah yang pernah mereka kenal. Sahabat dekat Sarah, Lani, juga berupaya mencari tahu dengan menghubungi kediaman keluarga Sarah yang berada di Demak. Dia tak berhenti bertanya perihal penyebab kecelakaan nahas yang merenggut nyawa sahabatnya itu. Kebingungan terlihat dari wajahnya yang keruh serta menyiratkan duka. (sri,G18, G19,san-80j)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA