| Selasa, 08 Maret 2005 | PANTURA |
"Terpilih Sujud Syukur Sekali, Tidak Terpilih 3 Kali ..."PEKALONGAN - Masalah pendidikan anak usia sekolah rupa-rupanya menjadi sorotan bagi para balon Wali Kota Pekalongan, termasuk di antaranya dokter HM Basyir Ahmad S yang mencalonkan diri lewat Partai Golkar. Menurut dia, program pemerintah mengenai pendidikan sembilan tahun sangat perlu sekali. Sebab, untuk bisa menciptakan generasi muda yang handal, mereka harus melewati masa pendidikan sembilan tahun. "Jangan sampai ada anak yang putus sekolah ketika menginjak bangku SMP hanya gara-gara tidak mempunyai biaya sekolah," ujar alumni Fakultas Kedokteran Undip Semarang tahun 1981, ketika mengadakan dialog dengan anggota Forum Masyarakat Katolik Indonesia (FMKI) Pekalongan di ruangan aula Paroki Pekalongan. Bagaimana seandainya masih ada anak yang putus sekolah karena masalah keuangan?. Dengan tegas Basyir mengatakan, seandainya dirinya terpilih dan hal itu sampai terjadi, kepala sekolah yang akan dipanggil dan ditegur. Seandainya teguran tersebut tidak diindahkan dan masih ada salah satu siswa yang putus sekolah karena tidak dapat membayar biaya sekolah, maka kepala sekolah tersebut akan dipecat. Hal ini dilakukan karena dirinya menganggap bahwa pendidikan sangat penting. "Beri kesempatan kepada anak usia sekolah yang memiliki kemampuan lebih untuk dapat bersekolah kembali. Jika masih ada kepala sekolah yang tidak dapat mengatasi permasalahan ini, saya akan memecatnya," tandas dia disambut tepuk tangan para tamu undangan. Selanjutnya, Direktur RS Siti Khodijah Pekalongan ini mengungkapkan, agar tidak terjadi hal demikian, diharapkan biaya uang gedung sekolah tingkat lanjutan tidak terlalu mahal. Selain itu, tiap sekolah jangan sampai memberatkan siswa, yakni setiap tahun ajaran baru berganti buku pelajaran. Dihadapan puluhan anggota FKMI pimpinan M Barlim Subardjo yang hadir dalam acara tersebut, balon wali kota dari Partai Golkar ini juga menyinggung soal kesejahteraan masyarakat, khususnya masalah jaringan pengaman sosial (JPS). Menurut Basyir, bagi rumah sakit yang menerima pasien JPS jangan sampai membeda-bedakannya. Maksudnya, pasien JPS yang menderita penyakit cukup serius, misalnya katarak mata, harus mendapatkan perawatan yang sama. Sebab pasien JPS merupakan pasien yang tidak mampu sehingga membutuhkan bantuan dari pemerintah. Lebih jauh bapak dua petre dan puteri ini memaparkan, dalam mencalonkan sebagai menjadi wali kota, dirinya tidak terlalu ngoyo. Sebab pencalonannya tersebut bukan untuk mencari kekuasaan, melainkan keadilan. Bagi Basyir, keadilan merupakan nomor satu sehingga harus ditegakkan dan dilaksanakan oleh masyarakat. "Jika terpilih menjadi wali kota, saya akan bersyukur satu kali dan merasa prihatin. Sebaliknya, jika tidak terpilih saya akan sujud syukur tiga kali karena tidak terbebani," papar dia. (H4-34m) |