| Selasa, 08 Maret 2005 | WACANA |
tajuk rencanaKetika Ongkos Giling Padi Naik- Ongkos giling padi naik 25 persen per kg terjadi di daerah Banyumas. Kenaikan ongkos ini terjadi karena seretan kenaikan harga BBM beberapa saat lalu. Tentu petani mengeluh karena tak bisa menikmati harga beras yang sebenarnya pada posisi sedang menguntungkan. Seandainya ongkos giling tidak naik, petani bisa menikmati harga kering panen Rp 1.400/kg. Padahal harga sebelumnya yakni hasil panen Oktober 2004 hanya sekitar Rp 1.100/kg. Jadi, perbedaan harganya mencapai Rp 300/kg. Seandainya ongkos giling tidak naik, lumayanlah untung didapat. Tetapi, karena kenaikan itu diserap langsung untuk ongkos giling, maka petani tak mendapatkan apa yang diharapkan itu. Untuk kesekian kalinya petani terkena langsung dampak dari kebijakan nonpertanian. - Sebenarnya investasi di bidang pertanian padi sawah sudah lama tidak terlalu menguntungkan. Dalam satu musim tanam, petani hanya mendapatkan keuntungan yang amat sedikit karena harga telah dipangkas habis oleh biaya produksi. Harga pupuk, upah tanam, faktor kehilangan dalam proses produksi, meningkatnya biaya distribusi dan tentu saja ongkos giling telah menjadikan keuntungan yang didapatkan amat rendah. Petani tidak mempunyai banyak pilihan produk selain padi untuk memberikan nilai tambah lebih pada lahannya. Itulah yang memang mereka bisa, dan itulah barangkali satu-satunya pilihan yang dianggap paling rasional. Setidak-tidaknya jika harga rendah, akan dikonsumsi sendiri untuk jangka waktu tertentu. - Bukan hanya petani padi yang tertimpa masalah itu. Petani bawang merah pun nasibnya tak lebih baik. Untuk lahan seluas 0,8 hektare (1 bahu), keuntungan bersih tak sampai Rp 1,8 juta dalam satu musim tanam yang umurnya sekitar 2 bulan. Artinya pendapatan satu bulan Rp 900.000. Dengan angka ini kita juga mendapatkan gambaran riil bahwa nasib petani satu dengan lainnya tidaklah jauh berbeda. Petani kentang pun nasibnya tidaklah jauh berbeda. Maka, jika kita lihat dari masa ke masa, relatif tidak ada perubahan yang berarti pada nasib kaum petani itu. Sementara di sisi yang lain, kehidupan masyarakat kita sangat tergantung pada kemampuan produksi mereka. Jika panen melimpah harga rendah, panen gagal masyarakatnya yang mengeluh. - Di dalam proses produksi itu, ketergantungan petani terhadap pupuk kimia makin tak terelakkan. Maka, sering disebut bahwa sistem pertanian kita itu boros pupuk, sehingga biaya produksi menjadi tidak efisien lagi. Di sisi yang lain, petani tentu juga berbagai alasan tidak lagi bisa menggunakan pupuk nonkimia. Pertama, karena faktor kebiasaan yang sudah bertahun-tahun. Kedua, pupuk nonkimia tidak tersedia dalam jumlah besar. Dan ketiga, pupuk nonkimia bereaksi relatif lebih lamban. Kultur dan perilaku petani agak susah untuk dikembalikan lagi ke pertanian yang bersifat alamiah. Pilihan seperti ini menimbulkan risiko, biaya produksi tinggi karena meningkatnya harga pupuk sering tidak secara otomatis meningkatkan harga gabah. - Nasib petani juga banyak ditentukan oleh pedagang besar karena sebenarnya mekanisme pasar beras banyak ditentukan oleh mereka ini. Pedagang besar dengan enak menentukan harga beli. Mereka mengeringkan, kemudian menggiling, dan mendistribusikan sendiri ke pasar besar Jakarta misalnya. Jika mereka tidak mendapatkan untung dari harga beras itu, masih bisa mendapatkan keuntungan dari biaya distribusi. Nah, keuntungan dari distribusi skala besar inilah yang menjadikan pedagang besar tetap menjadi penentu harga beras itu. Diakui atau tidak, sebenarnya inilah mekanisme yang sebenarnya terjadi. Di sisi yang lain, petani melulu memproduksi tetapi tidak memiliki kemampuan lain. Itulah nasibnya sejak dulu hingga kini. - Dan saat ini perdagangan beras makin aktif, grosir maupun pengecer sibuk memupuk persediaan beras seiring dengan meningkatnya permintaan pasar. Harga pasaran beras kualitas menengah atas cenderung terangkat mengikuti kenaikan harga beras kualitas rendahan. Pergerakan harga seperti ini sebenarnya sangat menguntungkan petani, tetapi tidak demikianlah yang terjadi. Mereka korban kesekian akibat kenaikan harga BBM. Sebentar lagi dipastikan harga pupuk juga naik karena biaya produksi juga naik. Dalam situasi seperti ini, kita lalu bertanya-tanya mengenai strategi pembangunan yang konon kabarnya berbasis pertanian. Di atas kertas mereka kita anggap strategis, tetapi pada kenyataan nasib mereka belum banyak berubah. Inilah barangkali wajah kelu sektor pertanian kita saat ini. |