logo SUARA MERDEKA
Line
Selasa, 08 Maret 2005 WACANA
Line

tajuk rencana

Sanggupkah Kita Mengungkap Kematian Munir?

- Misteri kematian aktivis hak asasi manusia (HAM) Munir belum juga terungkap. Mungkin banyak di antara kita yang sudah lupa karena tak banyak dibicarakan lagi di media massa. Banyak hal lain yang menyusul dan tentu tak kalah seru. Sekarang berita aksi penolakan kenaikan harga BBM banyak mewarnai halaman depan surat kabar. Liputan media massa baik cetak maupun elektronik tentang TKI ilegal dan juga sengketa antara Indonesia dan Malaysia memperebutkan Blok Ambalat seakan-akan mencoba mengalihkan perhatian masyarakat. Isu demi isu saling susul dan dengan cepat berganti. Wajar bila soal kematian Munir yang masih menjadi tanda tanya besar itu menjadi terlupakan. Padalah demi penegakan hukum dan juga menjaga citra di mata dunia, kasus itu haruslah bisa diungkap.

- Perkembangan kasus kematian Munir menjadi makin menarik karena Tim Pencari Fakta (TPF) yang dibentuk pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono telah menemukan beberapa fakta dan indikasi baru yang sangat menarik. Misalnya tentang dugaan keterlibatan manajemen PT Garuda Indonesia dalam kasus pembunuhan Munir. Dugaan terjadinya pembunuhan demikian kuat karena hasil autopsi menunjukkan kematian itu disebabkan oleh kandungan zat racun arsenik dalam jumlah dan kadar yang mematikan. Racun itu dimasukkan dalam makanan yang disajikan kru Garuda pada saat almarhum terbang dari Jakarta menuju Amsterdam. Keyakinan itu makin diperkuat oleh catatan medik Munir yang tidak memiliki penyakit serius selama ini.

- Orang menduga Munir dibunuh dan motifnya bukanlah masalah pribadi. Mungkin saja dia sengaja dibunuh karena dianggap terlalu vokal dalam memperjuangkan HAM sehingga dapat bersinggungan dengan beberapa institusi. Benarkah dia menjadi korban atau sasaran pembunuhan terencana. Cerita itu makin misterius dan membuat orang makin penasaran untuk mengungkap bagaimana kejadian yang sebenarnya. Indikasi keterlibatan institusi tidak hanya melibatkan Garuda Indonesia, tetapi juga disebut-sebut Badan Intelijen Negara (BIN). Jelas kita tak boleh menduga tanpa dasar. Sudah ada bukti-bukti pun masih perlu diuji di pengadilan sehingga haruslah tetap dipegang asas praduga tak bersalah. Yang penting janganlah kasus ini dipetieskan.

- Lagi-lagi kredibilitas SBY-Kalla diuji. Sudah ditegaskan bahwa pemerintah bertekad untuk mengungkap kasus ini sampai benar-benar ada kejelasan dan kemudian ada tindakan hukum bagi pelakunya. Tetapi haruslah diakui banyak pihak tidak terlalu optimistis akan keberhasilannya. Jangankan kasus kematian Munir. Kematian wartawan Udin saja sampai sekarang belum ada titik terang. Apalagi kalau benar ada latar belakang politis di balik kematian Munir sehingga boleh dikatakan ini bukan kasus biasa. Justru semua itu hendaknya dijadikan cambuk bagi TPF untuk bekerja lebih keras lagi. Juga menjadi tantangan bagi pemerintah untuk membuktikan sekarang eranya sudah berubah sehingga tak ada lagi sesuatu yang bisa ditutup-tutupi.

- Jadi judul di atas bukanlah pertanyaan yang sekadar bernada provokatif, karena kita benar-benar ingin mempertanyakan. Dan kesanggupan itu rasanya tergantung pada seberapa kuat tekad kita dan seberapa serius langkah itu. Karena berdasarkan temuan TPF sudah banyak indikasi baru yang bisa segera ditindaklanjuti. Syaratnya, semua pihak dapat membantu dan mendukung. Bukan sebaliknya justru terkesan menutup diri atau bahkan menghalang-halangi. Sejauh ini manajemen Garuda dianggap belum kooperatif sehingga malah dicurigai ada apa di balik semua itu. Kita tahu Garuda adalah maskapai penerbangan milik negara sehingga bukan tidak mungkin ini melibatkan institusi yang lebih besar. Daripada harus menduga-duga, maka lebih baik segera menuntaskan penyelidikannya.

- Apakah kasus ini akan mengalami nasib sama dengan kasus kematian Udin? Sebuah pertanyaan besar yang belum bisa dijawab sekarang. Kita perlu mengingatkan agar lebih serius, sungguh-sungguh, dan konsisten karena semua ini juga akan berpengaruh terhadap pencitraan Indonesia di mata internasional. Munir adalah aktivis pejuang HAM yang sudah dikenal di dunia. Sementara itu pemerintahan baru juga perlu membuktikan janji-janjinya. Kalau sampai tidak bisa ditemukan siapa pelakunya menjadi sulit untuk menghapus kecurigaan adanya kesengajaan dan rekayasa di balik semua itu. Bukankah berbagai indikasi sudah ditemukan dan arahnya makin jelas. Kita perlu terus mengawalnya agar tidak segera tertelan oleh masalah-masalah besar lainnya.


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA