logo SUARA MERDEKA
Line
Selasa, 08 Maret 2005 NASIONAL
Line

Dari Kretek sampai Kereta Tua

KAWASAN pantai utara Jateng juga menyimpan sejuta kisah masa lalu, dan laik diabadakan dalam museum. Dan, begitulah kenyataannya, banyak museum yang berdiri di kawasan strategis ini. Salah satu di antaranya Museum Kretek di Desa Getas Pejaten, Kecamatan Jati, Kudus -sekitar 3 km dari arah selatan pusat kota.

Museum ini menyajikan koleksi barang-barang yang berkaitan dengan industri rokok sejak masa lalu hingga sekarang. Bahkan aktivitas para karyawan, mulai dari penanaman dan pengeringan tembakau, pengolahan bahan baku (tembakau, cengkeh, dan klobot), hingga proses pelintingan dan pemasaran produk juga dapat dilihat di sini, melalui diorama-diorama yang menarik.

Selain itu dipamerkan pula sejumlah peralatan tradisional dan mesin modern. Dengan demikian. museum ini mempunyai tiga fungsi sekaligus, yaitu menjadi sarana pendidikan, sarana penelitian, serta sarana rekreasi. Ide awal pembangunan museum ini datang dari Soepardjo Rustam, gubernur yang cukup inovatif ketika itu. Salah satu alasannya, meski dijuluki sebagai Kota Kretek, Kudus belum memiliki simbol apa pun yang dapat menguatkan julukan tersebut.

Pada 3 Oktober 1986, museum yang berdiri di atas lahan seluas dua hektare ini diresmikan sendiri oleh Pak Pardjo, yang ketika itu sudah promosi menjadi Mendagri. Bangunannya cukup indah dan megah. Di bagian depan kompleks museum terdapat dua bangunan terpisah, yaitu rumah adat dan surau khas Kudus.

Sedangkan bagian dalam museum dipenuhi aneka patung karya seniman setempat, serta beragam artefak yang terkait dengan industri rokok. Sebagai salah satu objek kunjungan wisatawan, termasuk kaum pelajar, pengelola menyediakan beberapa fasilitas standar seperti lahan parkir, warung makan, taman beristirahat, wartel, dan toilet.

Saat memasuki museum, kita akan disambut ''perempuan'' bercaping yang dikelilingi empat kawan senasib. Mereka adalah para pekerja yang sedang memeragakan proses pembuatan rokok kretek secara manual, mulai dari proses nglinting hingga menyortir. Namun jangan salah sangka, para pekerja itu bukanlah manusia yang sesungguhnya, melainkan patung-patung dalam diorama.

Museum Kartini

Dari Kudus, kita dapat meneruskan perjalanan menuju Rembang melalui Pati. Boleh juga mampir ke Jepara dulu, baru kemudian ke Rembang. Di dua daerah ini terdapat museum yang hampir identik, yaitu Museum RA Kartini. Bedanya, museum di Rembang sering disebut sebagai Kamar Pengabdian Kartini.

Pahlawan emansipasi wanita kelahiran Mayong, Jepara, ini memang menghabiskan hari-hari terakhirnya di Rembang, di mana suaminya -RM Adipati Djojoniningrat- saat itu menjadi bupati (1889-1912). Oleh karena itu, kamar pengabdiannya di Jalan Gatot Subroto 8 tidak lain merupakan bagian dari kompleks rumah dinas bupati, dan tetap lestari sampai sekarang.

Di kamar inilah RA Kartini sering menghabiskan waktunya dengan menulis. Juga merawat RM Susalit, anak tunggalnya. Tidak heran jika di museum ini terdapat sejumlah tulisan tangan Kartini, serta bak mandi untuk bayi. Bothekan tempat jamu, kotak jahitan, meja makan, hingga lukisan tiga ekor angsa karya Kartini bisa disaksikan pula di tempat itu.

Sedangkan di Jepara, Museum RA Kartini juga menempati salah satu bangunan di kompleks rumah dinas bupati. Pasalnya, ia merupakan putri Adiipati Ario Sosroningrat, yang menjadi bupati pada akhir abad ke-19. Semua koleksi Kartini di masa kecil, juga beberapa tulisan tangannya saat remaja, dapat dinikmati penuh kekaguman.

Semarang, baik daerah kota maupun kabupaten, juga memiliki beberapa museum. Yang agak baru adalah Museum Rekor Indonesia (Muri) di Jl Setiabudi 179. Karena selalu mencetak dan mendokumentasi catatan rekor / atau prestasi luar biasa, Muri justru lebih dikenal masyarakat Indonesia ketimbang Museum Mandala Bhakti, Museum Ronggowarsito, atau Museum Jamu Nyonya Meneer di Jalan Kaligawe.

Sepur Lempung

Ambarawa memang tidak termasuk kawasan pantura. Mengingat lokasinya tak jauh dari Semarang, ia bisa dirangkaikan dengan kawasan pantura dalam jejaring wisata museum.

Dengan dukungan objek-objek lain seperti Rawapening, Kopeng, Bandungan, dan Candi Gedongsono, tak heran jika museum-museum di Ambarawa sering dikunjungi para wisawatan. Dua museum yang menonjol di sini adalah Museum Kereta Api dan Museum Isdiman yang menyatu dengan Monumen Palagan Ambarawa.

Sedangkan Museum Kereta Api sebenarnya merupakan stasiun yang lama tidak difungsikan. Di sana ada sekitar 20 jenis lokomotif tua buatan Belanda, Inggris, Jerman, dan Swiss, yang di masa lalu sering disebut sepur lempung. Tapi pengunjung amat menikmati pelayanan di museum ini, misalnya bisa berjalan-jalan dengan menggunakan kereta uap dari stasiun, yang berjalan di rel bergerigi.

Selain itu, selama dalam perjalanan di atas rel itu, kita dapat menikmati pemandangan alam yang indah dan melintasi hawa yang sejuk. Semua ini bukan hanya menyegarkan batin pengunjung, melainkan juga menambah wawasan tentang kehidupan di masa lalu.(48)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA