| Selasa, 08 Maret 2005 | NASIONAL |
Kasus Kematian Munir (2-Habis)Pramugari Pesawat Garuda Sempat Kaget
TIDAK percuma, dari sejumlah saksi yang dipanggil dan dimintai keterangan penyidik Mabes Polri, ada titik terang yang bisa mengungkap siapa pelaku pembunuhan aktivis HAM dan pendiri Kontras, Munir. Namun polisi harus mencari bukti-bukti lain yang bisa lebih menguatkan keterangan saksi yang berinisial AS, yang belajar di Frankruf, Jerman. Hasil pemeriksaan pada saksi AS, yang duduk tepat di depan Munir, diduga kru Garuda mengetahui penyebab kematian Munir, yaitu akibat makan mi yang dihidangkan saat pesawat terbang dari Jakarta menuju Singapura. Mereka diduga mengetahuinya sesaat setelah Munir dinyatakan meninggal. Kesimpulan itu diambil setelah tim teknis Belanda dari Badan Reserse dan Kriminal (Bareskrim) Mabes Polri memeriksa warga negara Indonesia berinisial AS. Ketua tim teknis Belanda yang dikirim Bareskrim, Kombes Anton Charlian, menjelaskan, AS adalah penumpang yang duduk di kursi 2C, di depan Munir. Dari keterangan AS diketahui sesaat setelah Munir dinyatakan meninggal, seorang pramugari bertanya kepada seluruh penumpang. "Siapa yang mengonsumsi mi seperti yang dimakan Munir," kata Anton. Menurut Anton, AS yang kemudian mengaku makan mi seperti yang dimakan Munir. Pramugari kaget ketika tahu AS ternyata tidak apa-apa. "Waktu itu kru Garuda tidak memerintahkan dokter memeriksa AS," ujar Anton. Menurut Anton, AS mengenal pramugari yang bertanya kepada seluruh penumpang tersebut. Namun seorang karyawan Garuda yang menumpang pesawat yang sama dengan Munir saat diracun, membantah kesaksian AS. Karyawan Garuda yang tak ingin disebutkan namanya itu mengaku tak mengetahui orang berinisial AS dalam penerbangan G-974 dengan rute Jakarta-Amsterdam itu. Menurut Kombes Anton Charlian, AS adalah penumpang di kursi 2C yang memakan mi goreng yang sama dengan Munir saat penerbangan. AS bersaksi kepada polisi bahwa pramugari Garuda kemungkinan mengetahui, arsen yang meracuni Munir kemungkinan berasal dari menu mi goreng yang disajikan. Namun, menurut karyawan Garuda, pada pesawat Boeing 747 tidak ada kursi bernomor 2C. Di baris kedua hanya ada kursi 2A, 2B, 2J, dan 2K. Sedangkan di depan Munir yang duduk di 3K, ada seorang karyawan Garuda yang duduk di kursi 2J, bernama Joseph. "Yang aku ingat, (yang duduk) di situ (3J), Joseph. Dia pegawai Garuda yang mau dinas entah ke mana," ujar sumber, Kamis (3/3). Selama perjalanan dari Jakarta ke Singapura, dia juga tidak melihat adanya pertanyaan dari pramugari kepada para penumpang, tentang siapa saja yang memakan mi goreng selama perjalanan. Sementara Anton menambahkan, di samping itu, AS juga sempat melihat Munir berbicara dengan dua penumpang pria di Bandara Changi, saat pesawat sedang transit. Dua orang pria itu menurut AS adalah penumpang satu pesawat dengan Munir. "Karena AS melihat dua pria tersebut masuk ke dalam pesawat bersama Munir," kata Anton. Namun, menurut Anton, AS tidak bisa mengidentifikasi ciri-ciri kedua pria tersebut, karena AS melihat mereka dari jarak yang jauh. "AS juga tidak mengetahui posisi tempat duduk kedua pria tersebut," ujarnya. Panggil Pilot Tim Pencari Fakta (TPF) DPR dalam kasus pembunuhan Munir belum mengambil kesimpulan dan masih memperdalam berbagai temuan dan kecurigaan yang muncul dalam perkembangan kasus itu. Salah satu langkah yang sudah diputuskan adalah memanggil Polycarpus, seorang pilot senior Garuda yang diduga terkait kasus Munir Senin (7/3). Hal itu diungkapkan Slamet Effendy Yusuf (Fraksi PG) dari TPF DPR. Dia belum dapat mengungkapkan sejauh mana temuan mereka setelah Kamis malam melakukan pertemuan tertutup dengan jajaran Direksi Garuda yang dipimpin dirutnya, Indra Setuawan. Dalam keterkaitan dengan jajaran Garuda ini, Slamet menyatakan, TPF DPR menemukan banyak kejanggalan yang masih harus dipelajari. Seperti diungkapkan Ketua TP Kasus Munir, Maesudhi Hanafi, jajaran direksi PT Garuda Indonesia terindikasi kuat terlibat dalam kasus kematian Munir dalam perjalanan dari Singapura ke negeri Belanda, September tahun lalu. Menurutnya, hasil investigasi TPF memperoleh bukti materil kuat bahwa pejabat Garuda telah melakukan persekongkolan. Pada bagian lain Slamet mengakui, sampai saat ini TFP DPR belum mengambil sebuah kesimpulan, namun baru sebatas kecurigaan-kecurigaan terhadap pihak-pihak yang diindikasikan terlibat dalam kasus kematian Munir. Slamet mengatakan, selain Polycarpus, TFP DPR juga akan memanggil atasan langsung Polycarpus, dan kru Garuda yang diperiksa di Belanda, karena ditemukan banyak kejanggalan terkait dengan kapan persis waktunya pihak Garuda mengetahui Munir akan ke Belanda, termasuk di dalamnya mengapa Polycarpus memilih sendiri tugas ke Singapura bersamaan dengan penerbangan Munir ke Belanda. "Keanehan-keanehan dan kejanggalan itulah yang akan terus kami dalami," ungkap Slamet. Soal Tersangka Walaupun banyak dugaan yang diarahkan kepada Garuda, Kapolri Da'i Bachtiar mengakui belum dapat menetapkan tersangka dalam kasus ini. "Pada waktunya kalau sudah siap kita akan tetapkan tersangka, tapi karena masih perlu keterangan lain kita harus mengumpulkan keterangan sampai selesai," kata Kapolri. Menurutnya, penyelidikan dan pemeriksaan saksi masih berjalan, termasuk memeriksa saksi di Belanda dan saksi yang terkait dengan penerbangan almarhum Munir. "Kita mengumpulkan keterangan saksi secara lengkap, terutama saksi yang terkait dengan penerbangan almarhum Munir," katanya. Dari sisi pemeriksaan forensik, dia mengatakan, Munir meninggal selama dalam penerbangan. Da'i juga menjelaskan, almarhum Munir bertemu seorang pria berambut gondrong di Bandara Changi. "Itu harus dicari lagi," katanya. Sementara itu, Direktur I Keamanan Transnasional Bareskrim Polri Brigjen Pranowo Dahlan menjelaskan, belum ditetapkannya tersangka karena bukti material pembunuhan mantan aktivis LSM Imparsial tersebut belum didapat penyidik Polri."Hukum di Indonesia menuntut bukti material, siapa pelaku yang memasukkan cairan racun, kapan, di mana, dan siapa saksinya. Dan itu belum ditemukan," katanya. Mengenai seseorang pria gondrong yang terlihat berbicara dengan Munir di Bandara Changi, kata Pranowo, keterangan keberadaan pria tersebut muncul dari kesaksian Asrini, yang duduk di kursi 2C, tepat di depan Munir, dalam penerbangan Garuda GA 974 dari Jakarta-Singapura-Amsterdam. Pranowo tidak bersedia menyebut nama pria berambut gondrong itu, namun memastikan polisi akan segera memeriksanya. Menurut Pranowo memang ada indikasi beberapa pihak seperti Garuda Indonesia menutup-nutupi kejadian pembunuhan Munir yang terjadi di pesawat Garuda. Indikasi itu di antaranya kejanggalan surat tugas Polycarpus yang ternyata baru ditandatangani Direksi PT Garuda Indonesia jauh hari setelah penerbangan, yaitu pada 17 September 2004. Padahal penerbangannya 6 September 2004. Polisi pun menjadi curiga terhadap mereka (direksi dan karyawan Garuda), tetapi itu tidak cukup dijadikan alat bukti. Sementara itu, Hendardi, salah seorang anggota Tim Pencari Fakta (TPF) Kasus Munir, menyatakan TPF memang telah merekomendasikan beberapa nama yang layak jadi tersangka. "Tujuan kita sebenarnya ingin mempercepat penyidikan," kata Hendardi. Istri almarhum Munir, Suciwati, mengaku sedikit optimistis pelaku pembunuh suaminya bisa terungkap, terutama dengan aktifnya tim pencari fakta. "Kasus ini harus diusut tuntas, jangan hanya menangkap pelakunya, tapi pemikir atau dalangnya juga ditangkap," tambah Suciwati. Sementara seorang sumber yang juga anggota TPF DPR RI menyatakan kekhawatirannya atas perkembangan kasus kematian Munir. Anggota Tim Investigasi DPR ini menilai, kasus tersebut hanya akan berakhir dengan Pollycarpus menjadi tumbal bagi para pelaku lainnya. "Anggota tim DPR yakin Pollcarpus hanyalah aktor, sedangkan yang harus kita bongkar adalah mata rantai di belakang Pollycarpus," katanya. Menurutnya, kasus pembunuhan Munir bukanlah pekerjaan satu orang tetapi sudah dirancang sebelumnya. "Yang penting adalah menangkap otak di belakang layar. Dan dari hasil pertemuan Kamis malam (3/3), jelas direksi (Garuda) menyembunyikan sesuatu," ungkapnya. Dia juga mengaku kecewa atas direksi PT Garuda yang terkesan menutup-nutupi kasus ini. "Tidak ada hal baru yang kami dapatkan pada pertemuan kemarin. Banyak sekali jawaban yang diberikan direksi, bagi saya pribadi sangat mengada-ada," jelasnya. "Sebagai contoh, alasan penugasan Pollycarpus sebagai Internal Security adalah yang bersangkutan dianggap sudah senior. Memangnya Garuda sudah kelebihan pilot," lanjutnya. Menurut sumber, kasus kematian Munir hanya dapat dipecahkan jika tim penyidik berhasil mengorek keterangan dari dewan direksi PT Garuda. "Tidak ada lagi gunanya memeriksa Pollycarpus, biarlah dia ditangani oleh Tim Keppres (Tim Investigasi Bentukan Presiden SBY), tapi kita jelas akan memanggil direksi Garuda lagi," imbuhnya. Rencananya, Pollycarpus akan dimintai keterangan oleh TPF DPR pada Senin (7/3) mendatang, pukul 19.00 WIB. "Tapi melihat kenyataan kemarin, saya akan menghubungi Pak Taufik (Ketua Tim Investigasi) agar membatalkannya," katanya.(Bambang Usdeky HP-58t) | ||||