logo SUARA MERDEKA
Line
Selasa, 08 Maret 2005 INTERNASIONAL
Line

Suriah Mundur ke Selatan Bulan Ini

DAMASKUS - Pasukan Suriah, yang mendapat tekanan internasional untuk meninggalkan Lebanon, akan mundur ke daerah selatan bulan ini. Damaskus dan Beirut kemudian akan memutuskan berapa lama pasukan Suriah akan berada di wilayah selatan itu, kata pemimpin kedua negara yang menyepakati rencana itu, Senin kemarin.

Menyusul protes-protes anti-Suriah di Beirut, Presiden Suriah Bashar al-Assad hari Sabtu lalu mengatakan di akan menarik tentaranya, namun Damaskus tetap akan memainkan peran di negara tetangganya itu.

Assad bertemu Presiden Lebanon Emile Lahoud di Damaskus, kemarin, dan pernytaaan yang dikeluarkan menyebutkan mereka sepakat tentang rencana penarikan dua tahap.

Rencana tersebut tidak menetapkan jadwal penarikan penuh. AS menuntut penarikan segera tentara dan agen-agen intelijen Suriah.

Prancis dan Jerman kemarin bersama-sama menyerukan agar Suriah segera menarik tentaranya.

"Kami berharap Suriah menarik tentara dan pasukan keamanannya secara penuh dan secepatnya," kata kedua negara dalam deklarasi bersama di KTT antara Kanselir Gerhard Schroeder dan Presiden Jacques Chirac.

Bongkar Peralatan

Saat Assad dan Lahoud bertemu, tentara Suriah yang berbasis di kota-kota pegunungan Lebanon, Mdairij, Soufar, dan Aley, membongkar peralatan komunikasi atau perlengkapan militer barang milik personel di truk-truk militer, kata saksi mata.

Tentara Lebanon di truk-truk menunggu dekat pos militer Suriah di Dahr al-Wahsh di timur Beirut saat tentara Suriah bersiap-siap pergi, lanjut mereka.

Assad dan Lahoud mengatakan mereka menghormati seluruh resolusi Dewan Keamanan PBB, termasuk yang menuntut Suriah meninggalkan Lebanon, serta Perjanjian Taif. Perjanjian itu mengakhiri perang saudraa Lebanon dan menetapkan penarikan Suriah dari sebagian besar bagian negara itu.

Suriah sebelumnya menyatakan mematuhi Perjanjian Taif sama saja dengan melaksanakan resolusi PBB.

AS bersikap waspada terhadap rencana Assad tersebut. Gedung Putih, Minggu lalu, berjanji meningkatkan tekanan bagi penarikan total dan segera tentara dan pasukan keamanan Suriah.

"Masyarakat internasional tidak akan berpangku tangan dan membiarkan Assad terus mengambil langkah-langkah setengah hati," kata penasihat Gedung Putih Dan Bartlett.

Pertimbangkan Sanksi

Namun satu-satunya kelompok bersenjata dan paling berpengaruh di Lebanon, Hizbullah, menyerukan protes-protes damai hari ini, untuk mendukung Suriah dan memperingatkan penganiayaan jika tentara Suriah hengkang.

"Tujuan Amerika dan Israel adalah menyebarkan kekacauan di Lebanon dan mengizinkan intervensi asing," kata Ketua Hizbullah Syekh Hassan Nasrallah pada konferensi pers Minggu lalu.

Dibentuk oleh Garda Revolusioner Iran pada 1982, Muslim Syiah Hizbullah merupakan satu-satunya faksi Lebanon yang angkat senjata. Kelompok itu memperoleh popularitas besar setelah membantu mengusir tentara Israel dari Lebanon selatan pada 2000. Washington menyatakan faksi itu sebagai kelompok teroris.

Washington menuntut Suriah melepaskan cengkeraman politik dan militernya di Lebanon sebelum pemilihan, yang diperkirakan Mei mendatang.

"Saya kira tidak ada skenario yang memungkinkan pemilihan yang adil, bebas, nyata, dan jujur jika kehadiran Suriah terus menjadi faktor intimidasi di Lebanon," kata Bartlett.

Presiden AS George W Bush sedang mempertimbangkan sanksi-sanksi sepihak baru, termasuk pembekuan aset-aset Suriah, kata sejumlah pejabat AS. Washington tengah membahas "langkah-langkah selanjutnya" dengan sekutu-sekutu Eropa-nya.

Menlu Arab Saudi Pangeran Saud al-Faisal menyambut baik pengumuman Suriah akhir pekan lalu itu. Saudi pekan lalu mendesak Suriah agar mulai menarik tentaranya.

"Yang dibutuhkan Lebanon adalah mereka tidak memberikan kesempatan kepada pembuat masalah kembali ke Lebanon," kata Pangeran Saud kepada televisi satelit Al Arabiya.

Media Lebanon melaporkan, janji Suriah untuk menarik tentaranya merupakan langkah bersejarah untuk membuka babak baru setelah 30 tahun dominasi Suriah. Oposisi Lebanon dan para pemimpin Eropa dengan hati-hati menggambarkan langkah itu sebagai positif.

Suriah berada di Lebanon sejak intervensi dalam perang saudara pada 1976 dan kini memiliki sekitar 14.000 tentara di negara itu, berkurang dari 40.000.

Damaskus mendapat tekanan yang meningkat dari Lebanon, Arab, dan sejumlah negara lain agar menarik pasukannya setelah pembunuhan mantan PM Lebanon Rafik al-Hariri bulan lalu. Suriah membantah tuduhan terlibat dalam pembunuhan tersebut.

Hizbullah, yang gerilyawannya menguasai perbatasan selatan Lebanon, menyatakan tidak berniat meletakkan senjata - resolusi PBB menuntut militer Lebanon memperluas kekuasaannya di seluruh wilayah negara itu.

"Perlawanan ini tidak akan menyerahkan senjatanya, karena Lebanon membutuhkan perlawanan untuk mempertahankan diri," kata Nasrallah. (rtr-niek-46)

Lima Fakta tentang Damaskus

Tentara Suriah intervensi dalam perang saudara di Lebanon pada 1976, setahun setelah perang pecah, untuk mencegah kekalahan milisi Kristen sayap kanan atas aliansi Palestina dan faksi-faksi sayap kiri dan muslim. Pada Oktober tahun itu, Suriah, Arab Saudi, dan Mesir membentuk pasukan gabungan dengan 30.000 personel, yang sebagian besar Suriah, untuk memulihkan perdamaian.

Israel melancarkan invasi besar-besaran ke Lebanon pada 1982 setelah menduduki wilayah selatan selama empat tahun. Suriah dipaksa mundur ke Lembah Bekaa, Lebanon selatan, setelah Israel merebut Beirut dan mengangkat sekutu Kristen ke tampuk kekuasaan. Namun pasukan Suriah kembali ke Beirut pada 1987 untuk mengakhiri pertempuran antarkelompok muslim.

Pada Agustus 1990, parlemen mengesahkan Perjanjian Taif sebagai undang-undang, yang merupakan konstitusi baru Lebanon, dan mengurangi kekuasaan minoritas Kristen. Rencana itu ditujukan pada oposisi Kristen karena kelompok itu gagal menjamin penarikan tentara Suriah. Oposisi malah menyerukan agar Suriah mengerahkan kembali 40.000 tentaranya ke Lembah Bekaa, kemudian jadwal penarikan penuh dirundingkan antara Damaskus dan Beirut.

Antara tahun 2000, ketika Israel mundur dari Lebanon selatan, dan saat ini, Suriah telah mengerahkan kembali atau menarik tentara lima kali. Jumlah tentara dikurangi menjadi 14.000, dan sebagian besar bergerak dari wilayah Beirut. Gerakan-gerakan tentara itu hanyalah kosmetik karena aparat intelijen dan keamanan masih berada di Lebanon, memperkuat kontrol politik, militer, dan ekonomi Suriah atas tetangganya yang lebih kecil.

Pada September 2004, parlemen mengubah konstitusi untuk memperpanjang masa jabatan Presiden Emile Lahoud dukungan Suriah selama tiga tahun lagi. Perpanjangan itu dibarengi dengan meningkatnya tekanan Suriah meski banyak ditentang. Beberapa menteri mundur, termasuk PM Rafik al-Hariri sebulan kemudian. Sebelumnya, oposisi pimpinan Kristen atas kehadiran Suriah makin meluas. Satu resolusi PBB disahkan untuk menuntut Suriah menarik tentaranya dari Lebanon. Hariri tewas dalam bom mobil bulan lalu.

Pada 5 Maret lalu, Presiden Bashar al-Assad mengumumkan bahwa Suriah akan menarik secara bertahap tentaranya dari Lebanon.(rtr-niek-46)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA