logo SUARA MERDEKA
Line
Selasa, 08 Maret 2005 INTERNASIONAL
Line

"Saya Bukan Saddam Hussein"

WASHINGTON - Presiden Suriah Bashar al-Assad, yang mendapat tekanan untuk menarik pasukannya dari Lebanon, menekankan dia tidak seharusnya dibandingkan dengan Saddam Hussein dan dia ingin bekerja sama dengan tuntutan internasional, demikian wawancara yang disiarkan Minggu.

Assad mengatakan kepada majalah Time, Suriah mengalami penderitaan paling besar akibat tewasnya mantan PM Lebanon Rafik al-Hariri.

Ketika ditanya siapa yang membunuh Hariri, Assad mengatakan kepada majalah mingguan itu, "Pertanyaan yang paling penting adalah, siapa yang untung dari peristiwa itu?"

"Sebagai presiden, saya tidak bisa memberi tahu Anda negara ini atau itu. Namun siapa yang paling menderita? Suriah. Suriah adalah pihak yang paling menderita. Lebanon, secara pasti, mereka menderita. Namun Suriah lebih menderita lagi," jelasnya.

Pada akhir wawancara itu, yang diadakan pekan lalu, Assad mengatakan, "Tolong kirim pesan ini: Saya bukan Saddam Hussein. Saya ingin bekerja sama."

Oposisi Lebanon menyalahkan ledakan 14 Februari yang menewaskan Hariri pada pemerintah Beirut pro-Suriah dan Damaskus. Pembunuhan itu mengarah pada seruan-seruan oleh Prancis dan AS terhadap Suriah agar menarik 14.000 tentaranya dari Lebanon.

Pihak oposisi juga menggelar protes umum besar-besaran yang mengakibatkan runtuhnya pemerintah Lebanon dukungan Suriah pada Senin lalu.

Dalam kutipan-kutipan wawancara yang disiarkan pekan lalu, Assad mengatakan, Suriah akan menarik pasukannya dari Lebanon.

Time melaporkan, Pemerintah Suriah kemudian merevisi pernyataan Assad itu dengan mengatakan, presiden Suriah itu berbicara tentang kepatuhan pada perjanjian Taif 1989, yang menetapkan penarikan mundur pasukan Suriah ke arah Lembah Bekaa, namun tidak menetapkan jadwal bagi penarikan penuh.

Assad sebelumnya pernah menyatakan, AS kemungkinan akan menyerang negerinya. Namun, dia tidak yakin serangan itu akan dilakukan segera.

"Washington telah memberlakukan sanksi atas kami dan mengisolasi kami di masa lalu, namun setiap kali kami selalu jadi sasaran," kata Assad.

"Jika ditanyakan kepada saya apakah akan ada serangan bersenjata dari AS, saya sudah mengetahuinya sejak berakhirnya perang di Irak. Sejak saat itu, ketegangan terus meningkat," tambahnya.

"Cepat atau lambat mereka akan menyadari bahwa kami adalah kunci bagi tercapainya solusi. Kami sangat penting untuk proses perdamaian, bagi Irak. Barangkali, suatu hari nanti Amerika akan datang dan mengetuk pintu kami," kata dia.

"Sesungguhnya, reaksi AS malah memperburuk keadaan dan terutama sekali, masalah stabilitas. Dari Damaskus hingga Jerusalem sampai Islamabad dan Kabul, ada satu fron rekrutmen panjang untuk teror," ujarnya.

Assad, Sabtu lalu, mengumumkan Suriah akan menarik pasukannya ke arah perbatasan Suriah, namun dia tidak menyebutkan jadwal bagi penarikan penuh pasukan Suriah dari Lebanon.(ant-46)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA